aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Ideologi dan Sepakbola

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 6, 2006

Beberapa hari yang lalu ketika orang tua saya mengirim uang untuk sesuatu keperluan melalui saya, tiba-tiba muncul perasaan ganjil dan bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya, saya pertanyakan hal tersebut kepada orang tua saya mengenai jumlah uang yang dikirimkan memang sudah tidak sesuai dari kesepakatan. Orang tua saya mengatakan hendaknya kelebihan beberapa puluh ribu tersebut (maaf, saya tidak menjelaskan jumlah nominal sebenarnya) dipergunakan untuk membeli bendera. Sontak keterkagetanku muncul dan langsung saja kupotong “Bendera? Kan, bendera merah putih kita masih ada dan tersimpan dengan rapi tanpa bercak sedikitpun, koq beli lagi?”. Tak lama kemudian penjelasan disisi ujung telfon membuatku tertawa selebar-lebarnya, “apa gak salah!” timpalku. Ternyata, orang tuaku sengaja memberikan dana yang tak seberapa untuk membeli bendera tim kesayanganku yang masuk putaran final dan akan berlaga di perhelatan dunia untuk memperebutkan penghargaan supremasi dibidang sepakbola antar negara-bangsa.

Tiba-tiba, imajinasi nakalku segera muncul…. ah, aku tak tahu pabila orang Papua memasang bendera Belanda atau yang lainnya di Timika dengan maksud yang sama dengan masyarakat diwilayah nusantara yang bersukacita menyambut event akbar ini pastilah aparat TNI dan POLRI segera bereaksi cepat. Dalam pikiran mereka pastilah ada intervensi asing setelah sempat berkibarnya bendera bintang kejora dan beberapa kasus yang melibatkan Australia. Ah, bualan aneh-aneh namun secara serius lagi pikiran ini memberikan alternatif lain mengenai sepakbola yang memang menjadi media bagi pergolakan atas dasar keyakinan ideologi serta sebuah pengharapan yang sangat besar terhadap masa depan…… memang sepak bola adalah segala-galanya.

Melalui judul “Memahami dunia lewat sepak bola; Kajian tak lazim tentang sosial-politik globalisasi karya Franklin Foer dan diterjemahkan Alfinto Wahhab mencoba menjelaskan tentang “sepak bola yang bukan sekadar olahraga dan bisa menjadi alat untuk memahami seluk-beluk dunia kontemporer yang dilanda segala dampak arus globalisasi. Apa kaitan sepak bola dengan pembantaian Muslim Bosnia? Dengan budaya korupsi di Dunia Ketiga? Dengan bangkitnya sentimen-sentimen rasial dan konflik keagamaan? Dengan Zionisme maupun anti-Semitisme? Mengikuti perjalanan jurnalis politik Franklin Foer menyusuri jagad internasional sepak bola, bertemu dengan orang pertama yang melahirkan aksi-aksi hooligan, berkumpul dengan intelektual bawah tanah Italia pendukung Internazionale Milan, mengamati bagaimana falsafah El Barca penting untuk memulihkan konsep nasionalisme inklusif maupun citra sepak bola itu sendiri, serta segudang penelusuran memukau lainnya yang wajib dibaca oleh setiap penggemar bola maupun pengamat isu-isu sosial-politik” demikian sekilas tulisan yang coba ditawarkan oleh penerbit marjin kiri.

Tentunya kita tahu bahwa ideologi sangat merasa aman berlindung dibalik kekuatan sepakbola. Ideologi yang telah kalah dan dikalahkan mencoba bertahan dalam konteks globalisasi. Bukan berarti saya juga ikut membela semua ideologi yang ada dan bersembunyi tersebut akan tetapi perlu kiranya memahami bahwa sepakbola adalah kekuatan yang sangat besar bagi pembuktian kelompok minoritas dan kalah tersebut. Ideologi fasisme dan rasisme sendiri sekarang kembali tumbuh subur setelah era 80-an dan bangkit perlahan-lahan untuk kembali merealisasikan janji-janjinya. Tak lupa, bagaimana ‘derby’ antara rival sekota Internazionale Milan yang kaum borjuis dan aristokrat dengan AC Milan yang milik kelas bawah, berbeda asal muasalnya dalam hal kepemilikan. Namun, kini hal itu mulai bergeser, ingatan itu muncul saat Internazionale Milan memberikan bantuan bagi kelompok EZLN Chiapas-Mexico; Zapatista untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan sepak bola disaat kelompok Sub Comandante Marcos itu menjadi musuh tentu saja tak terlepas dari peranan intelektual bawah tanah Internazionale Milan itu sendiri. Kita pun takkan lupa bagaimana kemenangan Iran atas Amerika dipiala dunia lalu dan berdampak sangat besar secara psikologis dan kebanggaan nasionalisme Arab. Pembantaian yang pernah menjadi sejarah kelam di bekas negara Federasi Yugoslavia diteruskan dalam bentuk persaingan dengan sesama bekas pecahan lainnya seperti Serbia, Montenegro, Kroasia, Bosnia, Slovenia, dan Macedonia. Apalagi nasionalisme Catalan yang semakin terangkat berkat kemenangan Barcelona menjuarai Champions League tahun ini dan ingin dapat kebebasan layaknya Inggris memberlakukannya pada Skotlandia, Walles dan lainnya serta yang jelas tidak mengikuti Basque, paling tidak seperti Quebec nafasnya. Belum lagi, kemenangan Sevilla di UEFA CUP kemarin sangat berarti sekali mengingat sebuah club kecil yang sahamnya mayoritasnya dimiliki oleh pendukungnya lebih berjaya dibandingkan Chelsea atau Manchester United yang dibaliknya berdiri seorang milyuner. Anak-anak Brasil dan seluruh penjuru dunia yang menginginkan bisa seperti Ronaldo yang tenar dan kaya dengan kemampuan mengocek bola namun apa daya.. seleksi alam mengharuskan hanya beberapa dari berjuta-juta anak-anak rakyat miskin sedunia yang bisa mewujudkan mimpi indah itu.

Akhh… ku tak mau memperpanjang lebar hal ini, yang pasti aku tidak mau memasang bendera jagoanku diatas atap, bukan berarti aku tak berani naik keatas atap atau kesetrum dan takut jatuh tetapi dari awal aku tidak terlalu suka saja dengan budaya baru berupa ‘kegilaan’ satu nusantara yang memasang bendera jagoannya sampai puncak menara sutet, kan selera orang berbeda-beda. Satu hal yang pasti, setiap sepak bola yang berlaga tim favoritku, kupastikan tak seorang pun yang boleh mengangguku, tidak juga kau… ah, kasihan nanti yang menjadi pendamping hidupku, ibu dari anak-anakku. Lonjakan kegirangan nan ekspresif berupa teriakan sebanding dengan pergumulan pasangan kekasih di ranjang penuh peluh menurutku dan tatkala bola menyentuh net gawang memberi kepuasan, begitu juga jika timku kalah, sangat mempengaruhi hidupku sehari itu. Sudahlah, sekarang saya hanya mendukung negara Inggris dan Spanyol serta Belanda… negara-2 yang secara historis memang penjajah dunia dan negeri ini pernah menjadi koloni, tak berubah agar diriku ini bisa kembali berwatak realis dan agresif.

Saya mau menambahkan sedikit saja, apakah ada yang mengetahui iklan terbaru Coca Cola yang memperlihatkan antara dua kutub yang selama ini berlawanan yakni si penindas dan si tertindas yang disatukan dan dapat bergandengan tangan saat melihat dan mendengar pertandingan sepak bola. Itulah ekspresi dan letak pertikaian sebenarnya dimana kedamaian hanya terjadi saat sepakbola dilangsungkan, setelah itu? Mari bermain peran lagi…

Ditulis dalam Ideologi | Leave a Comment »

Buku Itu Mahal

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 6, 2006

Sekarang harga buku mahal sekali dan banyak yang tidak dapat membeli. Padahal sekarang masyarakat sudah mulai haus akan bacaan dan ide-ide alternatif dan kritis serta tidak lagi terbebani oleh stigma kiri dsb. Saya sendiri sebisa mungkin tidak pergi ke toko buku walau sekedar cuci mata karena bisa berdampak buruk bagi diri diantaranya gampang ngiler dan menumbuhkan budaya konsumerisme. Memang masalah kapitalisme cetak sungguhlah menjadi masalah pelik mengingat harga kertas yang cukup mahal menyebabkan banyak penerbit mencari celah agar masyarakat tetap memiliki daya beli dan tercerahkan serta tidak menggulung penerbit itu sendiri.

Menurut Ronny Agustinus dari redaksi marjin kiri; “Kami tidak bisa mengutak-atik harga kertas, itu jelas. Dua buku pertama terbitan kami memakai kertas CD (seperti kertas buram) & banyak juga yang komplain karena tidak terasa seperti buku serius. Kami terus mencari kertas yg banyak dipakai kawan2 penerbit Yogya, CD impor Kanada, tapi mustahil ditemukan di Jakarta. Konon kabarnya –saya tidak tahu kebenarannya–ini kertas selundupan, dan kabarnya pula, di Yogya pun sudah semakin menyusut stoknya”. Saya sendiri ketika pertama kali membeli buku yang kertasnya buram langsung jengkel namun sesaat kemudian saya baru berpikir hal yang sudah diungkapkan oleh Bung Ronny Agustinus tadi. Harapan saya sih, pemerintah mau ikut peduli dengan masalah ini diantaranya dengan menurunkan harga kertas agar kami bisa memiliki daya beli lagi.

Apalagi persaingan antara penerbit sekarang sudah sangat kompetitif dengan banyaknya buku yang beredar dipasaran, saya yang melihat banyak sekali buku baru per bulannya tinggal mengelus dada karena anggaran yang sudah sengaja saya alokasikan per bulan hanya mampu membeli beberapa buku saja. Tingkat kompetisi yang cukup baik di kalangan penerbit dan daya beli masyarakat yang menurun dapat menghancurkan industri penerbitan dan saya harap hal ini tidak terjadi karena bukan saya saja yang rugi namun juga masyarakat secara umum khususnya mereka yang masih sekolah alias menuntut ilmu.

Kebijakan penetapan buku pelajaran yang tiap tahun ajaran selalu berganti sampai kemampuan perpustakaan yang disediakan pemerintah masih sangat minim terasa sangat memberatkan. Semoga tak terjadi tapi apa mau dikata, kenyataannya sekarang terjadi… kita protes yuk sama pemerintah, ok!

Ditulis dalam Konsumerisme | Leave a Comment »

Bencana Peradaban

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 27, 2006

Sekali lagi bencana merenggut korban
Setelah Tsunami, Banjir, Longsor serta semua letusan
Perih hati melihat manusia bergelimpangan
Peristiwa memilukan, derita yang tak kunjung terbalaskan

Tuhan,
Apakah benar bencana adalah azab dari kenistaan kami serta cobaan tanpa henti
Apakah benar bangsa ini memang sudah lama berpaling darimu dan penuh dengki
Mengapa selalu korban terbanyak adalah kami yang tak berpunya dan merana
Mengapa selalu saja pihak yang disalahkan rakyat yang tak bertahta dan tak berdosa

Pemimpin,
Setelah kau ku pilih tak pernah lagi merealisasikan janji
Saat ku membutuhkanmu kau tak pernah mau peduli
Ketika kami hanya berharap padamu, dirimu laksana besi jeruji
Kesangsian salah memilihmu hilang saat 5 tahun lagi kembali kau berlagak suci

Dewan,
Kalian berlagak sebagai penyelamat namun ternyata hewan
Kami kau wakili berlagak teman ternyata untuk kolusi menikmati korupsi
Meski kami selalu kau selingkuhi dan sakiti tak pernah sedikit berani kami melawan
Memaafkan diri kami sendiri salah mempercayai dianggap sebagai langkah terpuji

Peradilan,
Rasa cemas melihat berbagai kasus kau masukkan di peti kemas
Tanpa sekalipun daku melihat keadilan telah ditegakkan
Ragam kepalsuan kau tampilkan agar tampak beres
Tapi kebusukan tubuh dan hatimu telah kau kembangbiakkan

Preman,
Sudah kau tunjukkan bahwa kau memang berani dan memiliki nyali
Mewakili ikatan primordialis, agamis, seksis, rasis, dan memang fasis
Siapa saja yang memiliki nurani kau habisi dengan dalil illahi
Melindungi yang membeli, menjadi milisi dan antek militerisi berlagak polisi

Pengamanan,
Diriku selalu ingin bertanya pada dirimu yang tegap dan bersenjata lengkap
Kegiatan bisnis, berpolitik, membuat konflik dan melanggar HAM dianggap sebagai peran
Darimu aku menduga banyak darah tumpah dalam sejarah yang tak terungkap
Kendati kerap saja kalian selalu merasa berasal dari rakyat dan mengaku para pahlawan, akhirnya jadi nama jalan

Agamawan,
Kalian hamba Tuhan yang kami segani
Kumpulan merpati yang suka peduli pada kami
Tetapi merasa ikut memecahkan masalah dengan tampil di tivi
Tentu juga suka mendekatkan diri dengan penguasa dan jadi alat pelegitimasi

Pemodal Global tanpa akhiran -an,
Tak pernah ku duga badanmu begitu menggurita
Tak juga ku sangka tentakelmu mampu menghisap jiwa manusia
Seluruh budaya dan nafas alam ini telah kau rasuki gayamu melalui nilai-nilai
Semua kehidupan sudah kau kuasai dan kami pun mempercayai

Teman,
Apakah memang hidup ini tidak adil sekali dan penuh kreasi basi
Apakah keserakahan dan nafsu amarah menjadi prioritas tertinggi
Mengapa penghisapan, penindasan dan eksploitasi dianggap ekspresi manusiawi
Mengapa akhirnya kami hanya menjadi kuli di negeri sendiri

Kawan,
Bangsa ini katanya sabar walau menderita penyakit sektarian yang parah dan kronis
Nusantara ini sumber dayanya kau biarkan dirampas tanpa kompensasi dan sudah mulai habis
Keberagaman kami ditelan sadis budaya kapitalis dan sudah terkikis
Kebersamaan dan toleransi tak lagi digubris oleh ciri individualistis, kami pun akhirnya jadi pengemis

Dari:
Hewan seperti setan yang tak berperasaan
Tak mampu berdamai dengan sejarah
Hanya memperkaya perspektif bagi anak cucu serta masa depan
Saat negara menghindari tanggung jawab

Ditulis dalam Puisi Negeri | 2 Komentar »