Beberapa hari yang lalu ketika orang tua saya mengirim uang untuk sesuatu keperluan melalui saya, tiba-tiba muncul perasaan ganjil dan bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya, saya pertanyakan hal tersebut kepada orang tua saya mengenai jumlah uang yang dikirimkan memang sudah tidak sesuai dari kesepakatan. Orang tua saya mengatakan hendaknya kelebihan beberapa puluh ribu tersebut (maaf, saya tidak menjelaskan jumlah nominal sebenarnya) dipergunakan untuk membeli bendera. Sontak keterkagetanku muncul dan langsung saja kupotong “Bendera? Kan, bendera merah putih kita masih ada dan tersimpan dengan rapi tanpa bercak sedikitpun, koq beli lagi?”. Tak lama kemudian penjelasan disisi ujung telfon membuatku tertawa selebar-lebarnya, “apa gak salah!” timpalku. Ternyata, orang tuaku sengaja memberikan dana yang tak seberapa untuk membeli bendera tim kesayanganku yang masuk putaran final dan akan berlaga di perhelatan dunia untuk memperebutkan penghargaan supremasi dibidang sepakbola antar negara-bangsa.
Tiba-tiba, imajinasi nakalku segera muncul…. ah, aku tak tahu pabila orang Papua memasang bendera Belanda atau yang lainnya di Timika dengan maksud yang sama dengan masyarakat diwilayah nusantara yang bersukacita menyambut event akbar ini pastilah aparat TNI dan POLRI segera bereaksi cepat. Dalam pikiran mereka pastilah ada intervensi asing setelah sempat berkibarnya bendera bintang kejora dan beberapa kasus yang melibatkan Australia. Ah, bualan aneh-aneh namun secara serius lagi pikiran ini memberikan alternatif lain mengenai sepakbola yang memang menjadi media bagi pergolakan atas dasar keyakinan ideologi serta sebuah pengharapan yang sangat besar terhadap masa depan…… memang sepak bola adalah segala-galanya.
Melalui judul “Memahami dunia lewat sepak bola; Kajian tak lazim tentang sosial-politik globalisasi karya Franklin Foer dan diterjemahkan Alfinto Wahhab mencoba menjelaskan tentang “sepak bola yang bukan sekadar olahraga dan bisa menjadi alat untuk memahami seluk-beluk dunia kontemporer yang dilanda segala dampak arus globalisasi. Apa kaitan sepak bola dengan pembantaian Muslim Bosnia? Dengan budaya korupsi di Dunia Ketiga? Dengan bangkitnya sentimen-sentimen rasial dan konflik keagamaan? Dengan Zionisme maupun anti-Semitisme? Mengikuti perjalanan jurnalis politik Franklin Foer menyusuri jagad internasional sepak bola, bertemu dengan orang pertama yang melahirkan aksi-aksi hooligan, berkumpul dengan intelektual bawah tanah Italia pendukung Internazionale Milan, mengamati bagaimana falsafah El Barca penting untuk memulihkan konsep nasionalisme inklusif maupun citra sepak bola itu sendiri, serta segudang penelusuran memukau lainnya yang wajib dibaca oleh setiap penggemar bola maupun pengamat isu-isu sosial-politik” demikian sekilas tulisan yang coba ditawarkan oleh penerbit marjin kiri.
Tentunya kita tahu bahwa ideologi sangat merasa aman berlindung dibalik kekuatan sepakbola. Ideologi yang telah kalah dan dikalahkan mencoba bertahan dalam konteks globalisasi. Bukan berarti saya juga ikut membela semua ideologi yang ada dan bersembunyi tersebut akan tetapi perlu kiranya memahami bahwa sepakbola adalah kekuatan yang sangat besar bagi pembuktian kelompok minoritas dan kalah tersebut. Ideologi fasisme dan rasisme sendiri sekarang kembali tumbuh subur setelah era 80-an dan bangkit perlahan-lahan untuk kembali merealisasikan janji-janjinya. Tak lupa, bagaimana ‘derby’ antara rival sekota Internazionale Milan yang kaum borjuis dan aristokrat dengan AC Milan yang milik kelas bawah, berbeda asal muasalnya dalam hal kepemilikan. Namun, kini hal itu mulai bergeser, ingatan itu muncul saat Internazionale Milan memberikan bantuan bagi kelompok EZLN Chiapas-Mexico; Zapatista untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan sepak bola disaat kelompok Sub Comandante Marcos itu menjadi musuh tentu saja tak terlepas dari peranan intelektual bawah tanah Internazionale Milan itu sendiri. Kita pun takkan lupa bagaimana kemenangan Iran atas Amerika dipiala dunia lalu dan berdampak sangat besar secara psikologis dan kebanggaan nasionalisme Arab. Pembantaian yang pernah menjadi sejarah kelam di bekas negara Federasi Yugoslavia diteruskan dalam bentuk persaingan dengan sesama bekas pecahan lainnya seperti Serbia, Montenegro, Kroasia, Bosnia, Slovenia, dan Macedonia. Apalagi nasionalisme Catalan yang semakin terangkat berkat kemenangan Barcelona menjuarai Champions League tahun ini dan ingin dapat kebebasan layaknya Inggris memberlakukannya pada Skotlandia, Walles dan lainnya serta yang jelas tidak mengikuti Basque, paling tidak seperti Quebec nafasnya. Belum lagi, kemenangan Sevilla di UEFA CUP kemarin sangat berarti sekali mengingat sebuah club kecil yang sahamnya mayoritasnya dimiliki oleh pendukungnya lebih berjaya dibandingkan Chelsea atau Manchester United yang dibaliknya berdiri seorang milyuner. Anak-anak Brasil dan seluruh penjuru dunia yang menginginkan bisa seperti Ronaldo yang tenar dan kaya dengan kemampuan mengocek bola namun apa daya.. seleksi alam mengharuskan hanya beberapa dari berjuta-juta anak-anak rakyat miskin sedunia yang bisa mewujudkan mimpi indah itu.
Akhh… ku tak mau memperpanjang lebar hal ini, yang pasti aku tidak mau memasang bendera jagoanku diatas atap, bukan berarti aku tak berani naik keatas atap atau kesetrum dan takut jatuh tetapi dari awal aku tidak terlalu suka saja dengan budaya baru berupa ‘kegilaan’ satu nusantara yang memasang bendera jagoannya sampai puncak menara sutet, kan selera orang berbeda-beda. Satu hal yang pasti, setiap sepak bola yang berlaga tim favoritku, kupastikan tak seorang pun yang boleh mengangguku, tidak juga kau… ah, kasihan nanti yang menjadi pendamping hidupku, ibu dari anak-anakku. Lonjakan kegirangan nan ekspresif berupa teriakan sebanding dengan pergumulan pasangan kekasih di ranjang penuh peluh menurutku dan tatkala bola menyentuh net gawang memberi kepuasan, begitu juga jika timku kalah, sangat mempengaruhi hidupku sehari itu. Sudahlah, sekarang saya hanya mendukung negara Inggris dan Spanyol serta Belanda… negara-2 yang secara historis memang penjajah dunia dan negeri ini pernah menjadi koloni, tak berubah agar diriku ini bisa kembali berwatak realis dan agresif.
Saya mau menambahkan sedikit saja, apakah ada yang mengetahui iklan terbaru Coca Cola yang memperlihatkan antara dua kutub yang selama ini berlawanan yakni si penindas dan si tertindas yang disatukan dan dapat bergandengan tangan saat melihat dan mendengar pertandingan sepak bola. Itulah ekspresi dan letak pertikaian sebenarnya dimana kedamaian hanya terjadi saat sepakbola dilangsungkan, setelah itu? Mari bermain peran lagi…