Rencana mempostingkan hasil tulisan-tulisan selama long wiken menjadi tertunda disebabkan monitor kompiku tutup usia. Walau perasaan jengkel berkecamuk didalam diri dengan sedikit mengumpat, kutenangkan hati dan pikiranku sejenak….. sambil menunggu rencana jahatku muncul. Aha, kayaknya monitornya ex pacarku bisa neeh kupindahin ke kost sampai monitor ini bisa sembuh setelah kubawa ke tukang ketok magic…. ups, lho koq@#***
Bebex dan Kucing
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 10, 2006
Saat sedang blogwalking di blognya bebexxx, kulihat kucing-kucing kesayangannya sedang dipamerkan dengan berbagai macam tentunya. Tanpa emosi, datar kuucapkan “byebye cattje!”. Dahulu, semenjak kecil di Balikpapan, aku memelihara kucing walau kemudian sempat diusir kala itu karena masih balita, diriku sudah mengidap alergi terhadap bulu kucing, poshugo, kata orang manado. Ketika SD, SMP sampai dengan SMU-pun, aku masih memelihara kucing bahkan pernah pada suatu ketika, tepatnya diriku berumur 4 SD membawa beberapa kucing kecilku untuk di kebiri, alias diambil testisnya agar kucingku nantinya jinak (saat dewasa baru sadar, tindakan ini tidak saja penundukkan majikan terhadap budak peliharaannya akan tetapi juga tidaklah ada bedanya dengan pemotongan klitoris pada perempuan guna membatasi kenikmatannya dan inilah penjajahan kaum patriarkhi di Arab atas nama agama). Hal ini kulakukan berulang-ulang sampai akhirnya diriku kena batunya mungkin kurang hati-hati, anak kucing itu menggigitku. Untuk mengantisipasi rabies dan penyakit lainnya yang dapat ditimbulkan akhirnya aku dibawa ke dokter. Tak lama berselang setelah itu, saat aku bermain di tempat teman, aku digigit lagi oleh monyet. Bukannya sakit itu yang kukeluhkan akan tetapi satu hal yang paling kubenci yakni jarum suntik!.
Ditulis dalam Terserah | 2 Komentar »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 10, 2006
Ternyata, dalam segala hal diriku telah melupakan hal mendasar sesuai dengan anjuran Marx dalam tesis kesebelas terhadap Feuerbach: “Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert, es kommt aber darauf an, sie zu veranderen” (Para filsuf telah menafsirkan dunia hanya secara berbeda-beda, namun yang terpenting adalah mengubah dunia itu). Bertindaklah aridhant, bertindaklah!!!
Ditulis dalam Psikoanalisis | 1 Komentar »
Kabut Asap
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 10, 2006
Berita mengenai pembakaran lahan dan hutan tiap tahunnya yang mulai memasuki musimnya pada tahun ini kembali menyisakan kenangan menyedihkan mengenai masa-masa SMA-ku di Palangkaraya. Bukan karena ditempat itu pulalah nyawaku hampir saja melayang yang disebabkan kecelakaan sepeda motor akibat ngebut, bukan itu melainkan karena ditempat itu pulalah, diriku mengalami fenomena mengherankan bagiku yakni kabut asap. Hal ini sangatlah baru bagiku, tak pernah kulihat dengan mata kepala sendiri sebelumnya, kabut asap itu hanya berjarak pandang 1 meter saja disiang hari bolong.
Pada awal kemunculan kabut asap, dipagi hari hawa justru sangat dingin layaknya berada di pegunungan seperti yang kurasakan saat berada di Langowan dan Tomohon, di Minahasa sehingga ketika sampai di sekolah, alis, dagu maupun wilayah sekitar kumis ada es-nya. Namun, setelah berselang beberapa minggu, hal tersebut tidak pernah lagi terjadi justru pakaian yang berwarna putih seluruhnya berubah menjadi warna kuning meskipun sudah direndam oleh pemutih sekalipun dan hawa dingin itupun telah digantikan oleh hawa panas berkarbondioksida. Oleh karenanya, tanpa bermaksud untuk mengutuk daerah yang ada pembakaran lahannya sehingga menghasilkan kabut asap namun hendaknya pemerintah bersungguh-sungguh didalam menangani kejadian ini.
Dalam laporan yang disampaikan oleh Walhi maupun beberapa dokumen yang dipublikasikan oleh LSM lokal, kejadian ini yang dahulunya dilakukan oleh masyarakat setempat untuk membuka lahan justru sekarang sudah didominasi oleh korporasi-korporasi yang memang mendapatkan keuntungan berlebih dari hal ini. Tanpa mengeluarkan ongkos sesen pun seperti ongkos pemotongan rumput dsb, lahan-lahan yang akan ditanami kembali dibakar guna musim tanam berikutnya. Lahan yang terletak di Kalteng, Jambi dan Riau sendiri merupakan tanah gambut yang hanya menyiram api diatas permukaan tanah tidaklah cukup karena bara api masih hidup didalam tanah. Itulah sebabnya mengapa hanya dengan air saja untuk mematikan nyala api tidaklah cukup, perlu juga jeruji besi dihotel prodeo guna memenjarakan pemilik lahan yang rata-rata dikuasai oleh korporasi!.
Ditulis dalam Kehutanan | Leave a Comment »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 10, 2006
Saya memang tipe manusia yang suka bermimpi, bukan mimpi yang kudapatkan tatkala tertidur pulas, bukan! Mimpi semacam itu sangat jarang terjadi pada diriku. Mimpi yang kuinginkan kurasa juga dialami oleh mereka yang selalu mendambakan taman surgawi dunia yang damai, bebas dari logo dan iklan, perbedaan sebagai rahmat dan kemakmuran adalah hal yang bukan lagi mimpi namun sudah terjadi. Bagaimana bisa hal diatas terjadi jika watak dasar manusia sebagai penindas dan eksploitatif selalu dikembangkan?. Penyadaran kawan, sadarkan mereka!.
Ditulis dalam Psikoanalisis | Leave a Comment »
Lumpur Emangnya Bencana?
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 10, 2006
Tak lama lagi musim hujan kembali menyapa kota ini sementara luapan Lumpur yang ditangani oleh PT Lapindo sampai dengan saat ini belum ada hasilnya sama sekali. Tak bisa kubayangkan bagaimana jadinya apabila musim hujan mulai membanjiri kota ini sedangkan belum ada kemajuan berarti untuk mengatasi luapan Lumpur termasuk hancurnya tanggul penahan Lumpur akibat meluapnya debit air bercampur Lumpur. Saat ini saja, ketinggian Lumpur sudah mencapai 5 meter lebih, jauh melewati rumah warga disekitar lokasi.
Diriku tidak bisa lagi membayangkan ketika Lumpur tersebut dibantu air hujan sedikit demi sedikit menenggelamkan kota Surabaya. Padahal, dalam ramalan Jayabaya yang kemudian diinterpretasikan oleh seorang pengamat budaya bahwa justru ibukota yang akan berpindah terlebih dahulu. Sejalan dengan hal tersebut, dengan nada bercanda, ia mengatakan Surabaya merupakan kandidat terkuat ibukota berikutnya apabila kondisi force mayeur memaksanya pindah. Ah, Lumpur ini menghilangkan kemungkinan Surabaya untuk mencalonkan dirinya.
Padahal, jika dikaji lebih mendalam sebenarnya ku anggap keluarnya lumpur ini tak terlepas dari salah perhitungan terhadap pengeboran itu sendiri sedangkan sebagaimana yang kita ketahui bahwasanya bermil-mil jauhnya didalam tanah ini banyak sungai-sungai bahkan danau yang diisi tidak hanya oleh kekayaan alam berupa minyak bumi, gas dan sebagainya tetapi juga oleh lumpur yang kandungannya dapat saja membahayakan manusia. Atas dasar asumsi inilah, dahulu ketakutanku pernah memuncak saat masih tinggal di balikpapan mengingat beberapa kali diriku mendengar kasus amblasnya tanah setelah isi diperut bumi habis dikuras. Hehe… ketakutan masa kecil yang tak beralasan walaupun menurutku itu niscaya. Sekarang saja, tanggul itu sudah jebol apalagi musim hujan?.
Ditulis dalam Eksploitasi | Leave a Comment »
Buku Bagi Suplemen Otak
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 10, 2006
Semalam, tanpa memperdulikan kondisi keuangan yang semakin menipis, kuberanikan diri menuju ke salah satu toko buku yang terletak di jalan raya ngagel untuk menyalurkan satu-satunya budaya kapitalistik yang tetap dengan bangganya kupertahankan yakni membeli buku. Setelah sekian lamanya tidak pernah menginjakkan kakiku ditoko buku maka dengan menghidupkan budaya pop konsumerisme ini, kucari lagi buku-buku yang dapat merangsang daya dialektika, suplemen otakku mengingat pertumbuhan yang lain sudah berhenti ketika diriku sudah melewati masa puber. Setelah kira-kira 15 menit berlalu, 6 buah buku sudah kugenggam ditangan antara lain; 2 buku mengenai wacana Marxian, 2 buku tentang social movement serta 2 buku sisanya spesifikasi wacana feminis dan eksistensialis.
Dalam hati sambil kutatap buku ini, kumerengut “sampai sekarang, pemerintah tidak pernah mau peduli untuk menurunkan harga kertas, sebagai konsumen aku protes, daya beliku terbatas, mencari ilmu saja harus membeli dengan harga mahal!” umpatku. Tetap saja setelah mengeluarkan sejumlah biaya dihadapan kasir, kulengangkan badan ini menuju tempat parkir dengan sedikit cengiran membayangkan betapa otakku akan kembali memulai perdebatan dengan membagi kedalam dua belah kubu yang saling bertentangan dan mendialektikakan diskursus baru sementara mataku bersinar-sinar riang menatap buku serta membaca abjad-abjad yang harus dicerna lagi dipikiranku. Tukang parkir yang sedari tadi memperhatikan tingkah polahku tersenyum simpul, mungkin ia beranggapan “satu lagi orang setelah membeli buku jadi gila”. Aku sendiri tanpa peduli, segera tancap gas mengarahkan kendaraanku menuju arah jalan manyar, mencari toko buku yang lain lagi guna menemukan buku baru yang tidak terdapat di toko buku pertama. Lagi, kutemukan 1 buku tentang studi Marxian, 1 buku mengenai social movement dan 1 lainnya diskursus post modernist. Pfffff….. lega!.
Ditulis dalam Buku | 1 Komentar »
Pesonamu, Alamku
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 8, 2006
Pagi itu kulangkahkan kakiku ditengah-tengah petak sawah. Kabut yang masih menyelimuti tak menyurutkan nyaliku untuk merasakan dinginnya hawa pedesaan. Sementara sinar sang mentari mulai tersenyum dan sedikit demi sedikit keceriaan pagi, hangat mulai menggantikan senyapnya malam bersamaan dengan riangnya burung berkicau. Kuhentikan perjalananku sejenak dan memutuskan duduk diatas sebuah batu besar yang atasnya pipih. Kuhirup udara pagi sekali lagi dalam-dalam, kurasakan nikmatnya aroma kedamaian alam yang sudah sangat lama tak pernah kudapatkan lagi, yaa! Sudah terlalu lama diriku pergi.
Perjumpaanku ini mengingatkanku pada diriku yang masih sering bermain diatas tanah sawah ini pada usia 6 tahun. Masa dimana tanah disini begitu subur dan masih sangat alami tumbuh bersama bulir-bulir padi mulai menguning, kesukaan burung-burung. Kadang, kubantu Petani yang menjaganya sekuat tenagaku, sukarela tentunya namun tidak sekuat orang-orangan sawah. Kuingat pula dengan jelas, kuluangkan waktuku memancing ikan ditelaga, hmm.. masa dimana memancing adalah hobi karena ikan yang bisa kudapatkan memang sebesar telapak tanganku sekarang bukannya memancing di parit-parit kota besar yang ikannya hanya segemuk jari jempolku saja, itulah alasan kemudian mengapa diriku membenci memancing ikan selain membuang-buang waktu tentunya.
Diatas batu ini dan telaga yang terhampar didepan mataku inilah, pernah banyak ku habiskan waktu bersenda gurau bersama teman sepermainanku sambil menarik-narik kangkung air yang merambat memenuhi permukaan telaga, menyembunyikan ikan-ikan bergerak liar bebas. Apalagi ketika tiba masanya pembukaan telaga guna memanen hasil ikan, wow, senangnya hatiku bisa menangkap banyak ikan dari ikan mas sampai ikan terkecil nila, berguling-guling dikotornya becek Lumpur, oh, keriangan yang belum pernah kuulangi lagi.
Namun, ingatan ini membawaku pada kejadiaan menyedihkan saat kedua anak Om Antje, begitulah kupanggil dirinya, pekerja di perkebunan kami yang telah lama bekerja untuk kami dan tinggal bersama keluarganya, meninggal dunia tenggelam saat bermain disekitar telaga. Begitulah, musibah datang tak pernah kita duga dan sangka. Hal itu juga membuatku trauma pada air selama beberapa waktu walau sebenarnya ketakutanku itu juga disebabkan hal lain yaitu berkat kenakalanku, pernah aku dimasukkan ke dalam tandon selama beberapa menit… hehe, ayahku tak sejahat itu koq.
Kembali lagi, lamunanku hilang segera tak berbekas. Kini, setelah kabut perlahan menipis dan hanya menyisakan segarnya embun pagi, kutatap jelas areal persawahan ini telah berubah banyak. Di kanan kiri kusaksikan bangunan kokoh sebagian telah berubah fungsi dari gudang sampai dengan pabrik. Oh, peradaban alamiah tradisional itu telah tergantikan dengan kebudayaan modern. Sebuah realitas yang terbangun mendesak dan memojokkan indahnya alam. Petak sawah itu telah hilang, tanah ini tak terawat, ilalang dan rerumputan tinggi sudah menjadi sarang ular, menunggu datangnya Tuan baru membawa tiang pancang. Tiba-tiba, kakiku terperosok kedalam bekas kubangan kecil. Berlawanan dari niatku untuk memaki, aku pun tertawa sekeras-kerasnya memngingat betapa seringnya sepatuku belepotan lumpur sawah bahkan terjatuh di sawah untuk menghindari hukuman disebabkan keterlambatanku sewaktu masih bersekolah di SMP yang kebetulan letaknya hanya 100 meter saja dari rumahku dan melewati ranah sawah ini tentunya. Tergelak, diriku sudah menikmati kehidupan di pedesaan dan perkotaan dimasaku menuntut ilmu dalam penjara yang bernama sekolah. Kuhembuskan nafasku guna kugantikan dengan hawa sejuk ini, ahh… andai bunga hadir disini bersamaku menyaksikan keagungan anugerah ilahi yang telah dirusak manusia, ahh… seandainya, kuberharap lagi, suatu kesalahan yang selalu kuulangi kembali!
Ditulis dalam Agraria | Leave a Comment »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 8, 2006
Tahukah kau,
Dirimu adalah hadiah terindah dalam hidupku
Tawamu memberiku ketenangan
Tak pernah kudapatkan hal itu sebelumnya
Lama sudah ingin kudengar lagi suara itu,
Saat kau rebahkan dan sandarkan tubuhmu dalam bayanganku
Saat kau percayakan diriku menjagamu dalam keheningan
Saat kau memilihku tuk merasakan rapuh dan hangatnya tubuhmu
Bukan rencana dan strategi yang membuat kita hebat, sayang
Namun kebersamaan yang membuat kita bertahan sampai dengan sekarang
Ditulis dalam Syair Hati | Leave a Comment »
SPMB sampai ke MK
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 8, 2006
Kesibukan yang terjadi hari sabtu kemaren, tatkala banyak lulusan SMU dan sederajatnya beserta orang tuanya yang ingin melihat hasil ujian SPMB anaknya melalui berbagai macam media baik yang tersaji secara online diinternet, media koran maupun langsung datang ke Universitas yang dimaksud untuk mencari tahu apakah anak-anak mereka berhasil lulus dan masuk pada Universitas yang mereka inginkan. Tiba-tiba saja, kubiarkan memoriku membawa pada kesadaran bertahun-tahun yang lalu dimana hari-hari diriku memulai persiapan ikut UMPTN agar bisa di terima di Universitas yang kuinginkan. Saat itu, di Palangkaraya tak lama berselang pengumuman kelulusan SMU, diriku dan beberapa teman-teman sekelasku mencoba peruntungan dengan mengikuti Uji Coba UMPTN yang diselenggarakan oleh salah satu ormas. Mengingat masih buta-buta balok alias tidak tahu apa-apa dengan bermodalkan pencil dan penghapus ku ikuti uji coba itu. Alhasil, tanpa disangka namaku memang termasuk di urutan pertama dengan nilai tertinggi.
Tentunya dengan perasaan pede ku berangkat ke Surabaya untuk mengikuti UMPTN agar bisa diterima di Universitas Airlangga dan mengisi pilihan pertama kutimpakan pada ilmu hukum mengingat kakakku juga lulusan hukum sedangkan pilihan kedua kujatuhkan pilihan pada ilmu politik. Setelah belajar dengan keras serta mempelajari soal-soal UMPTN dari 10 tahun yang lalu diriku dengan tegas menyatakan siap mengikuti ujian. Pengumuman hasil UMPTN kusambut dengan perasaan was-was, gundah menahan ludah dan… setelah kubolak balik Koran pagi itu tak ada satupun namaku yang tercantum. Nasib… nasib, lanjutkan hidup lagi deh! Kucarilah Universitas swasta dikota ini dan dengan berbagai pertimbangan kujatuhkan pilihanku pada Universitas Dr. Soetomo dengan melalui berbagai macam pertimbangan di fakultas hukum.
Setelah setahun berselang dengan perasaan setengah hati dan tanpa menyentuh buku sedikitpun… yah, jika lulus syukur, ngga lulus emang nasib, kuikuti kembali UMPTN dengan Universitas Airlangga sebagai tujuanku namun pilihanku hanya satu yaitu ilmu politik, kuanggap bisa dobel jika lulus ujian namun hal itu ditertawakan oleh petugas yang mengumpulkan formulir pendaftaranku, ya, masih kuingat tawanya sembari ia berkata “dengan hanya satu pilihan, jangan nangis ya kalo ga keterima” dan kubalas perkataannya dengan memasang raut muka mesem. Kan, apa yang dikatakan oleh petugas itupun salah, saat kubaca koran milik teman, dikos-kosannya setelah semalamnya kami “melanglang buana”. Sontak, “separuh jiwaku” segera kembali setelah melihat namaku tertera dengan cetakan yang agak buram. Segera kupulang dan menceritakannya pada siapa saja, hehe… lucunya bodohku namun sejak saat itu diriku menemukan kembali kepercayaan yang semakin tajam tentang makna ‘dimana ada kemauan, disitu ada jalan’ serta percaya, Tuhan masih membantuku. Ketika ku kuliah kembali kulupakan Tuhan karena kebanyakan mencari identitas diri dan mulai mempertanyakan Tuhan atau memang karena kebanyakan membaca tulisannya Nietzsche ya, hehe.
Ingatanku semakin melanglang buana saat harus mengikuti MK Himaprodi Politik (malam Keakraban) yang saat itu diadakan di nongko jajar (ditengah malam buta di hutan, aku bernyanyi sekeras-kerasnya lagunya Helloween “forever and one” dan lagunya Take That “back the tears” hehe… atas permintaan senior), tempat yang cukup curam dan lebih banyak menyiksa panitia sehingga saat giliran angkatanku yang memegang kendali sebagai panitia, kebetulan juga diriku sebagai ketua panitia, kuputuskan mengadakan MK di Coban Talun, lebih aman walau tetap saja banyak demitnya. Disela-sela menjalankan tugas sebagai panitia, diriku ikut mempressure peserta, yah, memanfaatkan keadaan. Hal itu semakin menjadi-jadi manakala angkatanku ditahun berikutnya memasuki fase pertama kalinya berlabelkan senioritas. MK tersebut bertempat di Jolotundo, wah, nenek moyangnya demit berkumpul disana, maklum dulu tempat pemandiannya orang-2 Majapahit. Senioritas itu pulalah yang membuat kami semakin tak terkendali sampai peserta yang kami anggap agak membandel kami suruh merayap melewati antara kedua kaki seluruh senior yang saat itu berjejer kebelakang membuat barisan ular naga panjangnya. Dengan aroma “air haram” yang memang dibutuhkan oleh dinginnya hawa alam, kami benar-benar merasakan kekuasaan itu. Tak heran sepulang acara MK sampai setahun berikutnya, ex peserta tak pernah mau menegur kami setimpal dengan gojlokan kami selama setahun memanggil mereka seenaknya.
Hehe… anak-anak yang baru masuk SPMB ini juga nantinya akan dikerjai seperti itu, sabar saja. Kusandarkan diriku, terhenyak, lalu lamunanku tersadarkan oleh suara tangisan anak ibu kos yang melempar berbagai macam barang dan berteriak kata-kata kotor pada orang tuanya. Hmmm… dik, kau sudah memulai pemberontakan pada orang tuamu yaa, tak kusangka secepat itu… masih kelas 3 SD.
Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »