Sekali lagi bencana merenggut korban
Setelah Tsunami, Banjir, Longsor serta semua letusan
Perih hati melihat manusia bergelimpangan
Peristiwa memilukan, derita yang tak kunjung terbalaskan
Tuhan,
Apakah benar bencana adalah azab dari kenistaan kami serta cobaan tanpa henti
Apakah benar bangsa ini memang sudah lama berpaling darimu dan penuh dengki
Mengapa selalu korban terbanyak adalah kami yang tak berpunya dan merana
Mengapa selalu saja pihak yang disalahkan yakni rakyat yang tak bersalah maupun tak berdosa
Pemimpin,
Setelah kau ku pilih tak pernah lagi dirimu merealisasikan janji
Saat ku membutuhkanmu,kau tak pernah mau peduli
Ketika kami hanya berharap padamu, dirimu laksana besi jeruji
Kesangsian salah memilihmu hilang saat 5 tahun lagi kembali kau berlagak suci
Dewan,
Kalian berlagak sebagai penyelamat namun ternyata hewan
Kami kau wakili berlagak teman,ternyata untuk kolusi menikmati korupsi
Meski kami selalu kau selingkuhi dan sakiti,tak pernah sedikit pun berani kami melawan
Memaafkan diri kami sendiri salah mempercayai dianggap sebagai langkah terpuji
Peradilan,
Rasa cemas melihat berbagai kasus kau masukkan peti kemas
Tanpa sekalipun diriku melihat keadilan telah ditegakkan
Ragam kepalsuan kau pelihara tuk ditampilkan agar tampak sesuai arus
Tapi racun dari busuknya tubuh dan hatimu sangatlah mematikan
Preman,
Sudah kau tunjukkan bahwa kau memang berani dan memiliki nyali
Mewakili ikatan primordialis, agamis, seksis, rasis, dan memang fasis
Siapa saja yang memiliki nurani kau habisi dengan dalil illahi
Melindungi yang membeli, menjadi milisi maupun antek militerisi berlagak polisi
Pengamanan,
Diriku selalu ingin bertanya pada dirimu yang tegap dan bersenjata lengkap
Kegiatan bisnis, berpolitik, membuat konflik serta melanggar HAM, apakah dianggap sebagai peran?
Darimu,aku menduga banyak darah tumpah dalam sejarah yang tak terungkap
Kendati kerap saja kalian menganggap berasal dari rakyat dan menghabisi dengan interpretasi dari manifestasi Tuhan yang akhirnya menjadi nama jalan!
Agamawan,
Kalian hamba Tuhan yang disegani juga hormati, ucapanmu kami patuhi tapi dalam tindakan, kami ludahi lagi itu pasti
Kau kumpulan kaum merpati yang suka berceramah memakai kitab suci, tak jarang justru menakuti, landasan peduli pada kami
Tentunya merasa ikut memecahkan masalah dengan tampil di tivi lalu menikmati materi layaknya selebriti
Tetapi suka mendekatkan diri dengan penguasa serta jadi alat pelegitimasi
Pemodal Global, bukan berarti tanpa akhiran -an,
Tiada pernah ku duga badanmu begitu menggurita
Tak juga menyangka tentakelmu mampu menghisap inti relung jiwa manusia
Seluruh budaya dan nafas alam ini telah kau rasuki gayamu melalui setumpuk rekayasa nilai-nilai
Semua kehidupan sudah kau kuasai hingga kami pun seakan tak ada pilihan selain mempercayai
Teman,
Apakah memang hidup ini tidak adil sekali dan penuh kreasi basi?
Apakah keserakahan dan nafsu amarah menjadi prioritas tertinggi?
Mengapa penghisapan, penindasan dan eksploitasi dianggap ekspresi manusiawi?
Mengapa akhirnya kami hanya menjadi kuli di negeri sendiri?
Kawan,
Bangsa ini katanya sabar walau menderita penyakit sektarian yang parah dan kronis
Nusantara ini sumber dayanya kau biarkan dirampas tanpa kompensasi dan sudah mulai habis
Keberagaman kami ditelan sadis budaya dari kapitalis dan telah terkikis
Kebersamaan maupun toleransi, wujud solidaritas sesama manusia tak lagi digubris oleh ciri individualistis, kami pun akhirnya hanya menjadi pengemis
Dari kami:
Hewan laksana setan yang tak berperasaan lagi
Nurani bahkan hasrat birahi tak lagi dimiliki
Beribu kekurangan maupun keterbatasan berupa kesalahan bukanlah penyesalan, itulah kami
Mendobrak belenggu tuk berpikir dan bertindak bebas, logis, kritis selama masih berpijak di bumi
Bukan berarti:
Satu-satunya jalan karena alunan kalimat berirama ini pun semata-mata hanyalah salah satu pilihan!
Meski tak mampu berdamai dengan sejarah, selama bisa diperbaiki tak kenal menyerah adalah beradab
Hanya memperkaya perspektif tuk dunia yang lebih baik nan indah bagi anak cucu serta masa depan
Saat negara mencoba melupakan hitamnya kelam dengan menghindari tanggung jawab, itulah biadab!
Surabaya, 25 mei 2006
Aridhant Harprys W.