aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Arsip untuk April, 2006

Indahnya menyaksikan pertumbuhan adikku

Ditulis oleh dhant di/pada April 30, 2006

Kawan,
Hari ini kusaksikan
Hal indah lain dalam hidup
Saat dimana diriku menjadi bagian
Sari pertumbuhan adikku yang mulai riang menatap hidup

Semuanya bermula saat ia mulai memasuki masa bersekolah meskipun hanyalah Taman Kanak-kanak. Perubahan besar dalam hidup inilah yang sebenarnya merupakan tantangan yang akan mulai menghadangnya secara bertahap. Betapa senangnya melihat keceriaan yang terpancar dari dirinya terutama setelah perlengkapan bersekolah sudah terbeli. Suatu waktu diriku melihatnya sedang memeluk semua perlengkapan itu sambil menerawang tinggi. Aku pun teringat sewaktu dulu dimana aku pernah melakukan hal yang sama membayangkan hal-hal yang indah. Manakala dia lahir aku pernah bersumpah bahwa sampai kapanpun aku akan selalu menjaganya. Saat itu diriku merasa hidupku tidak hanya lengkap namun juga sudah selesai. Suatu kesalahan yang dikemudian hari baru kusadari justru hidup semakin bertambah berat, masih panjang dan mulai bertanggung jawab terhadap diriku dan adikku. Tujuan hidupku sekarang demi orang tuaku dan adikku. Anugerah ini kan selalu menyelimuti hatiku dan menjadi penantian diri sejatiku……..

Ditulis dalam Keluarga | Leave a Comment »

Pengetahuan

Ditulis oleh dhant di/pada April 26, 2006

Pengetahuan bagi orang lain sebagai
Alat untuk mendominasi wacana dan orang lain
Alat kebanggaan semu akan kualitas hidup
Alat pembenaran akan subjektivitas yang relatif
Alat kekuasaan menghegemoni yang manipulatif dan destruktif

Pengetahuan bagi saya sebagai
Alat untuk menyebarkan kasih sayang dan perdamaian
Alat mensejahterakan rakyat membebaskan dari ketertindasan
Alat perjuangan dan perlawanan
Alat berbagi dengan orang lain tanpa pamrih
Itulah kekuatan pengetahuan sebenarnya bagi saya………….

Ditulis dalam Puisi Basi | Leave a Comment »

Kumpulan Kertas Kalo Kepepet Bisa Jadi Pengganti Kayu Bakar

Ditulis oleh dhant di/pada April 23, 2006

Aba Du Wahid. Ahmad Wahib; Pergulatan, Doktrin dan Realitas Sosial. Yogyakarta : Resist Book, 2004.
Abdoel Fattah. Demiliterisasi Tentara; Pasang Surut Politik Militer 1945-2004. Yogyakarta : LKiS, 2005.
Aboe Koharsyah (ed.). Lenin, Revolusi; Dari Mana Kita Mulai?. Jakarta : ERA Publisher, 2001.
Adami Chazawi. Kejahatan Terhadap Keamanan dan Keselamatan Negara. Jakarta : Jakarta : PT Radja Grafindo Persada, 2002.
Adams, Ian. Ideologi Politik Mutakhir; Konsep, Ragam, Kritik dan Masa Depannya. Yogyakarta : Qalam, 2004.
Adas, Michael. Ratu Adil; Tokoh dan Gerakan Milenarian Menentang Kolonialisme Eropa. Jakarta : Rajawali Press, 1988.
Ade Ma’ruf (ed.). Karl Marx; Revolusi dan Kontra Revolusi. Yogyakarta : Jendela, 2000.
———. Shaping Globalisation; Jawaban Kaum Sosial Demokrat Atas Neoliberalisme. Yogyakarta : Jendela, 2000.
Adji Samekto. Kapitalisme, Modernisasi dan Kerusakan Lingkungan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005.
Adnan M. Wizan. Akar Gerakan Orientalisme; Dari Perang Fisik Menuju Perang Fikir. Yogyakarta, Fajar Pustaka Baru, 2003.
Agung Wibawanto, Syamsudin dan Eko Hilal. Memenangkan Hati Rakyat. Yogyakarta : Pembaruan, 2005.
Agus Sudibyo dkk. Ekonomi Politik Media Penyiaran. Yogyakarta : LKiS, 2004.
Akhmad Fikri A. F. dkk. Menjadi Politisi Ekstra Parlementer. Yogyakarta : LKiS, 1999.
Al Araf dan Awan Puryadi. Perebutan Kuasa Tanah. Yogyakarta : Lappera Pustaka Utama, 2002.
Al Attiyat, Ibtissam, Shteiwi, Musa and Sweiss, Suleiman. Building Democracy in Jordan : Women’s Political Participation, Political Party Life and Democratic Elections. Stockholm : Arab NGO Network for Development and International IDEA, 2005.
Albrow, Martin. Birokrasi. Yogyakarta : Tiara Wacana, 1989.
Alex Supartono. Mahasiswa Bergerak; Belajar Dari perlawanan dan Perjuangan Internasional 1960-an. Jakarta : YLBHI, 1999.
Ali Sugihardjanto dkk. Globalisasi Perspektif Sosialis. Jakarta : C-Books, 2003.
Althusser, Louis. Tentang Ideologi; Marxisme Strukturalis, Psikoanalisis, Cultural Studies. Yogyakarta : Jalasutra, 2004.
Amiruddin dan Aderito Jesus De Soares. Perjuangan Amungme; Antara Freeport dan Militer. Jakarta : ELSAM, 2003.
Anas Saidi (ed.). Menekuk Agama, Membangun Tahta; Kebijakan Agama Orde Baru. Jakarta : Desantara, 2004.
Anderson, Benedict. Komunitas-Komunitas Imajiner; Renungan tentang Asal-Usul dan Penyebaran Nasionalisme. Yogyakarta : Insist Press, 1999.
Anderson, Perry. Asal Usul Post Modernitas. Yogyakarta : Insight Reference, 2004.
Andi Muawiyah Ramly. Peta Pemikiran Karl Marx. Yogyakarta : LKiS, 2000.
Andreski, Stanislav. Max Weber: Kapitalisme, Birokrasi dan Agama. Yogyakarta : Tiara Wacana, 1989.
Andrey Sujatmoko. Tanggung Jawab Negara Atas Pelanggaran Berat HAM; Indonesia, Timor Leste dan Lainnya. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2005.
Anju Dwivedi. Merancang Pelatihan Partisipatif Untuk Pemberdayaan. Yogyakarta : Pondok Edukasi, 2006.
Anita Christina dkk. Jaman Daulat Rakyat; Dari Otonomi Daerah ke Demokratisasi. Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2001.
Aquarini Priyatna Prabasmoro. Becoming White; Representasi Ras, Kelas, Femininitas dan Globalitas Dalam Iklan Sabun. Yogyakarta : Jalasutra, 2003.
———. Kajian Budaya dan Feminis; Tubuh, Sastra dan Budaya Pop. Yogyakarta : Jalasutra, 2006.
Arbi Sanit. Perwakilan Politik di Indonesia. Jakarta : Rajawali, 1985.
Arendt, Hannah. Asal-Usul Totaliterisme; Anti Semitisme. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1993.
———. Asal-Usul Totaliterisme; Imperialisme. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1995.
———. Asal-Usul Totaliterisme; Totalitarisme. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1995.
Ariel Haryanto dan Sumit K. Mandal (ed.). Menggugat Otoriterisme di Asia Tenggara. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2004.
Arimbi Heroeputri. Tak Ada Tempat Bagi Rakyat. Jakarta : YLBHI, 2001.
A. Prasetyantoko dan IGN. Wahyu Indriyo. Gerakan Mahasiswa dan Demokrasi di Indonesia. Bandung : PT. Alumni, 2001.
Barid Hardiyanto. Pendidikan Rakyat Petani; Perjuangan Perlawanan Menuntut Hak Atas Tanah. Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2005.
Barker, Chris. Cultural Studies; Teori dan Praktik. Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2004.
Bartono, PH. Tirani Pasar Kerja. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Berkman, Alexander. Anarkhisme dan Revolusi Sosial. Jakarta : TEPLOK Press, 2001.
Berlin, Isaiah. Empat Esai Kebebasan. Jakarta : Pustaka LP3ES Indonesia, 2004.
Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer Prancis. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.
Bertens, K. Filsafat Barat Kontemporer Inggris-Jerman. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.
Boy Fidro dkk. Landreform di Desa. Yogyakarta : REaD Book, 2002.
Bracher, Mark. Jacques Lacan, Diskursus dan Perubahan Sosial: Pengantar Kritik Budaya Psikoanalisis. Yogyakarta : Jalasutra, 2005.
Brewer, Anthony. Kajian Kritis Das Kapital Karl Marx. Yogyakarta : TEPLOK Press, 1999.
Brooks, Ann. Posfeminisme and Cultural Studies. Yogyakarta : Jalasutra, 2005.
Brown, Phil. Psikologi Marxis. Yogyakarta : Alenia, 2005.
Bryson, John M. Perencanaan Strategis Bagi Organisasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1999.
Budairi Idjehar. HAM Versus Kapitalisme. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
Budiawan. Mematahkan Pewarisan Ingatan; Wacana Anti Komunis dan Politik Rekonsiliasi Pasca Soeharto. Jakarta : ELSAM, 2004.
Budi Kurniawan dan Yani Andriansyah. Menolak Menyerah; Menyingkap Tabir Keluarga Aidit. Yogyakarta : ERA Publisher, 2005.
Budi Winarno. Globalisasi Wujud Imperialisme Baru; Peran Negara Dalam Pembangunan. Yogyakarta : Tajidu Press, 2005.
Camus, Albert. Pemberontak. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya, 2000.
Campbell, E. W. Meretas Jalan Pembebasan. Malang : Kijaru School, 2004.
Cannon, Lisa. Menjadi ORNOP Mandiri. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2004.
Capra, Fritjof. The Hidden Connections; Strategi Sistemik Melawan Kapitalisme Baru. Yogyakarta : Jalasutra, 2005.
Carnoy, Martin. The State and Political Theory. New Jersey : Princeton University Press, 1984.
Castro, Fidel. Sejarah Akan Membebaskanku. Yogyakarta : Magma Pustaka, 2006.
Chaney, David. Lifestyles; Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta : Jalasutra, 2004.
Chilcote, Ronald H. Teori Perbandingan Politik; Penelusuran Paradigma. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Clements, Kevin P. Teori Pembangunan Dari Kiri Ke Kanan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1997.
Contributors Team. Democracy in The Arab World. Stockholm : International IDEA, 2004.
———. International IDEA: Ten Years of Supporting Democracy Worldwide. Stockholm : International IDEA, 2005.
Dahl, Robert A. Perihal Demokrasi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2001.
Dawam Rahardjo (ed.). Reformasi Politik. Jakarta : PT Intermasa, 1997.
Delforge, Isabelle. Dusta Industri Pangan; Penelusuran Jejak Monsanto. Yogyakarta : REaD Book, 2003.
Deliar Noer. Pemikiran Politik di Negeri Barat. Bandung : Mizan, 1997.
Derrida, Jacques. Hantu-Hantu Marx. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya, 2000.
D’Etreves, Maurizio Passerin. Filsafat Politik Hannah Arendt. Yogyakarta : Qalam, 2003. Diamond, Larry. Developing Democracy; Toward Consolidation. Yogyakarta : IRE Press, 2003.
Didik J. Rachbini. Analisis Kritis Ekonomi Politik Indonesia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001.
Dietz, Ton. Pengakuan Hak Atas Sumber Daya Alam; Kontur Geografi Lingkungan Politik. Yogyakarta : Insist Press, 2005.
D. N. Aidit. Revolusi Indonesia; Latar Belakang Sejarah dan Hari Depannya. Yogyakarta : Radja Minjak, 2002.
Dwi Pratomo Yulianto. Militer dan Kekuasaan; Puncak-Puncak Krisis Hubungan Sipil-Militer di Indonesia. Yogyakarta : Narasi, 2005.
Edy Haryadi. Lenin; Pikiran, Tindakan dan Ucapan. Jakarta : Komunitas Studi Untuk Perubahan, 2000.
Effendi Syarief. Melawan Ketergantungan Pada Minyak Bumi. Yogyakarta : Insist Press, 2004.
Eko P. Darmawan. Agama Itu Bukan Candu; Tesis-Tesis Feuerbach, Marx dan Tan Malaka. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Eko Prasetyo. Membela Agama Tuhan; Potret Gerakan Islam dalam Pusaran Konflik Global. Yogyakarta : Insist Press, 2002.
———. Islam Kiri; Jalan Menuju Revolusi Sosial. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
———. Orang Miskin Dilarang Sakit. Yogyakarta : Resist Book, 2004.
———. Orang Miskin Dilarang Sekolah. Yogyakarta : Resist Book, 2004.
———. Demokrasi Tidak Untuk Rakyat. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
———. Orang Miskin Tanpa Subsidi. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
———. Assalamu’alaikum: Islam Itu Agama Perlawanan. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
———. Guru: Mendidik Itu Melawan!. Yogyakarta : Resist Book, 2006.
Eko Prasetyo dan Terra Bajraghosa. Pengumuman : Tidak Ada Sekolah Murah!. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
———. Awas : Penguasa Tipu Rakyat. Yogyakarta : Resist Book, 2006.
El Fisgon. Menghadapi Globalisasi; Kiat Gombal Buat Pengusaha Kecil. Serpong : Marjin Kiri, 2005.
Elmas, Pieter dkk. Ken Sa Faak; Benih-Benih Perdamaian dari Kepulauan Kei. Yogyakarta : Insist Press, 2004.
Engels, Frederick. Feurbach dan Filsafat Jerman. Jakarta : TEPLOK Press, 2000.
Engineer, Ashgar Ali. Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1999.
Escobar, Miguel (ed.). Dialog Bareng Paulo Freire; Sekolah Kapitalisme yang Licik. Yogyakarta, LKiS, 1998.
Fadillah Putra. Devolusi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1999.
———. Kebijakan Tidak Untuk Publik!. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Fadillah Putra dan Saiful Arif, Kapitalisme Birokrasi; Kritik Reinventing Government Osborne-Gaebler. Yogyakarta : LKiS, 2001.
Fahsin M. Fa’al. Negara dan Revolusi Sosial; Pokok-Pokok Pikiran Tan Malaka. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Featherstone, Mike. Posmodernitas dan Budaya Konsumen. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001.
Feith, Herbert. Soekarno dan Militer dalam Demokrasi Terpimpin. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1995.
Fiske, John. Cultural and Communication Studies. Yogyakarta : Jalasutra, 2004.
Foran, John. The Future of Revolutions. Yogyakarta : Insist Press, 2004.
Foucault, Michel. Disiplin Tubuh; Bengkel Individu Modern. Yogyakarta, LKiS, 1997.
Francis Wahono Nitiprawiro. Teologi Pembebasan; Sejarah, Metode, Praksis dan Isinya. Yogyakarta : LKiS, 2000.
Fransisco Budi Hardiman. Kritik Ideologi; Menyingkap Kepentingan Pengetahuan Bersama Jurgen Habermas. Yogyakarta : Buku Baik, 2004.
Freeman, Mark. Making Reconciliation Work: The Role of Parliaments. Stockholm : Inter-Parliamentary Union and International IDEA, 2005.
Freire, Paulo. Politik Pendidikan; Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan ReaD, 1999.
———. Pendidikan Sebagai Proses. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.
Freud, Sigmund. Peradaban dan Kekecewaan-Kekecewaan. Yogyakarta : Jendela, 2002.
Fromm, Erich. Akar Kekerasan; Analisis Sosio-Psikologis Atas Watak Manusia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.
———. The Art of Listening; Kritik Atas Psikoanalisis Sigmund Freud. Yogyakarta : Jendela, 2000.
Fukuyama, Francis. The End of History and The Last Man. Yogyakarta : Qalam, 2004.
Fukuyama, Francis dan Huntington, Samuel P. The Future of The World Order; Masa Depan Peradaban Dalam Cengkraman Demokrasi Liberal Versus Pluralisme. Yogyakarta : IRCiSoD, 2003.
Giddens, Anthony. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. Jakarta : UI Press, 1986.
———. The Third Way. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2000.
———. Runaway World. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.
———. Masyarakat Post Tradisional. Yogyakarta : IRCiSoD, 2003.
———. Konsekuensi-Konsekuensi Modernitas. Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2005.
Gorz, Andre. Ekologi dan Krisis Kapitalisme. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
———. Sosialisme dan Revolusi. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Granich, Reuben., Mermin, Jonathan. Ancaman HIV dan Kesehatan Masyarakat. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
Griner, Steven and Zovatto, Daniel (ed.). From The Grass Roots To The Airwaves: Paying for Political Parties and Campaigns in The Caribbean. Washington, D.C. : Organization of American States (OAS) and International IDEA, 2005.
Guevara, Che. Sikap Politik. Yogyakarta : Yayasan Litera Indonesia, 2000.
Gultom, Samuel. Mengadili Korban; Praktek Pembenaran Terhadap Kekerasan Negara. Jakarta : ELSAM, 2003.
Gunawan Wiradi, Reforma Agraria; Perjalanan Yang belum Berakhir. Yogyakarta : Insist Press, 2000.
Habermas, Jurgen. Krisis Legitimasi. Yogyakarta : Qalam, 2004.
Hadi, dkk. Yang Mengakar Yang Menjalar. Yogyakarta : Insist Press, 2005.
Hanlon, Joseph. Warisan hutang rezim dictator. Jakarta : PIRAC, 2000.
Hardt, Hanno. Critical Communication Studies; Sebuah Pengantar Komprehensif Sejarah Perjumpaan Tradisi Kritis Eropa dan Tradisi Pragmatis Amerika. Yogyakarta : Jalasutra, 2005.
Harker, Richard., Mahar, Cheelen and Wilkes, Chris. (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik; Pengantar Paling Komprehensif Kepada Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta : Jalasutra, 2005.
Harman, Chris. Mereka Menyebutnya Globalisasi. Yogyakarta : Sumbu, 2002.
Harriss, John., Stokke, Kristian and Tornquist, Olle. Politisasi Demokrasi; Politik Lokal Baru. Jakarta : DEMOS, 2005.
Haryomataram. Pengantar Hukum Humaniter. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2005.
Hary Prabowo. Perspektif Marxisme; Tan Malaka: Teori dan Praksis Menuju Republik. Yogyakarta : Jendela, 2002.
Hastanti Widy N. Diskriminasi Gender (Potret Perempuan Dalam Hegemoni Laki-Laki) Suatu Tinjauan Filsafat Moral. Yogyakarta : CV Hanggar Kreator, 2004.
Hasyim Wahid dkk. Telikung Kapitalisme Global Dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia. Yogyakarta : LKiS, 1999.
Hayner, Priscilla B. Kebenaran Tak Terbahasakan; Refleksi Pengalaman Komisi-Komisi Kebenaran, Kenyataan dan Harapan. Jakarta : ELSAM, 2005.
Held, David. Demokrasi dan Tatanan Global. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2004.
Hermawan Sulistyo. Palu Arit di Ladang Tebu. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2000.
Herzt, Noreena. Perampok Negara; Kuasa Kapitalisme Global dan Matinya Demokrasi. Yogyakarta : Alenia, 2005.
Hesti Widayanti dan Ika Krishnayanti (ed.). Bioteknologi; Imperialisme Modal dan Kejahatan Globalisasi. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
Hines, Colin. Mengganti Globalisasi Ekonomi menjadi Lokalisasi Demokrasi. Yogyakarta : Insist Press, 2005.
Hirst, Paul dan Thompson, Grahame. Globalisasi adalah Mitos. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2001.
Hoffer, Eric. Gerakan Massa. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1993.
Holidin dan Soenyono. Teori Feminisme; Sebuah Refleksi ke Arah Pemahaman. Surabaya : Holindo Press, 2004.
Howard, Rhoda E. HAM; Penjelajahan Dalih Relativisme Budaya. Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti, 2000.
Humm, Maggie. Ensiklopedia Feminisme. Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru, 2002.
Huntington, Samuel P,. Gelombang Demokratisasi Ketiga. Jakarta : PT Pustaka Utama Grafiti, 2001.
———. Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia. Yogyakarta : Qalam, 2000.
Imam Soedjono. Yang Berlawan; Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI. Yogyakarta : Resist Book, 2006.
Imran dan Cucuk Aryadi (ed.). Strategi Perlawanan. Yogyakarta : LKBH-UII, 2000.
Indro Sugianto. Class Action; Membuka Akses Keadilan Bagi Rakyat. Malang : IN TRANS Press, 2005.
International Forum On Globalization. A Better World Is Possible; Nirwana Dunia itu Niscaya, Alternatif-Alternatif Atas Globalisasi Ekonomi. Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, 2003.
Ikrar Nusa Bhakti dkk. Tentara Yang Gelisah. Bandung : Mizan, 1999.
Illich, Ivan. Matinya Gender. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998.
———. Menggugat Kaum Kapitalis. Jakarta : Melibas. 2001.
———. Perayaan Kesadaran. Yogyakarta : Ikon Teralitera, 2002.
I. Wibowo dan F. Wahono (peny.). Neoliberalisme. Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, 2003.
Jackson, Robert dan Sorensen, Georg. Pengantar Studi Hubungan Internasional. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005.
Jamuin Ma’arif. Manual Advokasi Resolusi Konflik Antar Etnik dan Agama. Solo : CISCORE, 1999.
Jayadi Damanik. Hak Asasi Petani. Yogyakarta : LAPPERA Pustaka Utama, 2002.
Jay, Martin. Sejarah Mazhab Frankfurt; Imajinasi Dialektis dalam Perkembangan Teori Kritis. Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2005.
Jessop, Bob. State Theory; Putting The Capitalist State in Its Place. Cambridge : Polity Press, 1990.
Jhamtani, Hira. WTO dan Penjajahan Kembali Dunia Ketiga. Yogyakarta : Insist Press, 2005.
Kadarusman. Agama, Relasi Gender dan Feminisme. Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2005.
Kamdani (ed.). Filsafat Sejarah G. W. F. Hegel. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001.
Kardelj, Edvard. Jalan Menuju Sosialisme Sedunia. Yogyakarta : Tarawang Press, 2001.
Kartika Rini, Tempun Petak Nana Sare. Yogyakarta : Insist Press, 2005.
Kartodirdjo, Sartono. Ratu Adil. Jakarta : Sinar Harapan, 1984.
Kasiyanto Kasemin. Mendamaikan Sejarah; Analisis Wacana Pencabutan TAP MPRS/XXV/1966. Yogyakarta : LKiS, 2004.
Kellner, Douglas. Teori Sosial Radikal. Yogyakarta : Syarikat Indonesia, 2003.
Ken Budha Kusumandaru. Karl Marx, Revolusi dan Sosialisme. Yogyakarta : Resist Book, 2003.
Ketchum, Richard M,. (ed.). Demokrasi; Sebuah Pengantar. Yogyakarta : Niagara, 2004.
Khor, Martin. Globalisasi Perangkap Negara-Negara Selatan. Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, 2002.
———. Globalisasi dan Krisis Pembangunan Berkelanjutan. Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, 2005.
Khudori, Neoliberalisme Menumpas Petani. Yogyakarta : Resist Book, 2004.
———. Lapar: Negeri Salah Urus!. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Klandermans, Bert. Protes; Dalam Kajian Psikologi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005.
Kleden, Paskal. Menuju Tengah Baru; Labour Party Inggris dan SPD Jerman di Bawah Tekanan Neoliberalisme. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2005.
Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi 1. Jakarta : PT Rineka Cipta, 1996.
Kraybill, Ronald S., Evans, Alice Frazer and Evans, Robert A. Peace Skills; Panduan Mediator; Terampil Membangun Perdamaian. Yogyakarta : Kanisius, 2002.
Kung, Hans. Etika Ekonomi Politik Global. Yogyakarta : Qalam, 2002.
Kuntowijoyo. Radikalisasi Petani. Jogjakarta : Yayasan Bentang Budaya, 1993.
LaFeber, Walter. Michael Jordan dan Neo-Kapitalisme Global. Yogyakarta : Jendela, 2003.
Latifah (ed.). Che Guevara; Revolusi Rakyat. Yogyakarta : TEPLOK Press, 2000.
Lechte, John. 50 Filsuf Kontemporer Dari Strukturalisme Sampai Postmodernitas. Yogyakarta : Kanisius, 2001.
Levi Strauss, Claude. Mitos dan Makna; Membongkar Kode-Kode Budaya. Serpong : Marjin Kiri, 2005.
Liebknecht, Karl. Militerisme dan Anti Militerisme. Yogyakarta : IRE Press, 2004.
Lofland, John. Protes. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
Loomba, Ania. Kolonialisme/Pasca Kolonialisme. Yogyakarta : Bentang Budaya, 2003.
Lowy, Michael. Teologi Pembebasaan. Yoyakarta : Insist Press, 1999.
Lubis, Todung Mulya. Jalan Panjang Hak Asasi Manusia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2005.
Lucas, Anton E. One Soul One Struggle; Peristiwa Tiga Daerah. Yogyakarta : Resist Book, 2004.
Luttwak, Edward. Kudeta. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya, 1999.
Luxemburg, Rosa. Reformasi Atau Revolusi. Yogyakarta : Gelombang Pasang, 2000.
———. Pemogokan Massa. Yogyakarta : Gelombang Pasang, 2000.
Maalouf, Amin. In The Name of Identity. Yogyakarta : Resist Book, 2004.
Magnis Suseno, Frans. Pemikiran Karl Marx; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1999.
———. Dalam Bayangan Lenin; Enam Pemikir Marxisme Dari Lenin Sampai Tan Malaka. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Mallet, A,. and Isaac, J,. Revolusi Prancis 1789-1799. Jakarta : PT Gramedia, 1989.
Mandel, Ernest. Tesis-Tesis Pokok Marxisme. Yogyakarta : Resist Book, 2006.
Mansour Fakih. Jalan Lain; Manifesto Intelektual Organic. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002.
———. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta : Insist Press, 2002.
———. Masyarakat Sipil Untuk Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996.
———. Bebas Dari Neo Liberalisme. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
———. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1996.
Mansour Fakih, Antonius M. Indrianto dan Eko Prasetyo. Menegakkan Keadilan dan Kemanusiaan. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
Mansour Fakih, Topatimasang, Roem dan Toto Rahardjo. Pendidikan Popular; Membangun Kesadaran Kritis. Yogyakarta : Insist Press, 2001.
Mansour Fakih dan Toto Rahardjo (ed.). 10 Langkah Mengembangkan Kebijakan Publik. Yogyakarta : ASA dan Insist Press, 2003.
Marcos, Subcomandante. Bayang Tak Berwajah; Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
———. Kata Adalah Senjata. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
———. Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan; Komunike-Komunike Zapatista Melawan Neoliberalisme. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Markoff, John. Gelombang Demokrasi Dunia. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002.
Masduki. Menjadi Broadcaster Profesional. Yogyakarta : Pustaka Populer, 2004.
Mashhur, Huriya, Al Kamim, Abd. Al Aziz Muhammad and Al Mikhlafi, Mohammad Ahmad. Building Democracy in Yemen: Women’s Political Participation, Political Party Life and Democratic Elections. Stockholm : Arab NGO Network for Development and International IDEA, 2005.
Masyhur Effendi. Perkembangan Dimensi Hak Asasi Manusia dan Proses dinamika Penyusunan Hukum Hak Asasi Manusia. Bogor : Ghalia Indonesia, 2005.
Maxim, Sarah (ed.). Perempuan di Parlemen; Bukan Sekedar Jumlah. Stockholm : International IDEA, 2002.
Mc Chesney, Allan. Memajukan dan Membela Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
Mc Lelland, David. Ideologi Tanpa Akhir. Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2005.
Mendoza, Democrito T. Kampanye Isu dan Cara Melobi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2004.
Meyer, Thomas. Sosial Demokrasi Dalam Teori dan Praktek; Pengalaman Kaum Sosial Demokrat Jerman. Yogyakarta : CSDS, 2003.
Miall, Hugh. Ramsbotham, Oliver., Woodhouse, Tom. Resolusi Damai Konflik Kontemporer. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1999.
Mills, C. Wright. Kaum Marxis; Ide-Ide Dasar dan Sejarah Perkembangannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003.
Mima Ohayeki (ed.). Mao Tse Tung; Empat Karya Filsafat. Yogyakarta : FuSPAD, 2001.
Miriam Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1998.
Mirsel, Robert. Teori Pergerakan Sosial. Yogyakarta : Insist Press, 2004.
Mohtar Mas’oed. Negara, Kapital dan Demokrasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003.
Moh. Yasir Alimi dkk. Advokasi Hak-Hak Perempuan; Membela Hak Mewujudkan Perubahan. Yogyakarta : LKiS, 1999.
Moyer, Bill. Merencanakan Gerakan. Yogyakarta : Pustaka Kendi, 2004.
Mudji Sutrisno dan Hendar Putranto. Hermeneutika Pasca Kolonial; Soal Identitas. Yogyakarta : Kanisius, 2004.
Muhadi Sugiono. Kritik Antonio Gramsci Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1999.
Muhamad Asfar (ed.). Model-Model Sistem Pemilihan di Indonesia. Surabaya : PuSDeHAM, 2002.
Muhammad Thalib, Irfan S. Awwas (ed.). Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila. Yogyakarta : Wihdah Press, 1999.
Muhidin Dahlan (ed.). Postkolonialisme; Sikap Kita Terhadap Imperialisme. Yogyakarta : Jendela, 2001.
Mukthie Fadjar. Reformasi Konstitusi Dalam Masa Transisi Paradigmatik. Malang : IN TRANS Press, 2003.
Muladi. Hak Asasi Manusia; Hakekat, Konsep dan Implikasinya dalam Perspektif Hukum dan Masyarakat. Bandung : PT Refika Aditama, 2005.
Munafrizal Manan. Gerakan Rakyat Melawan Elite. Yogyakarta : Insist Press, 2005.
Mustafa, Hala, Shukor, Abd. Al Ghaffar and Rabi, Amre Hashem. Building Democracy in Egypt: Women’s Political Participation, Political Party Life and Democratic Elections. Stockholm : Arab NGO Network for Development and International IDEA, 2005.
Newman, Michael. Sosialisme Abad 21; Jalan Alternatif Atas Neoliberalisme. Yogyakarta : Resist Book, 2006.
Nezar Patria dan Andi Arief. Antonio Gramsci; Negara dan Hegemoni. Yogyakarta : Pustaka Pelajar 1999.
Nietzsche. Ecce Homo. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998.
———. Senjakala Berhala dan Anti Krist. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya, 2000.
———. Sabda Zarathustra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.
Ni’matul Huda. Politik Ketatanegaraan Indonesia; Kajian Terhadap Dinamika Perubahan UUD 1945. Yogyakarta : FH UII, 2003.
———. Negara Hukum, Demokrasi dan Judicial Review. Yogyakarta : UII Press, 2005.
Noer Fauzi. Otonomi Daerah dan Sengketa tanah. Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2000.
———. Memahami Gerakan-Gerakan Rakyat Dunia Ketiga. Yogyakarta : Insist Press, 2005.
———. Gerakan-Gerakan Rakyat Dunia Ketiga. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Noer Fauzi dkk. Konflik, Bahaya Atau Peluang? Panduan Latihan Menghadapi dan Menanggapi Konflik Sumber Daya Alam. Yogyakarta : Insist Press dan KPA, 2001.
Nope, C. Y. Marselina. Jerat Kapitalisme Atas Perempuan. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Novak, Michael. Teologi Politik Radikal. Yogyakarta : Jendela, 2000.
Nur Iman Subono. Taktik Negara Menguasai Rakyat; Sebuah Studi Teori Bentuk Pemerintahan Korporatisme. Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2003.
———. Negara dan Kekerasan Terhadap Perempuan. Jakarta : Yayasan Jurnal Perempuan dan The Asia Foundation Indonesia, 2000.
Nurudin. Komunikasi Propaganda. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2001.
Nuswantoro. Daniel Bell; Matinya Ideologi. Magelang : Indonesiatera, 2001.
N. Kusuma dan Fitria Agustina (ed.). Gelombang Perlawanan Rakyat; Kasus-Kasus Gerakan Sosial di Indonesia. Yogyakarta : Insist Press, 2003.
Olson, Mancur. Kebangkitan dan Kemerosotan Perkembangan Bangsa-Bangsa. Jakarta : CV Rajawali, 1986.
Osborn, Reuben. Marxisme dan Psikoanalisis. Yogyakarta : Alenia, 2005.
Otje Salman dan Anton Susanto. Teori Hukum; Mengingat, Mengumpulkan dan Membuka Kembali. Bandung : PT Refika Aditama, 2004.
Paige, Jeffery M. Revolusi Agraria; Gerakan Sosial dan Pertanian Ekspor di Negara-Negara Dunia Ketiga. Pasuruan : Pedati, 2004.
Pareno, Sam Abede (ed.). Dalam Bingkai Media Massa. Surabaya : Papyrus, 2004.
Petras, James dan Veltmeyer. Imperialisme Abad 21. Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2002.
Piliang, Yasraf Amir. Transpolitika; Dinamika Politik di Dalam Era Virtualitas. Yogyakarta : Jalasutra, 2005.
Plekhanov, G,. Masalah-Masalah Dasar Marxisme. Jakarta : Hasta Mitra, 2002.
Poespoprodjo. Hermeneutika. Bandung : CV Pustaka Setia, 2004.
Pontoh, Coen Husain. Malapetaka Demokrasi Pasar. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
———. Menentang Mitos Tentara Rakyat. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
———. Gerakan Massa Menghadang Imperialisme Global. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Pozzolini, A,. Pijar-Pijar Pemikiran Gramsci. Yogyakarta : Resist Book, 2006.
Priyo Budi Santoso. Birokrasi Pemerintah Orde Baru. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1993.
Purcell, Hugh. Fasisme. Yogyakarta : Insist Press, 2000.
RAFI. Enclosures of The Mind (Kapling-Kapling Daya Cipta Manusia) Monopoli Intelektual Atas Kearifan Lokal dan Keanekaragaman Hayati. Yogyakarta : Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas, 2004.
Ridho Alhamdi. Melawan Arus. Yogyakarta : Resist Book, 2006.
Ritzer, George. Ketika Kapitalisme Berjingkrang. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002.
———. Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2003.
———. The Globalization of Nothing; Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi. Yogyakarta : Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 2006.
Robinson, William I. et al. Hantu Neoliberalisme. Yogyakarta : Jakarta : C-Books, 2003.
Rocker, Rudolf. Anarkisme dan Anarko-Sindikalisme. Yogyakarta : SUMBU, 2001.
Roeslan Abdulgani. Sosialisme Indonesia. Jakarta : Yayasan Prapantja, 1965.
Rosset, Peter and Benyamin, Medea. Kuba Melawan Revolusi Hijau. Yogyakarta : Insist Press, 2005.
Rover, C. de. To Serve and To Protect; Acuan Univrsal Penegakan HAM. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2000.
Sadowski, Michel. Sistem Politik Polandia. Jogjakarta : Ananda, 1984.
Said, Edward W. Bukan Eropa; Freud dan Politik Identitas Timur Tengah. Serpong : Marjin Kiri, 2005.
Saiful Arif. Ilusi Demokrasi. Depok : Desantara, 2003.
Saiful Arif dan Eko Prasetyo. Lenin; Revolusi Oktober 1917. Yogyakarta : Resist Book, 2004.
Salmi, Jamil. Violence and Democratic Society. Yogyakarta : Pilar Media, 2005.
Sarbini Sumawinata. Revolusi 1998. Jakarta : Yayasan Kerakyatan, 1998.
Sardo. Meruntuhkan Paham Sesat Kebangsaan; Pokok-Pokok Pikiran Lenin dan Stalin. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Sartre, Jean Paul. Dogmatik Kritik. Jakarta : CELEPUK, 2004.
Sarup, Madan. Pos Strukturalisme dan Pos Modernisme. Yogyakarta : Jendela, 2003.
Schacht, Richard. Alienasi. Yogyakarta : Jalasutra, 2005.
Schlosser, Eric. Negeri Fast Food. Yogyakarta : Insist Press, 2004.
Seale, Patrick,. and McConville, Maureen. Pemberontakan Mahasiswa; Revolusi Prancis, Mei 1968. Yogyakarta : Yayasan Litera Indonesia, 2000.
Semaoen. Hikayat Kadiroen. Yogyakarta : Yayasan Bentang Budaya, 2000.
Sembiring, Garda dan Harsono Sutedjo (ed.). Gerakan 30 September 1965; Kesaksian Letkol (Pnb) Heru Atmodjo. Jakarta : PEC, 2004.
Shaw, Martin. Bebas Dari Militer. Yogyakarta : Pustaka Pelajar dan Insist Press, 2001.
Shiva, Vandhana. Water Wars. Yogyakarta : Insist Press, 2002.
Shiva, Vandana dan Mies, Maria. Ecofeminism; Perspektif Gerakan Perempuan dan Lingkungan. Yogyakarta : IRE Press, 2005.
Shutt, Harry. Runtuhnya Kapitalisme. Jakarta : Teraju, 2005.
Simamora, Sahat (ed.). Pembangunan Politik dalam Perspektif. Yogyakarta : PT Bina Aksara, t. th.
Simatauw, Meentje,. Simanjuntak, Leonard,. dan Pantoro Trikuswardono. Gender dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Kupang : Yayasan PIKUL, 2001.
Simon, Roger. Gagasan-Gagasan Politik Gramsci. Yogyakarta : Insist Press, 1999.
Siregar, Amir Effendi (ed.). Arus Pemikiran Ekonomi Politik. Yogyakarta : PT Tiara Wacana, 1991.
Sisk, Timothy D. Demokrasi di Tingkat Lokal. Stockholm : International IDEA, 2001.
Siti Murtiningsih. Pendidikan Alat Perlawanan; Teori Pendidikan Radikal Paulo Freire. Yogyakarta : Resist Book, 2004.
Smith, Anthony D. Nasionalisme; Teori, Ideologi, Sejarah. Jakarta : Erlangga, 2003.
Smith, Linda Tuhiwai. Dekolonisasi Metodologi. Yogyakarta : Insist Press, 2005.
Smith, William A. Conscientizacao; Tujuan Pendidikan Paulo Freire. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2001.
Sobirin Malian dan Suparman Marzuki. Pendidikan Kewarganegaraan dan Hak Asasi Manusia. Yogyakarta : UII Press, 2003.
Soedjatmoko. Kebudayaan Sosialis. Jakarta : Melibas, 2001.
Soedjono Dirdjosisworo. Pengadilan Hak Asasi Manusia. Bandung : PT Citra Aditya Bakti, 2002.
Soegiri D. S. dan Edi Cahyono. Gerakan Serikat Buruh; Jaman Kolonial Hindia Belanda Hingga Orde Baru. Jakarta : Hasta Mitra, 2003.
Soekadijo. Logika Dasar; Tradisional, Simbolik dan Induktif. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1983.
Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 1990.
Soekarno. Indonesia Menggugat. Yogyakarta : Yayasan Untuk Indonesia, 2001.
Soenarto. Euforia, Reformasi atau Revolusi. Jakarta : Lembaga Putra Fajar, 2003.
Soepardi Sariohartono. 100 Tahun Bung Karno. Surabaya : UNTAG Surabaya, 2001.
Soewarsono. Berbareng Bergerak; Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen. Yogyakarta : LKiS, 2000.
Sorensen, Georg. Demokrasi dan Demokratisasi; Proses dan Prospek dalam Sebuah Dunia yang Sedang Berubah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003.
Soros, George. Krisis Kapitalisme Global; Masyarakat Terbuka dan Ancaman Terhadapnya. Yogyakarta : Qalam, 2001.
Squires, Judith. Gender in Political Theory. Cambridge : Polity Press, 1999.
Steger, Manfred B. Globalisme; Bangkitnya Ideologi Pasar. Yogyakarta : Lafadl Pustaka, 2002.
Stiglitz, Joseph E,. Dekade Keserakahan; Era 90-an dan Awal Mula Petaka Ekonomi Dunia. Serpong : Marjin Kiri, 2006.
Strong, C, F,. Konstitusi-Konstitusi Politik Modern. Bandung : Nuansa, 2004.
St Tri Guntur Narwaya. Matinya Ilmu Komunikasi. Yogyakarta : Resist Book, 2006.
Sturrock, John (ed.). Strukturalisme dan Post Strukturalisme; Dari Levi Strauss Sampai Derrida. Surabaya : JP Press, 2004.
Sudisman. Pledoi Sudisman; Kritik Oto Kritik. Jakarta : TEPLOK Press, 2000.
Suharko. Merajut Demokrasi; Hubungan NGO, Pemerintah dan Pengembangan Tata Pemerintahan Demokratis (1966-2001). Yogyakarta : Tiara Wacana, 2005.
Suhartini, Rr. dkk (peny). Model-Model Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta : Pustaka Pesantren, 2005.
Sunardian Wirodono. Matikan TV-mu! Teror Media Televisi di Indonesia. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Sunaryo Purwosumitro (ed.). Oposisi Abadi. Yogyakarta : BIGRAF Publishing, 1999.
Surbakti, Ramlan. Perbandingan Sistem Politik. Surabaya : Mecphiso Grafika, 1984.
———. Memahami Ilmu Politik. Jakarta : Grasindo, 1992.
Suroso, S. Asal Usul Teori Sosialisme, Marxisme Sampai Komune Paris. Jakarta : Pustaka Pena, 2001.
———. Berbagai Fakta dan Kesaksian Sekitar “Peristiwa Madiun”. Jakarta : Pustaka Pena, t. th.
Suryawasita. Teologi Pembebasan Gustavo Gutierrez. Yogyakarta : Jendela, 2001.
Suyatno. Menjelajahi Demokrasi. Yogyakarta : Liebe Book, 2004.
Tan Malaka. Aksi Massa. Yogyakarta : Teplok Press, 2000.
———. Madilog. Yogyakarta : Teplok Press, 2000.
———. Gerpolek; Gerilya Politik Ekonomi. Jakarta : Djambatan, 2000.
———. Dari Penjara Ke Penjara; Bagian Satu. Yogyakarta : Teplok Press, 2000.
———. Dari Penjara Ke Penjara; Bagian Dua. Yogyakarta : Teplok Press, 2000.
———. Dari Penjara Ke Penjara; Bagian Tiga. Yogyakarta : Teplok Press, 2000.
Teitel, Ruti G. Keadilan Transisional; Sebuah Tinjauan Komprehensif. Jakarta : ELSAM, 2004.
Thoha, Miftah. Perilaku Organisasi; Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2003.
Tholkhah, Imam. Anatomi Konflik Politik di Indonesia; Belajar Dari Ketegangan Politik Varian di Madukoro. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001.
Tim Kajian LKSM. Perspektif Pemikiran Bung Karno. Jakarta : Lembaga Putra Fajar, 2004.
Tim Kerja Lapera, Politik Pemberdayaan. Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2001.
Tim Kruha. Kemelut Sumber Daya Air; Menggugat Privatisasi Air di Indonesia. Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2005.
Timur Mahardika. Gerakan Massa; Mengupayakan Demokrasi dan Keadilan Secara Damai. Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2000.
———. Strategi Tiga Kaki; Dari Pintu Otonomi Daerah Mencapai Keadilan Sosial. Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2001.
———. Strategi Membuka Jalan Perubahan. Bantul : Pondok Edukasi, 2006.
Toffler, Alvin and Heidi. Menciptakan Peradaban Baru. Yogyakarta : Ikon Teralitera, 2002.
Tomagola, Tamrin Amal,. Republik Kapling. Yogyakarta : Resist Book, 2006.
Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought. Yogyakarta : Jalasutra, 2005.
Topatimasang, Roem. Sekolah Itu Candu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998.
———. Orang-Orang Kalah. Yogyakarta : Insist Press, 2004.
Topatimasang, Roem dan Tan, Jo Hann. Mengorganisir Rakyat, Refleksi Pengalaman Pengorganisasian Rakyat di Asia Tenggara. Yogyakarta : SEAPCP-REaD, 2003.
Topatimasang, Roem dkk. Sehat Itu Hak; Panduan Advokasi Kebijakan Kesehatan. Yogyakarta : Insist Press, 2005.
Topatimasang, Roem, Mansour Fakih dan Toto Rahardjo (ed.). Merubah Kebijakan Publik. Yogyakarta : Insist Press, 2000.
Townshend, Jules. Politik Marxisme. Yogyakarta : Jendela, 2003.
Treanor, Paul. Kebohongan Demokrasi. Yogyakarta : Wacana, 2001.
Tung, Mao Tse. Kontradiksi. Yogyakarta : Teplok Press, 2000.
Turner, Bryan. Teori-Teori Sosiologi Modernitas dan Posmodernitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2000.
Varma, S. P. Teori Politik Modern. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2001.
Wahyudi Kumorotomo dan Subando Agus Margono. Sistem Informasi Manajemen Dalam Organisasi Publik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1994.
Wahyudin (ed.). Memotret Kanan Baru; Tanggapan Atas The End of History Fukuyama. Yogyakarta : Kreasi Wacana, 2001.
Wawan Tunggul Alam (ed.). Bung Karno; Demokrasi Terpimpin Milik Rakyat Indonesia. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.
Weber, Max. Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Surabaya : Pustaka Promethea, 2000.
Wheare, K. C. Konstitusi-Konstitusi Modern. Surabaya : Pustaka Eureka, 2003.
Widjaja, HAW. Otonomi Daerah dan Daerah Otonom. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002.
Wilhelm, Anthony G. Demokrasi di Era Digital. Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003.
Wilkinson, Paul. New Fascists. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Wolf, Eric R. Perang Petani. Yogyakarta : Insist Press, 2004.
Woods, Alan and Grant, Ted. Reason in Revolt; Revolusi Berpikir Dalam Ilmu Pengetahuan Modern. Yogyakarta : IRE Press, 2006.
Yudhie Haryono. Melawan Dengan Teks. Yogyakarta : Resist Book, 2005.
Zainul Munasichin. Berebut Kiri; Pergulatan Marxisme Awal di Indonesia 1912-1926. Yogyakarta : LKiS, 2005.
Zaiyardam Zubir. Radikalisme Kaum Pinggiran. Yogyakarta : Insist Press, 2002.
Zaiyardam Zubir dan Lindayanti. Dari Ahong Sampai Ahmad. Yogyakarta : Insist Press, 2004.

Majalah
Basis. 100 Tahun Bung Karno 1901-2001. Edisi No. 03-04 Tahun ke 50, Yogyakarta : Yayasan BP Basis, 2001.
———. Konfrontasi Foucault dan Marx. Edisi No. 01-02 Tahun ke 51, Yogyakarta : Yayasan BP Basis, 2002.
Dignitas; Jurnal Hak Asasi Manusia. Transitional Justice. Vol. I No. I, Jakarta : ELSAM, 2003.
Jurnal Kiri; Sosialisme Ilmiah Demokratik, Vol. 1. Kelas, Perjuangan Kelas, Neoliberalisme. Yogyakarta : Neuron, 2000.
———. Kelas, Metode, Teori, Filsafat, Neoliberalisme. Yogyakarta : Neuron, 2000.
———. Metode Berpikir, Filsafat, Neoliberalisme. Yogyakarta : Neuron, 2000.
Jurnal Perempuan no. 47. Mengapa Perempuan Menolak?. Jakarta : Yayasan Jurnal Perempuan, 2006.
Kritik; Jurnal Pembaruan Sosialisme, Vol. 3/I. Sosialisme dan Masalah Kebangsaan. Jakarta : t. tb. 2000.
Mandatory. Krisis Demokrasi Liberal. Edisi 1Tahun I, Yogyakarta : IRE, 2004.
———. Politik Perlawanan. Edisi 2 Tahun 2, Yogyakarta : IRE, 2005.
Srinthil; Media Perempuan Multikultur. Menggugat Maskulinitas dan Femininitas. No. 5, Jakarta : Desantara, 2003.
Wacana; Jurnal Ilmu Sosial Transformatif. Krisis dan Bencana Pembangunan. Edisi 5, Yogyakarta : Insist Press, 2000.
———. Hak Asazi Manusia; Antara Skenario Kemanusiaan dan Proyek Global. Edisi 8, Yogyakarta : Insist Press, 2001.
———. Mencari Format Negara Baru. Edisi 10, Yogyakarta : Insist Press, 2002.
———. Lingkungan Versus Kapitalisme Global. Edisi 12, Yogyakarta : Insist Press, 2002.
———. Budaya dan Proses Sosial. Edisi 13, Yogyakarta : Insist Press, 2002.
———. Korupsi; Sengketa Antara Negara dan Modal. Edisi 14, Yogyakarta : Insist Press, 2002.
———. Pendidikan Populer; Dekolonisasi Metodologi. Edisi 15, Yogyakarta : Insist Press, 2003.
———. Membongkar Proyek-Proyek ORNOP. Edisi 16, Yogyakarta : Insist Press, 2004.
———. Negeri Tentara; Membongkar Politik Ekonomi Militer. Edisi 17, Yogyakarta : Insist Press, 2004.
———. Demokratisasi Atau Kenapa Demokrasi Itu Buruk. Edisi 18, Yogyakarta : Insist Press, 2004.
———. Kuasa Korporasi; Dari Hegemoni Rasa Sampai Hegemoni Pikiran. Edisi 19, Yogyakarta : Insist Press, 2005.
———. Kebijakan Kehutanan: Gagal!. Edisi 20, Yogyakarta : Insist Press, 2005.
———. Pilkadal. Edisi 21, Yogyakarta : Insist Press, 2005.
———. Menuju Transportasi yang Manusiawi. Edisi 22, Yogyakarta : Insist Press, 2005.

Maaf, masih banyak judul buku saya yang belum bisa dimuat dan saya usahakan mencatatnya saat ada waktu senggang, mohon pengertiannya…
Eh, sori neeh…. buku-buku saya yang non social politik keburu diangkut ke Manado yakni buku-2 hukum, ekonomi dan pengetahuan umum lainnya…
Jadi, kapan-kapan aja yakzzzz…….. :D

Ditulis dalam Buku | 1 Komentar »

Pendidikan menghamba pada siapa?

Ditulis oleh dhant di/pada April 23, 2006

Kita tak bisa memiliki pendidikan tanpa revolusi
Kita telah mencoba pendidikan damai selama seribu sembilan ratus tahun
Mari kita coba revolusi dan kita lihat
Apa yang dapat dilakukannya sekarang
(Hellen Keller)

Mukanya tampak begitu muram. Ia bawa tubuhnya keluar dari ruangan yang penuh sesak. Seakan menolak untuk istirahat diayuhnya sepeda itu menuju jalanan yang begitu padat. Ia tak tahu lagi kemana harus menyodorkan ijazah anaknya yang baru lulus Sekolah Dasar. Sekolah yang baru didatanginya mensyaratkan setoran uang yang begitu besar. Kata panitia penerimaan, uang untuk perbaikan dan pembangunan gedung. Ia mencoba menegoisasi jumlah tapi panitia tadi tampaknya menolak tawaran apapun. Kini harapan tentang sebuah masa depan yang lebih baik tampaknya harus ia tunda. Nilai tinggi yang tercantum di lembaran ijazah itu seolah tak memiliki arti banyak. Ia kini baru percaya omongan beberapa tetangga, kalau pintar bukan modal yang utama. Sekolah nyatanya perlu uang yang besarnya kerapkali sulit untuk dijangkau.

Sejak Taman Kanak-Kanak uang telah memperkenalkan diri sebagai mesin pelumas berjalannya proses pembelajaran. Dalam usia tiga tahun uang sekolah bisa mencapai angka jutaan hanya untuk melatih anak menyanyi, makan dan duduk di bangku yang enak. Sejak dini pendidikan telah memakan ongkos fantastis dengan dalih peningkatan mutu dan kualitas. Seringkali dicontohkan bagaimana pendidikan terbaik yang ada di Singapura, Inggris, Amerika yang memakan biaya tidak sedikit. Beberapa ahli pendidikan mulai menggagas pendidikan yang dikelola mirip dengan perusahaan. Anak didik seperti bahan baku yang diolah dengan cara yang sama dan keluar dengan kualitas yang tak jauh beda. Individualitas ditekan untuk memiliki kemiripan satu dengan yang lain.
Sekolah tiba-tiba kehilangan identitas. Pelajaran ekonomi memperkenalkan anak pada kehidupan ekonomi yang jauh dari realitas. Pelajaran sejarah hanya memberikan penjelasan tentang kebesaran para penguasa bukan pengorbanan rakyat. Pelajaran membaca terus-menerus memperkenalkan anak pada konstruksi keluarga yang asing . Sekolah telah mengasingkan anak dari kenyataan yang ada di sekelilingnya. Hujatan tentang sekolah bermula dari metodologi yang selalu tidak sejalan dengan kebutuhan anak didik . Banyak pihak kemudian melakukan kritik keras pada jajaran guru yang dianggap kurang kreatif. Guru disebut-sebut sebagai lapisan yang tidak mempunyai kemampuan dan kapasitas untuk meningkatkan kemampuan siswa. Tapi kritik itu ternyata tidak menembak sasaran dengan tepat.

Guru nasibnya tak jauh lebih baik ketimbang muridnya. Sosok ini terus didera musibah, dari gaji yang rendah hingga jaminan perlindungan nyawa, terutama guru yang bekerja di daerah daerah konflik. Nestapa seorang guru sulit untuk dilukiskan dalam serangkaian kalimat bahkan lebih tepat untuk dialami dan dijalani sendiri. Pedihnya kehidupan guru adalah paras muka sesungguhnya kualitas pendidikan kita. Dimana-mana guru berada dalam kondisi yang susah, karenanya banyak pihak bilang, guru adalah pilihan profesi yang paling buncit. Lebih-lebih guru yang berada di daerah terpencil, yang mendapat tugas tambahan, untuk mengajak aktif masyarakat agar sadar dan ikut terlibat dalam lembaga pendidikan. Hal serupa melanda guru yang statusnya masih tidak tetap dimana gaji maupun hak-haknya masih berada di bawah mereka yang tetap. Label birokrasi yang membuat guru meski pekerjaanya serupa tapi mendapat hak yang berbeda. Ringkasnya soal pendidikan bukan salah guru semata.

Maka pelatihan guru tentang methodologi pengajaran itu penting, tetapi jauh lebih penting untuk belajar pada guru, bagaimana mereka tetap bisa ‘hidup’ wajar di tengah kekurangan. Bagaimana mereka masih menyungging senyum meski gaji selalu dipotong sana-sini. Bagaimana mereka mengajar masih dengan pita suara yang utuh walau gaji kadang tidak cukup untuk sebulan. Kehidupan guru merupakan cermin dari beratnya beban dan betapa kokohnya sikap penuh keprihatinan. Guru merupakan manifestasi dari nasib bangsa ini yang selalu terjerembab dalam persoalan yang sama. Maka ada baiknya, bukan guru yang dilatih, tapi para pengambil kebijakan itulah yang wajib ‘ditatar’ oleh para guru-guru kita. Penguasa kita semustinya memahami kalau soal pendidikan, bukan terletak di mentereng tidaknya bangunan, tapi dari bagaimana negara ‘memperlakukan’ para guru.

Soalnya dalam dunia pendidikan ini memang, yang utama dan paling utama, adalah bagaimana politik penguasa. Minimnya anggaran pendidikan adalah bentuk penghinaan pada akal sehat. Anggaran yang minim ditunjang oleh makin mengecilnya peran negara telah membuat pendidikan hanya menjadi tawanan dari kuasa modal. Pada masa silam, rezim kolonial sekalipun, masih menganggap kebijakan hina kalau pendidikan dikasihkan semua pada swasta. Pendidikan adalah bagian inti dari kedaulatan dan harga diri bangsa. Sebab melalui pendidikan, karakter dan pembentukan identitas seorang warga itu tumbuh dan berkembang. Tapi proses pendidikan yang ada saat ini telah mengubah itu semua. Mandat pembentukan identitas digantikan dengan pemerkuatan ketrampilan. Sekolah kini bukan lagi untuk penyempurnaan akal dan budi melainkan untuk menghadapkan anak dalam dunia pasar.

Pasar telah merajai pendidikan dan malahan ikut mewarnai proses pembelajarannya. Mulai dari bentuk bangunan hingga kurikulum, pasar ikut mengambil peranan yang menentukan. Ketika pasar memerlukan seorang biduan maka pendidikan tarik suara kemudian didirikan. Saat pasar membutuhkan para pekerja keuangan maka pendidikan menjawab dengan pendirian sekolah perbankan. Sewaktu pasar butuh seorang yang mahir jadi MC maka pendidikan-pun ikut menyesuaikan. Pasar memiliki hasrat yang tak boleh dicela apalagi ditolak oleh pendidikan. Pendidikan dan pasar seperti hubungan antara budak dan tuan. Pasar adalah tuan yang perintah maupun permintaanya tak bisa ditolak oleh pendidikan. Jelas kini, pendidikan itu menghamba pada siapa dan apa!

Modal mula-mula menyelinap dalam bentuk pelajaran ekonomi yang mengasingkan anak pada kehidupan riil ekonomi rakyat. Kita ingat bagaimana perkenalan kita pada kebutuhan primer, skunder dan tersier yang sebenarnya berakar pada ekonomi industri. Berangsur-angsur instrumen modal menanam bibit-bibit pragmatis yang memotivasi pendidikan untuk melatih siswa menjadi budak. Eratnya hubungan pasar dengan lembaga pendidikan membuat pendidikan kemudian mengembangkan kultur belajar yang berwatak industrial. Tumbuhnya sekolah unggulan menjadi bukti bagaimana pendidikan dikerjakan dengan semangat untuk menempatkan seorang anak persis seperti benda antik. Dipoles sedemikian rupa dengan target yang ditentukan oleh sistem pasar.

Sesudah menyelinap dalam bentuk mata pelajaran maka modal berkiprah dalam bentuk pengelolaan. Pendidikan kini layaknya industri makanan yang menggunakan sistem waralaba. Sekelompok usahawan berserikat untuk mendirikan pendidikan dengan menggunakan nama asing. Pendirian pendidikan untuk waralaba ini merupakan usaha untuk memberikan fungsi baru pada lembaga pendidikan, yakni peran sebagai penyeleksi kelas. Sama halnya dengan bisnis apartemen, pendidikan kemudian bukan lagi sekedar untuk mendapatkan pengetahuan tapi merupakan cerminan dari status dan gaya hidup seseorang. Bersekolah dimanakah anda, akan menunjukkan dari mana asal-muasal kelas sosial anda . Tentu anak yang sekolah di President School beda jauh dengan mereka yang berkelana di SD Inpres.

Instalasi modal tidak puas hanya dengan merebut kurikulum melainkan juga memfasilitasi dengan sejumlah methode pembelajaran. Pengadaan buku-buku yang kemudian berujung pada korupsi memberikan sinyal bagaimana pendidikan kerapkali jadi alat pemeras. Buku-buku pelajaran yang diseragamkan memberi kita cerminan bagaimana dikikisnya inisiatif dan gagasan siswa. Yang mencemaskan kalau guru ikut terlibat dalam memasarkan sejumlah LKS dan memaksa siswa untuk membeli. Pasar buku pelajaran memang dikendalikan oleh oligarkhi penerbit yang mau menservis pada pengambil kebijakan . Relasi dagang antar institusi ini yang membuat pendidikan kian rusak!

Dimana peran pengambil kebijakan pendidikan? Usaha yang ditempuh kemudian tidak mencoba memahami akar persoalan melainkan melakukan perubahan-perubahan yang lebih banyak memakan ongkos. Dari model pendidikan dua jalur kemudian UU BHP hingga yang terakhir standar uji nasional. Ada baiknya semua persoalan pendidikan dipetakan dengan lebih strategis. Pemetaan ini bukan untuk menjawab kebutuhan 5 tahunan melainkan untuk menyelesaikan persoalan pada jangka panjang. Paling tidak pertanyaan yang musti dipertajam adalah dimana sebenarnya pendidikan akan diposisikan dan akan mengabdi kepada siapa sesungguhnya pendidikan itu? Akan kemana larinya para peserta didik yang telah dikucuri dengan berbagai pelajaran? Pemetaan ini sebaiknya berangkat dari akar historis bagaimana sebenarnya peran pendidikan dan mandat pendidikan pada masa lalu. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang niscaya akan memberi kejelasan pada kita, dimana pendidikan sebenarnya ‘berhamba’!

Ditulis dalam Pendidikan | Leave a Comment »

Aku dan Adikku

Ditulis oleh dhant di/pada April 20, 2006

Namaku…
Erasmus Luhur Watupongoh
Anak yang ganteng dan cakep
Selalu riang gembira
Tak pernah bersusah hati

Diriku…
Memiliki kakak yang sangat sayang
Walau kadang berbuat nakal
Ia juga suka hilang akal
Melihat aku yang memang hyper active

Aku…
Sudah bersiap memasuki TK
Bersama mama yang tercinta
Papi dan mami tak henti melindungiku
dan kakakku yang menganggapku adalah segalanya

Ditulis dalam Keluarga | Leave a Comment »

Meracau

Ditulis oleh dhant di/pada April 10, 2006

Alkisah dinegeri nan jauh disana, tepatnya dekat pulau besar sekali yang memiliki nama Australia, nah, didekat pulau itu terdapat negeri yang kabarnya makmur (koq ga pernah kedengaran sebagai negeri maju mungkin karena makmur, rakyatnya jadi malas? Oh, pernah denger sih dari film Hollywood yang ngasih tau itu negara yang kere, konflik bersenjata dan masih primitif) dengan penjabaran pulau-pulau besar dan kecil 13.000 lebih (nah loe, emangnya dikit…….. apa pulau tukung di Balikpapan termasuk ya?).

Ingin sekali dikatakan mereka berbangsa melayu tapi banyak yang protes, ngakunya kulitnya item, sipit, putih, coklat tua, bahasanya dari yang lambat seperti keong sampai yang kasar seperti orang marahan (kebanyakan jadi copet en kondektur di Jkt kate orang-2) malahan ada yang ngaku sama orang Belanda mereka bersaudara padahal udah kategori melanesia.

Ingin sekali ngatain mereka orang berbudaya timur nan lembut sedangkan sejarah mereka penuh dengan pembunuhan berdarah, nenek moyangnya aja si pithecanthropus erectus, homo soloensis dan si palaloe javanicus aja dari Mongol sana. Budayanya pasti jawa karena lengkap sekali sampai tata cara memerintah yang priyayi dan abangan terpisah selayaknya hubungan kawula gusti (hamba dan tuan) namun ternyata dilain sisi ada yang budayanya cuma nutup ditorpedonya dan masih nomaden (ketinggalan tahap dari yang udah masuk zaman feodal). Semuanya ngaku pribumi dan yang keturunan arab, India, cina bukan walaupun Susi dan Alan mengharumkan negaranya, walisongo beberapa juga ada yang cina dan arab, Raam Punjadi jadi raja sinetron ga ngurus tema high class sampai agama setengah horror yang penting duit atau anand krisna yang pernah nipu muridnya dalam pembuatan rumah untuk ritualnya.

Belum lagi yang satu nuduh yang lain ga apalah atau nyembah demit dan salah (udah jadi Tuhan; pengambilalihan peran). Agamanya ngakunya sih islam tapi ternyata ada kristennya lho, lalu budha, hindu tak ketinggalan tapi bedakan yang hinayana ama Mahayana lalu kaharingan, belakangan ada konghucu…. Itu aja??? Ada sih yang laennya tapi entar dilarang. Koq bisa? Kan di UUD’45 sebagai konstitusi negara itu ga diskriminan koq justru dikasih kebebasan. Palingan juga dimengerti sama masyarakatnya agar agamanya ga ludes dikalahin sekte yang jadi agama, makanya agama dibuat dalam edisi terbatas yang intinya terbagi atas agama yang turun langung dari Tuhan dan agama yang diperoleh melalui proses pencaharian.

PBB aja ada anggota tetap dengan hak-2 istimewa yakni veto, memelihara WB, IMF dan ADB untuk membuktikan kebenaran teori ketergantungan dengan memberikan utangan lalu WTO sebagai alat pemelihara kepentingan neolib dan HAM adalah kebenaran yang dikatakan oleh perusahaan multi/trans-nasional. Biasalah, diskriminasi itu ga ada lagi. Lho…? Ternyata hindu ama budha udah rebutan jadi pemilik negeri itu sebelum islam datang dan sampai sekarang budaya dari arab, India dan cina lalu barat, koq ga ilang-ilang dari negeri itu.

Ditulis dalam Hiburan | Leave a Comment »

Hamba bersabda….

Ditulis oleh dhant di/pada April 6, 2006

Hamba bukanlah pemilik kuasa hanya merdeka
menggunakan mouse dan menekan tuts keyboard saja.

Hamba merasa multikultur adalah kebanggaan dan
berbicara seadanya adalah hal biasa.
Toh, semua hanya subyektivitas belaka dan kebenaran
yang relatif semata.
Pabila merasa ‘panas’, harap dibalas dengan
kreativitas pula dan ilmiah, jangan dihakimi lalu
dijadikan ‘ampas’.
Keinginan untuk berbicara semua hal tak terkecuali,
adalah hak azasi untuk menolak diri dalam dunia yang
semakin terspesialisasi.
Berbicara ‘politik’ menjadi hal yang lumrah, seperti
mempengaruhi manusia lainnya dalam keseharian secara
terarah.
Sebuah janji, bahwa transpolitica dalam era
virtualitas menghancurkan sekat-2
dominasi kelompok dan institusi tertentu,
hilang dan memberi kebebasan mutlak
bagi semua manusia untuk berbicara
dan membela hak-2nya, tanpa polusi.

Setulus kata-2 maaf ku mencoba,
Tanpa maksud bertarung nyawa.
Mengurangi hal yang tak pantas,
Tak ingin diberantas
Tanpa menghilangkan kreativitas,
dan melewati batas.
Semoga tidak termoderasi,
Serta tidak lagi dimusuhi.

Hamba percaya bahwa semua hanya bagian dari permainan
‘peran’ yang selalu berjalan, berganti tiada henti.
Hari ini kuberjanji, esok bisa kuludahi.

Revolusi selalu terjadi dan berganti…
Semua terus berubah, hanya memperkaya perspektif guna
hari esok dan berusaha berdamai dengan sejarah.

Apalah arti sebuah nama, tubuh dan wajah, hanya ingin
pikiran serta bahasa verbalnya diperhatikan dan
dihargai bukan apa yang tampak dimata

Niatan bukan Karma, masih banyak jalan menuju Roma.
Bukannya memohon, walau sudah tidak tinggal di
Tomohon.

Patah Tumbuh, Hilang Berganti.
Mari membangun hubungan baru yang lebih berarti.

Ditulis dalam Puisi Basi | Leave a Comment »

Konflik Poso

Ditulis oleh dhant di/pada April 2, 2006

Tau ga,
Dahulu, jika mendengar ada konflik sektarian selalu jawaban yang terlintas adalah kumpulin mereka semua yang terlibat naikin kapal, tenggelamin, udah, selesai deh masalahnya.

Sekarang, setelah banyak intervensi dalam pikiran saya ternyata hal diatas tidak akan menyelesaikan masalah. Konflik sektarian ini hanya akan memperkuat sentimen pihak-2 yang sebelumnya tidak ikut-ikutan dan memperluas dalam skala yang lebih besar lagi.

Kasus konflik Poso sendiri merupakan perluasan dari konflik horizontal dibeberapa daerah saat jatuhnya kekuasaan rezim orde baru. Ada beberapa teori yang mengenai sebab musabab terjadinya konflik sektarian ini:

1. Konflik ini terjadi akibat pergolakan dari masa sebelumnya yang tidak bisa diredam dan mencapai/menemukan momentumnya saat kejatuhan rezim orde baru disertai terjadinya konflik dibeberapa daerah dengan ciri, motif dan pola yang serupa.

2. Konflik ini sebagai bagian dari rekayasa militer saat kejatuhan orde baru yang digunakan untuk menurunkan citra kepemimpinan sipil yang mengambil alih dari tangan Jendral Besar Soeharto. Dengan banyaknya konflik yang terjadi memberikan stigma bahwa sipil tidak becus memimpin negara dan mengharuskan militer terlibat didalamnya artinya dwifungsi TNI tidak diganggu gugat dan kepemimpinan sipil beralih ketangan militer (aktif maupun purnawirawan) dan tampaknya strategi ini akhirnya berhasil. Konsolidasi sipil memang gagal dan militer hanya membutuhkan 3 tahun (1998-2001) untuk mendapatkan kembali posisi tawar yang tinggi.

3. Konflik ini dan lainnya diberbagai daerah sebagai praktek dari teorisasi dari S. Huntington about clash of civilization yang telah dikeluarkan semenjak pertengahan 90-an. Karya dari S. Huntington banyak menjadi panduan dan arah bagi kaum intelektual dalam memandang masa depan mengingat posisinya sebagai penasehat dalam Deplu Amerika (menurut saya banyak sekali buku-2 yang ditulis oleh pemikir Amerika yang memang secara tidak langsung sengaja memberikan kerangka bagi bentuk dunia di masa depan dan hal ini memang berkaitan erat dengan kepentingan Amerika dan kapitalisme global dalam menghegemoni dan penguasaannya. Anda bisa mempelajari kasus kebijakan Thatcher dan Reagen dalam mengusung neoliberalisme).

Dari hal-2 diatas, point 1 lebih mengarah pada konflik yang biasa terjadi dimasyarakat namun tetap ada mengingat kebijakan politik negara rezim orde baru sengaja memberi ruang bagi terjadinya konflik (lihat tulisan Andree Feillard mengenai kekerasan antar agama yang menurutnya Soeharto sengaja memecah belah rakyatnya untuk mempertahankan kekuasaan).

Pada point 2 menurut saya sangat penting karena merupakan kebijakan institusi militer yang mencoba untuk tetap bertahan dalam perubahan. Bila pada menjelang dan saat kejatuhan Soeharto, kerusuhan baik etnis maupun agama lebih banyak dilakukan oleh Prabowo guna menjatuhkan wibawa Wiranto dan menggantikannya maka konflik yang terjadi pasca orde baru memang bagian dari kebijakan institusional TNI. (bisa dipelajari dari persaingan ditubuh militer pertama antara eks KNIL dan PETA memperebutkan dominasi ditambah Laskar Rakyat dari Parpol yang secara kuantitas lebih banyak namun tersingkir saat ide Nasution tentang Re-Ra dilaksanakan serta upaya militer (dalam hal ini kudeta dilakukan beberapa kali oleh Lubis dan Nasution) dalam mende-legitimasi kekuasaan sipil (presiden).

Sedangkan persaingan kedua terjadi pada pertengahan akhir 80-an dan berlanjut di awal 90-an dimana legitimasi Soeharto menurun dari kalangan militer akibat persaingannya dengan Moerdani dan bergeser kebijakan politiknya dari membatasi ruang gerak Islam fundamentalis dan merangkul Islam reformis yang tersterilisasi menjadi dibukanya semua kelompok Islam. Akibatnya, militer terbelah dua menjadi ABRI merah dan hijau serta dengan diberinya ruang gerak pada kelompok Islam fundamentalis dan moderat walaupun masih terbatas (tetap dikontrol dengan test case pada peristiwa Tanjung Priok dan pembentukan LDII serta reinkarnasi DII/TII yang dipolitisir menjadi NII dibawah kendali Golkar dan Cendana) namun cukup untuk berkembang menjadi besar.

Persaingan ketiga terjadi era Wiranto dan Prabowo namun dengan kesalahan langkah dan hitung-hitungan membuatnya justru dianggap biang kerok kejatuhan Soeharto oleh Cendana. Kepergian Prabowo secara otomatis tidak ada rivalitas besar yang terjadi mengingat kelompok mayoritas lebih setuju untuk cooling down seraya berkonsolidasi dan terus memperlemah kedudukan supremasi sipil agar posisi tawar militer tetap kuat dan hanya menyisakan militer reformis seperti Agus W. cs yang setuju militer kembali kebarak namun secara kekuatan tidak ada.

Rivalitas ke 4 sebenarnya berpeluang terjadi pada saat jatuhnya Gus Dur dimana Ryamizard Ryacudu memperlihatkan keberpihakannya pada Megawati (deal antara T. Kiemas dengan R. Ryacudu terjadi tidak terlepas dari factor kesamaan asal daerah yaitu Palembang) namun akhirnya kalah oleh kelompok mayoritas yang ingin militer kembali menjadi pemain utama perpolitikan nasional secara pelan tapi pasti).

Delegitimasi ini dilakukan dengan menyulut kebencian yang secara historis memang berpotensi timbul sentimen SARA. Artinya masyarakat di wilayah konflik hanya korban bagi militer yang sengaja memperlebar jurang perbedaan yang sudah berbeda.

Pada point 3 menurut saya karena cara berpikir masyarakat dunia sudah tersetting secara perlahan namun pasti membawa pada benturan peradaban yakni timur vs barat dan islam vs kristen. Akhirnya masing-masing salah mengerti dalam cara pandang terhadap lawan maupun mereka sendiri. Fenomena dunia sekarang ini memberikan bukti nyata bahwa kesalahpahaman ini telah teryakini sebagai sebuah kebenaran dan perang antara islam vs Kristen seperti dahulu perang salib sudah terjadi berkedok perang atas terorisme, perang atas kediktatoran yang tidak demokratis serta sebagainya (menurut saya, agama sebenarnya nomor 2 dari persoalan karena motif ekonomi yang mencari keuntungan dan berakhir pada kekuasaan adalah factor utama. Tidak percaya, apakah Amerika mau menengahi konflik dan mengintervensi politik dan militer negara-2 di afrika yang tidak memiliki SDA sama sekali dibandingkan Timur Tengah, Asia, Amerika Selatan? Dan menghancurkan kekuatan yang berpotensi menjadi lawan dengan alasan terorisme?).

Pada kasus Indonesia, strategi global ini ternyata sejalan dengan perkembangan kelompok islam garis keras yang memang berkembang perlahan sejak awal 90-an dan ideology kekerasannya diimpor oleh alumni Afghanistan, moro Flilipina dsb. Parahnya, mereka semakin berkeyakinan bahwa cara ini adalah benar dengan menggunakan dalil dari imam garis keras yang menginterpretasikan dan menggunakan metode kekerasan meskipun sesungguhnya tidak ada kitab suci Al Qur’an dan Al Hadits.

Faktor diatas dipandang sebagai asal namun bukan berarti berhenti disitu saja melainkan ada juga aktor-2 yang berperan penting bagi tetap berlangsungnya konflik, yakni :

1. Elit politik yang memang mendapatkan keuntungan dari adanya kejadian ini. Apakah keuntungan ini? Bermacam-macam, dari motif mendapatkan keuntungan secara ekonomi (bisnis yang bebas pajak, kerjasama dengan militer tentang hasil hutan dsb) sampai dengan mepentingan politik dan kelompoknya semisal pencalonan kepala daerah (bupati, walikota dan gubernur) apalagi jika berlatar belakang purna maupun aktif militer didaerah konflik.

2. Kelompok-2 sektarian yang memang terlibat dalam konflik atas rasa solidaritas. Sajalan dengan waktu maka setelah perjanjian damai Malino dsb aksi ini-pun selesai dan saya tidak lagi melihat alas an kelompok ini masih ada (ada juga keterlibatan TNI-POLRI yang desersi dan bertugas namun berpihak serta paramiliternya).

3. Keterlibatan bisnis militer (TNI dan POLRI) yang sangat diuntungkan dengan adanya konflik ini sehingga tatkala konflik ini selesai maka dalam perspektif mereka WAJIB dilanjutkan. Bisnis militer ini bermacam-macam dari usaha HPHutan maupun hasil hutan tertentu yang diambil secara besar-besaran melibatkan penduduk sekitar (kayu gaharu, hitam dsb) secara illegal, bisnis pos penjagaan yang jumlahnya sampai ratusan dengan menarik pajak pada seluruh kendaraan trans sulawesi, sampai dengan bisnis senjata dan peluru dsb.

Bahwasanya saya memiliki berpikir simple saja yakni :
1. Jika Tibo cs terbukti membunuh dan sebagai pihak awal yang memulai konflik baru maka ia wajib dihukum namun jika tidak terbukti kedua sangkaan diatas maka ia wajib dibebaskan.

2. Walaupun terdapat bukti baru yang diajukan pada PK 2 secara nyata menunjukkan bahwa Tibo cs tidak terbukti bersalah namun secara hukum sudah tidak ada dasar hukumnya lagi mengingat PK hanya diperbolehkan UU (KUHAP) 1 kali saja. Oleh karenanya, political will hanya dapat digunakan oleh Presiden melalui hak prerogatifnya saja sedangkan intervensi antar lembaga (melalui Trias Politica) menurut saya tidak ada gunanya lagi/terlambat.

3. Pelaku yang melanggengkan konflik sesungguhnya namun tak tersentuh karena memang POLRI tidak dapat mendeteksi serta menangkap pelaku sesungguhnya (intelijen POLRI memang masih lemah) dan memang tidak boleh ditangkap alias menikmati impunity, tentu saja militer (dalam hal ini TNI) cenderung menjadi sangkaan saya. (masyarakat minoritas lainnya seperti komunitas Hindu-Bali yang dulunya pindahan korban meletusnya G. Batur adalah masyarakat tak berdosa lainnya yang sengaja ingin dibenturkan, saya jadi ingat masyarakat hindu di Mopuya, Bolmong yang sewaktu kecil kesana puas makan koyawas deng jeruk bali).

4. Bahwasanya desakan luar negeri dapat dilakukan baik secara kelembagaan, negara maupun Badan Internasional dimana Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights- ICCPR) baru saja tahun lalu diratifikasi oleh Indonesia. Didalamnya tercantum “hak untuk hidup yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun” sebagai dasar legitimasi pembatalan pemberlakuan putusan hukuman mati yang tidak manusiawi (Untuk uncle Sam-USA masih memberlakukan hukuman mati, maaf ya uncle, engkau tidak manusiawi!). Desakan dapat dilakukan oleh sesama negara yang sudah meratifikasi ICCPR temasuk melewati PBB dan komisi HAM PBB yang ketuanya Makarim Wibisono. Selain itu, DUHAM juga secara jelas mencantumkan mengenai hak untuk hidup.

Lebih lanjut saya jelaskan bahwa hak asasi manusia internasional secara tegas menyatakan hukuman mati bertentangan dengan prinsip yang diatur di dalam Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights- ICCPR). Hak untuk hidup (rights to life) yaitu pada Bagian III Pasal 6 (1) menyatakan bahwa setiap manusia berhak atas hak untuk hidup dan mendapatkan perlindungan hukum dan tiada yang dapat mencabut hak itu. Meskipun kemudian Pasal 6 (2) ICCPR menyatakan bagi negara yang belum menghapus ketentuan hukuman mati, putusan tersebut berlaku hanya pada kejahatan yang termasuk kategori yang serius sesuai hukum yang berlaku saat itu dan tak bertentangan dengan kovenan ini dan Convention on Prevention and Punishment of the Crime of Genocide. Hukuman tersebut hanya dapat dilaksanakan merujuk pada putusan final (final judgement) yang diputuskan oleh pengadilan yang berkompeten. Pasal 6 (5) menyatakan bahwa: hukuman mati tidak dapat dilaksanakan bagi kejahatan yang dilakukan oleh orang di bawah umur 18 tahun dan juga tidak berlaku pada perempuan hamil.

Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik (ICCPR) diadopsi pada 1966 dan berlaku (enter into force) sejak 1976. Hingga 2 November 2003 tercatat telah 151 negara melakukan ratifikasi/aksesi terhadap kovenan ini(untuk 2006 yang pasti lebih dari 152 termasuk Indonesia). Menyadari bahwa hak untuk hidup merupakan bagian dari non derogable rights atau hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun serta hukuman mati tidak dapat sekaligus menghilangkan kejahatan, masyarakat internasional menyepakati untuk mengadopsi Second Optional Protocol of ICCPR aiming of The Abolition of Death Penalty pada 1990. Protokol opsional ini secara tegas menyatakan melarang hukuman mati. Saat ini protokol opsional ini telah diratifikasi oleh 50 negara.

Di banyak negara demokrasi semisal Belanda telah menghapus ancaman hukuman mati sesaat dilakukannya amandemen terhadap konstitusi. Komitmen untuk menghapus ancaman hukuman mati dilakukan dengan menyelaraskan seluruh peraturan perundang-undangan berkait dengan hukum pidana. Tidak hanya itu, Belanda juga terikat dengan perjanjian di tingkat regional negara-negara anggota Dewan Eropa (Council of Europe) yang telah sepakat untuk mengadopsi Protocol No. 6 European Convention for the Protection Human Rights and Fundamental Freedom pada 1983. Protokol ini merupakan penegasan penghapusan hukuman mati pada masa damai namun memungkinkan praktiknya pada masa perang atau ancaman bahaya perang (imminent threat of war). Selain itu dalam hal ekstradisi, secara tegas Belanda juga menolak untuk melakukan ekstradisi bila pelaku diancam dengan hukuman mati di negara penerima.

Bahkan dalam menangani pelanggaran HAM berat (gross violations of human rights), masyarakat internasional menyadari kesalahan mereka dalam menerapkan hukuman mati bagi para pelaku kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Nuremberg pasca Perang Dunia Kedua. Untuk itu ketika terjadi kekejaman yang sama di bekas Yugoslavia dan Rwanda, dua mahkamah yang dibentuk oleh resolusi Dewan Keamanan PBB yaitu International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia (ICTY) dan International Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR), tidak memasukan pidana mati sebagai pidana maksimum dalam statutanya.

Semangat yang sama juga terlihat saat pembentukan International Criminal Court (ICC) dengan diadopsinya the Rome Statute of International Criminal Court pada 17 Juli 1998 di Roma, Italia. ICC kemudian berlaku mulai (enter into force) pada 1 Juli 2002. ICC yang mengatur kewenangan mengadili kejahatan paling serius yang dilakukan secara individu, terdiri dari empat jenis kejahatan, yaitu the crime of genocide (pemusnahan etnis/suku bangsa); crimes against humanity (kejahatan terhadap kemanusiaan); war crimes (kejahatan perang); dan terakhir the crime of aggression (agresi). Pada keempat kategori ini, ICC sama sekali tidak memasukan ancaman hukuman mati dalam statutanya.

Perlu diingat, Indonesia hanya meratifikasi ICCPR selain pengakuan terhadap Deklarasi Universal HAM sedangkan Second Optional Protocol of ICCPR aiming of The Abolition of Death Penalty, tahun 1990, dimana instrumen ini bertujuan untuk penghapusan hukuman mati dan The Rome Statute of International Criminal Court, 17 Juli 1998 Pasal 7, yakni instrumen ini tidak mengatur hukuman mati sebagai salah satu cara penghukuman sama sekali belum diratifikasi sehingga memiliki kelemahan namun secara umum alasan humanity menjadi senjata ampuh untuk mendesak Indonesia.

Freedom for Humanity!

Ditulis dalam Konflik | 4 Komentar »