aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Arsip untuk Mei, 2006

Gempa adalah Azab?

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 31, 2006

Hal yang sangat membuat saya terpukul sebenarnya ketika Ustadz Jeffri Al Buchory mengatakan penyebab gempa adalah masyarakat masyarakat Jogjakarta yang telah banyak berzina dengan sex bebasnya serta masih menghamba pada demit, kermit dan sebagainya.

Bahwa nusantara ini adalah negeri yang subur bukan tanpa alasan. Tanah yang gembur ini disebabkan aliran sirkum pasifik dan aeslia yang berurat nadi, tak heran negara ini memiliki koleksi gunung berapi. Konsekuensinya, pergeseran lempengan dari sirkum ini adalah hal yang mutlak dapat saja terjadi. Nah, dari sekilas penjelasan diatas apakah bencana gempa dan lutusan gunung berapi merupakan azab dari yang maha Kuasa? Sebagai contoh, apakah Aceh diberikan Tsunami karena manusia di sana sudah banyak berbuat dosa? Suatu pernyataan yang bukan saja aneh namun bodoh…. Uje.. Uje… kalo belum kelar belajar agamanya mbok ya.. jangan beri pernyataan memakai nama agama. Mentang-mentang pake drugs kemudian insyaf dan jadi pendakwah sudah merasa berhak memutuskan kesalahan orang lain. Lagipula Uje kan tidak beda dengan Taufik Savalas ataupun Slank, sama-sama mencari makan lewat media TV, bedanya Taufik Savalas dan Slank adalah kumpulan manusia yang kreatif dan tidak suka menjustifikasi orang lain, mereka sadar koq mereka bukan Tuhan…. Kalo mau menjadi menyebarkan agama lakukanlah dengan sepenuh hati dan berkelilinglah di nusantara selama hidup didedikasikan bagi penyebaran agama tanpa mempertunjukkan batang hidung. Janganlah congkak dan mulai sombong, mendingan saya cuma memaki dirimu, dosa saya cuma satu tapi saudara melebelkan gempa sebagai azab kepada masyarakat Jogjakarta dan sekitarnya kan banyak dosamu…. Eh, emangnya itu dosa..?

Ditulis dalam Bencana | 1 Komentar »

Bosan juga…

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 30, 2006

Ternyata,
Menulis dengan bahasa sinis dan pesimis
Seringkali diartikan berbau rasa putus asa
Hingga serasa sudah akhir dunia dan penuh tangis
Sadis hanyalah corak agitatif dan propagandis semata

Sehingga,
Hanya ada tersisa rasa hampa
Pasrah, beribu kata tak berguna
Peluh dan daki berebut luka
Hasil sisa sampah dari rasa binasa

Akan tetapi,
Benarkah kritikan hanya bualan orang yang kalah
Dosakah mengatakan kebenaran meski tak selalu indah
Beranikah menahan dan melawan walau sering dianggap lemah
Damaikah hati dan mimpi jika perlawanan hanya berhenti di kata yang patah

Akhirnya,
Tiada kata hanya senjata
Bukan memaksa lalu merana
Pencerahan adalah penyadaran
Karena perlawanan sudah kudengungkan

Ditulis dalam Sajak Membara | Leave a Comment »

Ternyata ku tak mengenalmu

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 29, 2006

Kadang memang terasa naif
Seringkali menjadi munafik
Keadaan tidak meminta harus arif
Setidaknya berperilaku sedikit bijak

Tak pernah sedikitpun melepas bayang dirimu keluar dari otakku
Tiada yang lain dalam hati hanya kau imajinasiku
Maafkan diriku tak mampu hadir dikala kau membutuhkanku
Mungkin ini keangkuhanku serta kebodohanku

Ku cinta kau dengan sepenuh hati
Janji yang tak mungkin kuingkari
Berbekal kepercayaan, pengharapan dan hati
Lalai hadir dan pura-pura tak peduli

Diriku menderita menanti, mengira dirimu t’lah pergi
Maafkan jika ku telah menyakitimu
Walau tubuhmu terkulai dan tak ada yang membelai
Daya itu tak akan layu, merekah dan menyebarkan pesona harum ceriamu

Meski sampai sekarang ku tak pernah mengerti dirimu
Apakah cinta itu masih sama sampai saat ini
Dimana dirimu, daku telah mencari
Kau permata hatiku, kupuja kau selalu

Tubuhku hanyalah teman saat kembali dari kehidupan liar
Bahkan kawan kala rembulan bersinar, juga sahabat dalam tidur
Asing dan tak ingat lagi manakala matahari terang memijar
Menjalani kehidupan dengan memperlihatkan kuku untuk mencakar

Jarum jam menunjukkan waktu biasa bercumbu
Perhatian itu tak hilang dan terus melaju
Meski menunggu adalah soal waktu
Ku tahu hanya itu yang ku mau

Ditulis dalam Syair Hati | Leave a Comment »

Kebodohan diriku

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 28, 2006

Sobat,
Kekhawatiranku pun terbukti
Kehadiran yang kutolak tapi terjadi
Semua ini telah berubah
Saat kusadar usia pun bertambah

Sobat,
Kehidupan terus mencari
Relasi berganti tanpa henti
Keras hati bukan berarti mati
Rindu ini tak rela dia pergi

Sobat,
Manusia selalu berubah
Malaikat maut pasti menjemput
Sedia bersama petunjuk arah
Sampai menua bersama kerut

Sobat,
Kau pergi tanpa kusadari
Berdiri tanpa harapan pasti
Kala kau tahu jati diri palsu ini
Banyak sekali mempengaruhi

Sobat,
Berat melepas perasaan ini
Beban itu terangkat tanpa ku berani
Andai saja hatinya kini masih peduli
Akan kumulai lembaran baru tuk menari

Sobat,
Semangatku kini di segala penjuru
Secercah harapan telah menunggu
Sukma membara dalam dada
Seribu bunga tuk bercinta

Ini perasaanku seharian ini
Dikala diriku merasa sangat sepi
Daku tak mendengar kabar lagi
Isi dunia serasa berhenti

***

Cinta,
Mengapa kau biarkan hati ini menunggu
Mengapa kau tak beritakan sesungguhnya
Apakah dikau tak percaya lagi padaku
Apakah daku hanya selingan saat bertanya

Cinta,
Setia diriku sudah kunyatakan
Janji itu tak kan pernah berubah
Saat berlalunya waktu terdepan
Jiwa ini hanya milikmu ku pasrah

Cinta,
Ini ujian kedua dalam kebersamaan kita
Indah dunia tak selalu ada nyata
Biasa bercinta didunia maya
Bahasa pun tak menjadi kendala

Cinta,
Komunikasi ternyata menjadi masalah
Dialog tak ada justru membuat hal yang parah
Kualitas kebersamaan adalah sebuah rintangan
Dua insan yang mabuk asmara beradu hasrat peran

Cinta,
Katakanlah sesungguhnya apa adanya
Katakanlah kau tetap tak pernah berubah
Kunyatakan sekarang daku tak kan meragukan bunga
Kunyatakan diriku seakan tak peduli itu memang salah

Karam rasaku saat tahu dirimu menderita beku
Dikau tak mau membagi dan menjadi beban bagiku
Daku menahan gundah tidak menghubungimu
Kurasa bodoh diriku tak mampu merengkuhmu

Ditulis dalam Syair Hati | 1 Komentar »

Bencana Peradaban

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 27, 2006

Sekali lagi bencana merenggut korban
Setelah Tsunami, Banjir, Longsor serta semua letusan
Perih hati melihat manusia bergelimpangan
Peristiwa memilukan, derita yang tak kunjung terbalaskan

Tuhan,
Apakah benar bencana adalah azab dari kenistaan kami serta cobaan tanpa henti
Apakah benar bangsa ini memang sudah lama berpaling darimu dan penuh dengki
Mengapa selalu korban terbanyak adalah kami yang tak berpunya dan merana
Mengapa selalu saja pihak yang disalahkan rakyat yang tak bertahta dan tak berdosa

Pemimpin,
Setelah kau ku pilih tak pernah lagi merealisasikan janji
Saat ku membutuhkanmu kau tak pernah mau peduli
Ketika kami hanya berharap padamu, dirimu laksana besi jeruji
Kesangsian salah memilihmu hilang saat 5 tahun lagi kembali kau berlagak suci

Dewan,
Kalian berlagak sebagai penyelamat namun ternyata hewan
Kami kau wakili berlagak teman ternyata untuk kolusi menikmati korupsi
Meski kami selalu kau selingkuhi dan sakiti tak pernah sedikit berani kami melawan
Memaafkan diri kami sendiri salah mempercayai dianggap sebagai langkah terpuji

Peradilan,
Rasa cemas melihat berbagai kasus kau masukkan di peti kemas
Tanpa sekalipun daku melihat keadilan telah ditegakkan
Ragam kepalsuan kau tampilkan agar tampak beres
Tapi kebusukan tubuh dan hatimu telah kau kembangbiakkan

Preman,
Sudah kau tunjukkan bahwa kau memang berani dan memiliki nyali
Mewakili ikatan primordialis, agamis, seksis, rasis, dan memang fasis
Siapa saja yang memiliki nurani kau habisi dengan dalil illahi
Melindungi yang membeli, menjadi milisi dan antek militerisi berlagak polisi

Pengamanan,
Diriku selalu ingin bertanya pada dirimu yang tegap dan bersenjata lengkap
Kegiatan bisnis, berpolitik, membuat konflik dan melanggar HAM dianggap sebagai peran
Darimu aku menduga banyak darah tumpah dalam sejarah yang tak terungkap
Kendati kerap saja kalian selalu merasa berasal dari rakyat dan mengaku para pahlawan, akhirnya jadi nama jalan

Agamawan,
Kalian hamba Tuhan yang kami segani
Kumpulan merpati yang suka peduli pada kami
Tetapi merasa ikut memecahkan masalah dengan tampil di tivi
Tentu juga suka mendekatkan diri dengan penguasa dan jadi alat pelegitimasi

Pemodal Global tanpa akhiran -an,
Tak pernah ku duga badanmu begitu menggurita
Tak juga ku sangka tentakelmu mampu menghisap jiwa manusia
Seluruh budaya dan nafas alam ini telah kau rasuki gayamu melalui nilai-nilai
Semua kehidupan sudah kau kuasai dan kami pun mempercayai

Teman,
Apakah memang hidup ini tidak adil sekali dan penuh kreasi basi
Apakah keserakahan dan nafsu amarah menjadi prioritas tertinggi
Mengapa penghisapan, penindasan dan eksploitasi dianggap ekspresi manusiawi
Mengapa akhirnya kami hanya menjadi kuli di negeri sendiri

Kawan,
Bangsa ini katanya sabar walau menderita penyakit sektarian yang parah dan kronis
Nusantara ini sumber dayanya kau biarkan dirampas tanpa kompensasi dan sudah mulai habis
Keberagaman kami ditelan sadis budaya kapitalis dan sudah terkikis
Kebersamaan dan toleransi tak lagi digubris oleh ciri individualistis, kami pun akhirnya jadi pengemis

Dari:
Hewan seperti setan yang tak berperasaan
Tak mampu berdamai dengan sejarah
Hanya memperkaya perspektif bagi anak cucu serta masa depan
Saat negara menghindari tanggung jawab

Ditulis dalam Puisi Negeri | 2 Komentar »

Kata-kata Mutiara

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 26, 2006

Karena itu perlu disimpulkan bahwa nasehat yang bijaksana, dari mana pun datangnya, tergantung kebijaksanaan raja, dan bukan kebijaksanaan raja tergantung pada nasehat yang baik (Niccolo Machiavelli)

Barangsiapa mengangkat diri sebagai pemimpin, hendaknya ia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik dengan orang lain dengan ucapan lidahnya. Orang yang mendidik dirinya sendiri lebih patut dihormati daripada mengajari orang lain.
(Imam Ali)

Seseorang tidak melakukan hal yang benar di satu bagian kehidupannya sementara dia sibuk melakukan hal yang salah di bagian lain mana pun dari kehidupannya. Hidup adalah sebuah kesatuan yang tak terbagi-bagi
(Mahatma Gandhi)

Sebelum seseorang dikenal, amatilah dengan siapa dia bergaul; ketika dia menjadi kaya, perhatikan kepada siapa dia memberikan uangnya; ketika dia mendapat kedudukan tinggi, lihatlah kepada siapa dia memberikan promosi; ketika dia dalam kesulitan, perhatikan hal apa yang dia tolak untuk dikerjakan; ketika dia miskin, lihatlah apa yang tidak dia terima.
Jika kamu mengetahui lima hal diatas mengenai seseorang, kamu tahu siapa yang seharusnya ditunjuk menjadi perdana menteri
(Li ke, abad ke 5 SM)

Mereka yang tidak dapat mengingat masa lampau ditakdirkan untuk mengulanginya (George Santayana)

Ada suatu perbedaan besar antara alasan-alasan yang baik dan masuk akal dengan alasan-alasan yang kedengaranya saja baik (Burton Hills)

Abu Ja’far bin Babawaith As Sijistani berkata: “Seorang raja pernah menyurati raja negeri lain, ‘Bagaimana engkau mengatur kerajaanmu dan memerintah rakyatmu? Raja negeri itu menjawab, ‘Dengan delapan cara: Tidak bercanda ketika memerintah dan melarang, tidak melanggar satu pun janji dan ancaman, menghukum berdasarkan kesalahan bukan berdasar kedengkian, mengangkat pejabat berdasarkan kecakapan bukan berdasarkan keinginan, membujuk hati rakyat dan tidak memaksa, mempermudah perijinan bukan karena kelemahan, menyediakan bahan makanan dengan merata dan menghindari hal-hal yang berlebihan’

Plato berkata, “Seseorang tidak boleh datang ke sebuah kota sebelum dia mengetahui tiga hal tentang kota itu: rajanya adil, menterinya ahli dan hakimnya suci

Iskandar ditanya: ‘Mengapa engkau tidak menyimpan kekayaan seperti yang dilakukan oleh para raja? Dia menjawab, “Sahabat-sahabat dan prajurit-prajuritku adalah harta kekayaanku. Aku menyimpan harta di dalam diri mereka, bukan di dalam tanah yang jauh dari mereka. Harta yang menjagaku lebih baik dari harta yang aku jaga. Tanah tidak dapat menolongku, prajuritlah yang dapat menolongku”

Iskandar bertanya kepada filosof India: ‘Mengapa peraturan dan undang-undang di negeri kalian sangat sedikit? Mereka menjelaskan, “Karena kami memenuhi kewajiban atas dasar kesadaran kami sendiri, dan karena keadilan raja kami kepada kami”

Diogenes berkata, “Seorang nakhoda yang bijaksana tidak akan berguna kalau para kelasinya tidak ahli. Seorang pemimpin yang baik tidak akan berguna kalau menteri menterinya tidak baik”

Pengadilan mencabut harapan kita, meludahkan kekecewaan. Mereka mendekati dan melindungi kepentingan kaum berada. Sudah saatnya kaum miskin membebaskan diri dari masyarakat yang diam-diam mencekik mereka. Sadarilah bahwa masyarakat gagal melindungimu. Bila kini kau berusaha mengabaikan sistem penipu ini, kelak kau tidak perlu memprotes kegagalan ini. Sistem ini mengkhianatimu kemarin, hari ini, dan telah menciptakan kondisi yang menjamin pengkhianatan di masa datang (dari The Judges Letter, oleh pendiri MOVE John Africa)

Ditulis dalam Kata Mutiara | 1 Komentar »

Cinta Dua Manusia

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 25, 2006

(ETZ)
Mungkin rindu itu beranjak pergi seiring berjalannya hari
Tinggallah sepi bersama sanubari yang hampir mati
Andai semua tau bahwa hati sulit tuk didustai
(AHW)
… dan mungkin juga rindu ini tak kan pernah pergi meski hari berganti
Memberi arti didalam sanubari tak kan pernah mati
Andai kau tau ku kan s’lalu mencintai
Tuk berlabuh dan membuang sauh demi tambatan hati yang sejati… kau surga bagiku
(ETZ)
Yang jelas, diriku tak akan pernah mau terikat dan terjebak oleh kata-kata
Banyak sudah hati yang terluka dan semua itu ulah dari kata-kata yang pada akhirnya pergi begitu saja
(AHW)
Kata-kata yang tiada tara
Tak terduga dan terkira
Apakah kau ingin terikat kata-kata ataukah cinta
Janganlah sekali-kali terpikat akan kata-kata
Lihatlah realita apakah sama
Banyak yang terlena dan akhirnya tak berguna
Jika waktunya t’lah tiba
Kau kan ku cari sampai ke ujung dunia
(ETZ)
Semua raga mungkin bisa ditaklukkan oleh kata-kata
Tapi, tidak semua rasa bisa dengan pasrah terikat oleh kata-kata tersebut
Diriku menerimamu tanpa kata-kata
(AHW)
Tubuh ini telah kau beri nafas
Lepas dari keterpurukan dan penjara kehidupan
Kau memberiku jiwa
Lepas dari beban dan kemelut peran
Membangkitkanku tuk mulai menghargai, menyayangi dan mengasihi manusia serta mereka yang peduli
Kau banyak memberi arti dan keikhlasan agar ku tak lupa diri
Membuka pintu hatimu
Impian yang ku pinta tatkala berserah diri
Kahadiranmu anugerah yang tak terkira
(ETZ)
Selamat pagi dunia…
Selamat pagi cinta…
Sekarang diriku telah berdiri menjadi sebuah koma, bukan lagi titik!
Karena perjalananku belumlah berhenti pada tikungan-tikungan yang penuh dengan tanda tanya
(AHW)
… dan kita lewati tikungan tersebut bersama-sama
Pagi cinta, hiruplah aroma indahnya kehidupan sayangku, bersamaku
Cintaku, tak bisa sedetikpun diriku berhenti memikirkanmu
Kau telah menjadi bagian hidupku
Kaulah nafas kehidupanku, sayangku… selalu

Ditulis dalam Syair Hati | 5 Komentar »

Panggil aku Perempuan dan Ibu

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 24, 2006

Ibuku sayang… seperti udara kasih yang kau berikan… tak mampu kubalas
(Iwan Fals, Ibu)

Raut muka itu tampak kurang bersemangat meski dari parasnya, semua orang pasti tahu, kalau usianya sekitar 30-an tahun. Gadis ini datang ke Kantor Polisi untuk suatu urusan yang menyakitkan. Ia menjadi korban penyiksaan rumah tangga dengan luka yang mengerikan. Dalam laporan yang dituturkan di kantor Polisi, tampak kesedihan yang menyayat perasaan siapapun yang melihatnya. Lebih-lebih anak yang dibawanya, mungkin masih berusia sekitar 2 tahun, dengan muka seperti kebanyakan anak yang lain. Dua manusia yang sama-sama rentan ini terpaksa melaporkan perlakuan dari pria yang mereka sebut suami sekaligus ayah.

Polisi adalah petugas, yang mungkin lebih mereka kenal dari sosok seragam. Polisi mungkin petugas satu-satunya yang mereka anggap dapat dipercaya untuk memecahan persoalan yang mereka alami. Kekerasan rumah tangga bukan sesuatu yang baru akan tetapi penanganan hukum akan selalu mengalami benturan keras. Masih sulit untuk mencari pasal yang bisa menjerat dengan ampuh para suami yang gemar melakukan kekerasan. Andaikan dalam pasal hukum ada ketentuannya persoalan berikutnya adalah budaya yang masih melekat di lingkungan masyarakat. Budaya yang menganggap apa saja yang terjadi dalam rumah tangga adalah urusan pribadi. Sesuatu yang tabu jika melaporkan seorang yang dekat kepada pihak lain, lebih-lebih Kepolisian.

Sikap yang tampaknya juga masih dipegang oleh kalangan petugas hukum, yang menilai Polisi kurang sopan jika masuk ke urusan rumah tangga. Dalam komentar seorang petugas, terkadang ketika kasus sudah diproses ada kalanya di tengah jalan dicabut oleh si pelapor. Pencabutan yang berlatar-belakang rasa malu dan rikuh. Rumah tangga adalah lokasi yang paling rahasia dan jangan sesekali dibongkar ke pihak luar. Meski saat ini banyak televisi menyiarkan tentang gangguan keamanan serta bagaimana Polisi menangani akan tetapi sangat sedikit yang mengangkat tema tentang kekerasan rumah tangga.

Dalam acara Buser atau Patroli sering tampak laki-laki penjahat yang babak belur karena perkara pencurian. Akan sangat sedikit laki-laki yang menganiaya istri ditayangkan, karena itu tentu akan mengguncangkan, citra rumah tangga yang harmonis. Rumah tangga harmonis sering dilukiskan dengan cara vulgar oleh iklan mobil hingga produk kosmetik. Rumah tangga harmonis adalah rumah tangga yang antara bapak dan istri ada pembagian ruang kerja yang jelas. Ibu di dapur sedang bapak ada di ruang tamu. Bapak bekerja lalu ibu mengasuh anak. Begitulah keluarga Indonesia dibentuk dan perempuan diperlakukan.

Zaman memang berubah banyak dan tiap peringatan hari Kartini akan muncul perdebatan soal karir seorang perempuan. Kesadaran emansipasi ditunjukkan dari bagaimana dalam setiap serial sinetron ada banyak perempuan karir yang tanpa masalah. Bahkan dalam serial laga juga ada banyak pendekar perempuan. Mereka semua adalah sosok perempuan yang gagah, tenang, dingin dan kerapkali sadis. Tokoh yang mewakili semangat ini ada dalam film Xena. Film yang mempertontonkan bagaimana perempuan dapat berkelahi dan membunuh lebih sadis ketimbang siapapun. Tapi apakah memang seperti itu yang hendak dirintis dan diperjuangkan oleh Kartini? Pertanyaan ini menyodok kita semua karena seolah tugas ‘pembebasan’ perempuan adalah melepaskan diri dari kukungan rumah tangga. Arus gelombang gerakan feminisme menjadi ancaman besar ketika perempuan mulai menempuh jalan pembebasan sesuai dengan apa yang didapatkan dari kaum laki-laki. Kalau suami melakukan kekerasan maka balaslah dengan kekerasan. Itu yang kemudian mengilhami munculnya film yang berjudul Enough. Film yang berkisah tentang pertarungan laga antara suami dan istri. Mungkin pembebasan tidak diawali dari sana dan bukan bertujuan ke arah sana.

Pembebasan sebagaimana Paulo Freire rintis dalam metodologi pendidikan, tak lain adalah bangunya kesadaran kritis menggantikan kesadaran pasif dan magic. Kesadaran kritis gampangnya adalah kesadaran yang memahami belenggu struktur dan kultur yang sementara ini menindas kaum perempuan. Pertanyaan yang selalu berlompatan dalam bilik kesadaran kritis, siapa dan dalam bentuk seperti apa penindasan itu dilestarikan? Kenapa dengan mudah suami melakukan kekerasan, apa memang hobby atau karena peluang kultur dan struktur yang ada di masyarakat?

Kesadaran kritis yang akan membuat kita kemudian bertanya dengan lugu, benarkah goyang Inul memang merupakan hak asasi? Apakah tidak boleh ada keberatan dari siapapun terhadap goyangan Inul karena itu berarti penindasan terhadap kaum perempuan? Apakah memang layak jika Marsinah yang terbunuh dengan cara kejam itu disamakan dengan Inul sebagai korban pelanggaran HAM? Inul dan Marsinah sama-sama perempuan dusun yang berasal dari Jawa Timur dan membangun karir dengan cara yang sederhana. Marsinah berhadapan dengan aparat sedang Inul harus berhadapan dengan kamera. Keduanya adalah perempuan yang menjadi makanan empuk media massa. Tapi Marsinah meski sudah dibela habis-habisan hingga hari ini tak jelas siapa pembunuhnya. Sedangkan Inul sudah ketahuan siapa yang memusuhi dan siapa yang mendukung. Inul dan Marsinah memang tak bisa disejajarkan, akan tetapi mereka adalah kaum perempuan yang dalam kehidupan di masyarakat Indonesia mengalami nasib yang mengenaskan.

Struktur masyarakat dan ditunjang dengan arus modal telah membuat nasib Inul dan Marsinah bersimpang jalan. Marsinah menempuh jalan protes untuk kenaikan upah sebesar Rp 2500 dan imbalan untuk Marsinah, sekujur tubuhnya mendapat siksaan. Siapapun yang menyiksa pasti bukan kaum perempuan, karena tidak akan mungkin, seorang perempuan berjiwa seperti Xena. Perempuan dan anti kekerasan adalah sekeping uang yang tak dapat ditanggalkan. Saya masih membayangkan bahwa sebagian perempuan adalah sosok ibu yang dilukis dengan baik oleh novel Marxim Gorky, Ibunda.

Ibunda dalam novel itu dilukiskan sebagai perempuan yang membela dan melindungi anaknya yang memiliki aktivitas politik. Meski sang ibunda sering sekali menjadi sasaran tindakan kekerasan oleh suaminya tapi ia tetap melindungi anaknya yang dituding sebagai musuh pemerintah. Hingga kematian yang diperolehnya, ibunda tetap berada di depan anaknya memberikan perlindungan. Seorang perempuan juga bisa setegas Tjut Nya Dien yang akhirnya harus berjuang bersama kemudian mati di medan pertempuran. Karena itu Marsinah,saya fikir, dapat bersanding dengan Kartini sebagai sosok perempuan yang ikut membela bukan saja kaumnya melainkan kelompok sosial buruh. Kelompok sosial yang hingga hari ini masih bernasib mengenaskan. Keberanian Marsinah tentu didorong oleh kesadaran kritis yang terbangun melalui diskusi dan pembelajaran atas situasi yang dihadapinya. Ia melanjutkan apa yang telah dikerjakan oleh Kartini, Dewi Sartika bahkan Bunda Theresia.

Marsinah hendak membebaskan kaumnya dari buta terhadap sirkulasi modal dan eksploitasi. Akan tetapi mengapa masih ada sosok yang melihat Marsinah dengan kebencian yang membakar hingga mendorongnya untuk membunuh? Mengapa masih ada prilaku yang dengan sewenang-wenang mencabut nyawa sosok perempuan yang sesungguhnya itu sama dengan ibunya sendiri? Pertanyaan yang sama, ketika saya menyaksikan di televisi, bagaimana pasukan liar memukuli kaum perempuan yang tergabung dalam kaum miskin kota. Kaum miskin ini hanya memprotes kebijakan dan tiba-tiba sejumlah pasukan liar memburu dan memukulinya. Bukan saja perempuan melainkan juga anak-anak. Mengapa dan kenapa banyak orang tega melakukanya?

Jawabannya sudah pasti tidak cukup dengan mengatakan, bahwa hati mereka tidak bersih atau karena mereka sedang digoda iblis. Tampaknya emosi dan kekasaran mereka dipengaruhi oleh minimnya penghargaan mereka terhadap martabat dan hak kaum perempuan. Menyaksikan perempuan melancarkan protes apalagi dengan pakaian compang-camping yang ada dalam tempurung kepala mereka, hanya satu, habisi dan hajar mereka. Penghargaan terhadap kaum perempuan tampaknya tidak bisa hanya bersandar dengan cerita dan legenda melainkan juga harus dimulai dengan kesadaran sejak dari rumah hingga masyarakat. Dari rumah kiranya penting untuk mulai menyelesaikan masalah tidak dengan cara kekerasan dan lebih memilih untuk mendialogkan. Perempuan juga wajib untuk dimintai pertimbangan dalam segala hal.

Bersangkut paut dengan masyarakat, nampaknya petugas keamanan juga mustinya lebih banyak berkomunikasi dengan kaum perempuan dalam mendorong ketertiban dan keamanan masyarakat. Melayani mereka dengan santun, sopan dan menghormati mungkin tradisi yang perlu dirintis. Adalah aneh di negeri yang kepala negaranya perempuan tapi nasib kaum perempuan masih saja terbelakang. Siapa pembunuh Marsinah belum juga diketahui kemudian banyak TKW yang dianiaya di negeri tetangga juga belum terbantu adalah pekerjaan rumah bagi negara.

Jika kemudian muncul kebijakan kuota 30% untuk perempuan agar duduk di parlemen, siapa yang akan menempati. Di jejeran caleg (calon legislatif) tumpah ruah kalangan perempuan yang hidupnya memang mapan. Walaupun kuota 30% itu dipenuhi tapi belenggu prasyarat membuat tidak semua kaum perempuan bisa memenuhinya. Terutama mereka yang berada dalam posisi yang ter-alienasi, seperti perempuan yang menjadi buruh, PSK, perempuan petani dan perempuan yang hidup di komunitas masyarakat adat. Mereka kalangan perempuan yang telah lama jadi korban sistem pembangunan. Akan tetapi mereka jelas tidak mungkin duduk di kursi parlemen. Karena struktur partai masih mengidap semangat patriarkhi yang kental.

Sederhana saja, saksikan bagaimana kampanye politik yang tidak mencoba untuk melakukan aktivitas yang melayani kalangan perempuan, seperti kesehatan, pendidikan serta perlindungan kerja bagi perempuan. Kampanye disesakkan oleh konvoi motor yang itu semua dikerjakan oleh pasukan laki-laki dan berulang-ulang sibuk melakukan kegiatan kekerasan. Jikalau ada jurkam perempuan, itu pasti seorang artis atau istri pejabat.

Hanya sedikit partai politik yang menempatkan posisi perempuan dalam kedudukan struktural yang penting. Itu sebabnya makin sedikit pula kebijakan politik yang memihak kalangan perempuan diambil. Sejumlah kebijakan ditempuh bahkan dengan mengabaikan suara perempuan, seperti persetujuan untuk melakukan privatisasi, setuju atas penerapan darurat militer atau bebas bea impor atas sejumlah produk pertanian. Kebijakan ini ditempuh dengan mengabaikan sama sekali suara politik kalangan perempuan. Itu sebabnya ada kelemahan menyolok dalam lingkungan kekuasaan politik saat ini, yakni ketidak-mampuan memahami tuntutan politik kalangan perempuan.

Penyelesaian dengan mengangkat sebanyak-banyaknya kalangan perempuan tidak akan memecahkan masalah, selama kondisi struktural yang melatar-belakangi tidak dipecahkan. Problem struktural yang menjadi titik pangkal, yang pertama-tama adalah meluasnya bentuk kebijakan yang memakai landasan kekerasan. Berulang-ulang tragedi pelanggaran HAM dilakukan tanpa usaha negara sama sekali untuk menjatuhi hukuman bagi pelakunya. Sepertinya pelanggaran HAM menjadi sesuatu yang dilegalkan dan karenanya para pelaku mendapat perlindungan bahkan alasan patriotik.

Landasan kedua adalah proses liberalisasi perdagangan yang berjalan tanpa kontrol. Pukulan bagi kalangan perempuan adalah naiknya harga kebutuhan pokok yang selama ini konsumen terbesarnya adalah perempuan. Malahan kenaikan bahan kebutuhan pokok disertai dengan kenaikan ongkos pelayanan publik, seperti pendidikan dan kesehatan. Dua-duanya telah menjerumuskan sekaligus menjebak kalangan perempuan. Landasan ketiga yang menjadi sumber masalah adalah masih meluasnya pemahaman patriarkhi yang menempatkan perempuan sebagai objek. Ini bukan semata-mata muncul secara vulgar melalui iklan media, melainkan juga di bidang pendidikan. Keduanya telah meringkus posisi perempuan sebagai bagian dari korban proyek pembangunan.

Melawan arus ini semua memang perlu waktu dan usaha yang maksimal. Diantaranya yang penting adalah pengorganisasian yang melibatkan dan mengangkat agenda perempuan. Tak perlu dalam satuan politik partai tapi melalui organ-organ lokal yang berhimpun dalam tuntutan lokal. Berangkat dari kebutuhan utama perempuan maka posisi dan peran perempuan akan menjadi kekuatan utama perubahan.

Ditulis dalam Gender | Leave a Comment »

Surat dari rakyat untuk para penguasa

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 23, 2006

Seseorang berkata, “Bayarlah sebuah luka dengan kebaikan’
Sang Guru berkata: “Jika kamu membalas luka dengan kebaikan, lalu dengan apa kamu membalas kebaikan? Kamu seharusnya membayar sebuah luka dengan keadilan dan kebaikan dengan kebaikan”
(Konfisius)

Jangan sekali-kali mengatakan bahwa kedaulatan itu ada di tangan kami. Kami tahu betapa suara kami hanya kalian butuhkan ketika ada pemilu. Pada masa-masa pemilu seolah-olah kalian mau berbuat apa saja demi untuk mendapatkan suara kami. Kalian berkunjung ke pasar dan bertanya ini-itu, layaknya kalian akan memperhatikan nasib kami para pedagang. Di rumah kami yang becek dan reot kalian duduk bercengkrama dan melempar canda yang hendak mencairkan batas. Sudah barang tentu ada batas diantara kalian dengan kami; busana yang rapi itu berbeda dengan baju kami yang apa adanya, wajah bersih kalian tentu beda dengan muka kami yang penuh dengan peluh keringat, bau harum dari parfum tentu beda dengan bedak kami yang memenuhi wajah. Yang pasti rezeki yang kalian terima berbeda dengan apa yang kami dapatkan. Pendapatan kalian yang berasal dari sana-sini sangat berbeda dengan sumber pendapatan kami yang kadang terancam oleh kebijakan kalian.

Belum hilang kaos bergambar dirimu kami pakai tapi nasib kami sudah kalian campakkan. Malam lebaran begitu teganya kalian gusur kami yang sedang pulang mudik. Di hari yang lain kalian begitu tega membuat aturan kalau kami penarik becak tidak boleh melewati beberapa ruas jalan tertentu. Di waktu yang lain kalian beri kami uang sekaligus kalian naikkan harga banyak barang. Hanya dengan kebijakan sepele-ini menurut kalian-menaikkan harga BBM, kami sudah sulit untuk mencari ikan.

Hanya dengan mengatakan beras boleh impor maka kami para petani seperti kena pukulan keras. Menjadi petani itu sudah berat tapi jauh lebih berat ketika beras kami kalian saingkan dengan beras luar negeri. Terus terang, kadang kami itu ingin bertanya pada kalian yang duduk di kursi kekuasaan: apa yang kalian maui dari rakyat yang mungkin bodoh seperti kami. Ketaatan sudah kami berikan pada kalian: tak pernah sekalipun kami alpa membayar pajak, tak pernah kami berpikir ingin menegakkan negeri sendiri, tak sempat kami berpikir untuk merampok rumah-rumah megah kalian.

Jika kami ingin ber-andai-andai, mungkin kalian menginginkan kami jadi rakyat yang: patuh dan percaya atas semua yang kalian omongkan. Jika kalian bilang bahwa kenaikan harga BBM itu demi untuk kesejahteraan rakyat pada jangka panjang maka kami harusnya percaya sepenuhnya. Jika kalian bilang bahwa kenaikan harga BBM itu untuk mengalihkan subsidi dari orang kaya kepada mereka yang berhak mustinya kami itu langsung yakin bahwa itu bukan pernyataan yang bohong. Kalau kalian kemudian mengatakan bahwa semua masalah bisa kita atasi kalau kita mau berkurban mustinya kami mengangguk setuju.

Apalagi kalau kalian katakan bahwa wabah penyakit yang kini sedang menjalar sedang kalian atasi mustinya kami dengan girang menyambut dengan kata-kata: setuju, baik, sipp! Saudaraku yang duduk di kursi kekuasaan, mungkin kamu berharap semua pidato, keputusan, kebijakan yang ditetapkan tidak berbuah dengan protes. Kalian mungkin punya kepintaran yang jauh diatas rata-rata kami, sehingga apa yang bagi kami merupakan ancaman mungkin buat kalian itu sesungguhnya pemecahan masalah.

Tidak heran jika kami sering dibuat kagum sekaligus heran dengan perbuatan kalian. Gerombolan anggota parlemen yang penuh kehormatan menaikkan gajinya dengan alasan yang simpel, untuk meningkatkan kualitas dan dedikasi kerja. Kalau kami bilang itu suap sekaligus bayaran karena mereka setuju dan oke dengan kenaikan BBM; bisa saja kami langsung kalian tuduh sebagai orang yang sengaja ingin menghasut dan mencemarkan nama baik. Padahal kami tahu dan juga diberitahu, kalau kalian ini rapat juga jarang yang datang dan sedikit sekali undang-undang yang membela kami kalian keluarkan. Di Partai yang isinya orang-orang yang bermuka saleh keadaanya lebih buram. Protes sana-sini tapi kemudian di ujung pentas mengatakan memberi dukungan penuh pada penguasa. Tak hanya dengan itu, seorang pemukanya berkunjung ke istana sang penguasa untuk menyatakan sikap dukungan.

Untung kami kemudian masih percaya bahwa jenis-jenis kesalehan palsu macam beginian memang lagi ‘pasaran’. Kami pun takjub dengan perkataan kalian kalau badan usaha yang jelas-jelas kalian punyai dan memenangkan beberapa proyek publik itu kemudian kalian bantah sendiri. Bantahannya berbunyi standar: saya sudah tidak urusi itu dan sudah dikelola penuh oleh saudara yang lain. Ya jelas kalian nggak urusi itu karena sekarang kalian menjadi pejabat yang urusi kami. Kadang menipu itu pekerjaan sederhana tapi jadi memalukan kalau itu dilakukan dengan cara yang naif.

Wahai para penguasa yang duduk dimana-mana. Aku itu sering bertanya ketika kalian bertemu dengan kami yang miskin dan tersudut, apa yang sesungguhnya kalian pikirkan tentang kami. Jika kalian dengan baju yang bersih kemudian melakukan ibadah dan berdoa: sungguh aku ingin tahu doa apa yang kalian panjatkan ke hadapan Tuhan. Jika kalian pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarga kalian; apa yang sempat kalian bincangkan. Kami tahu betapa bangganya anak-istri kalian dengan posisi yang kalian punyai. Sebuah posisi yang membuat mereka dapat hidup di rumah yang luas di tengah banyak rumah yang kena bencana tiap kali iklim berubah.

Hidup di tengah berbagai fasilitas negara yang menanggung semua kebutuhan istri anak kalian di tengah banyak keluarga yang untuk makan sehari-haripun mengalami kesusahan. Itu sebabnya kami kemudian maklum kalau banyak diantara kalian merayakan hari pernikahan dengan megah dan mewah. Pesta pernikahan sama halnya dengan pameran kemegahan. Itu juga yang membuat kami maklum kalau kalian kemudian selalu memborong semua anak istri ketika melakukan lawatan ke luar negeri. Mereka berhak mencicipi kekuasaan yang kalian dapatkan bahkan mempunyai hak untuk menggunakan fasilitas yang kalian pakai. Nikmat memang memiliki kekuasaan yang tak semua orang bisa meyentuh dan merasakannya.

Kadang dalam bilik kepalaku yang kecil ini muncul pertanyaan: mengapa rakyat selalu saja tidak pernah percaya dengan keputusan yang kalian ambil? Padahal pidato, perkataan, kata-kata kalian penuh dengan ucapan meyakinkan. Tak jarang tubuh kalian tiap pidato berusaha meyakinkan pada kami kalau yang kalian serukan itu sesuatu yang sangat serius. Tak jarang kalian peluk kami dan mengatakan bahwa, ‘kami tahu apa yang kamu rasakan’. Terharu kami menyaksikan adegan itu dan biasanya kamera televisi mengambil sudut gambar yang selalu tepat.

Kekuasaan memang panggung yang lebih baik dijalankan dengan seni peran ketimbang dengan tindakan-tindakan yang nyata. Karena panggung maka yang dibutuhkan kadang bukan kejujuran tapi kepintaran untuk meyakinkan pada penonton: bahwa apa yang kamu sedang pura-pura lakukan buatlah seolah-olah sebagai adegan yang sungguh-sungguh. Jika dibilang semua pelaku korupsi akan ditindak tegas dan akan dimulai dari rumah sendiri-itu sama halnya dengan bilang-korupsi itu ada dimana-dimana dan betapa susahnya diberantas karena korupsi ada di sekitar rumah kediaman kita sendiri. Jika dibilang pelaku pembunuhan atas para aktivis HAM akan diusut itu sama halnya dengan mengatakan kalau kita tidak akan mencari dalang yang sebenarnya karena yang bisa diusut adalah mereka yang sudah terlanjur diberitakan di media massa. Kita maklum karena kematian aktivis HAM sesungguhnya menguntungkan kalian terutama ketika tak ada lagi suara protes yang akan muncul tiap kebijakan keamanan kalian ambil.

Kami tahu kalau, kekuasaan memerlukan prosedur dan hukum. Prosedur telah membuat segala hal yang rumit jadi lebih rumit dan berbelit-belit. Dibilang bahwa setiap orang miskin akan mendapat BLT (Bantuan Langsung Tunai) tapi tidak semua orang susah bisa dikategorikan miskin. Prosedur itu yang kemudian membawa-bawa birokrasi yang punya wewenang untuk membuat kriteria siapa yang masuk klasifikasi orang miskin. Uang Rp 300 ribu memang bisa membawa musibah tetapi uang sebesar itu bisa pula membawa aliran dukungan. Kau kemudian lihat, seorang kepala RT bisa terbunuh, bangunan kelurahan diserbu massa, orang mati karena kacapekan antri dan yang miskin tapi tidak terdata melancarkan aksi. Rakyat kau didik menjadi pengemis dan dilatih untuk membenci kepada sesamanya.

Hidup rakyat memang berat tapi jauh lebih berat ketika kau luncurkan kebijakan yang menyusahkan. Hukum juga yang kemudian membuat kalian kesulitan mengatur kekayaan kalian sendiri. Sebagian dari kalian ada yang asal muasalnya pengusaha dan kemudian secara ajaib laba usahanya meningkat saat jabatan publik itu disandang. Mengharumkan sekali nama kalian di tengah kemakmuran dan keuntungan yang terus menggunung. Kami sadar kemampuan kami hanya menggerutu dan kesal. Sesudahnya kami tak bisa apa-apa.

Kami hanya bisa berandai-andai. Apa betul Sukarno, Hatta, Sjahrir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Moh Natsir dan pejuang kemerdekaan yang lain dulu hidup semewah kalian. Dalam kisah sejarah kami diberitahu kalau Haji Agus Salim rumahnya sederhana bahkan mengontrak sana-sini. Hatta tokoh proklamator konon tak bisa membayar listrik karena hidupnya yang bersih dan apa adanya. Sukarno yang sangat berjasa dalam menemukan Pancasila bahkan meninggal dalam keadaan yang sederhana dan sendirian. Kami tertegun dengan para pemimpin negeri ini yang bernama Tan Malaka: hidup di tengah kaum buruh dengan meyandang penyakit TBC. Fantastis sekali moral mereka dan itu sebabnya mereka mampu dengan gagah berhadapan dengan negeri-negeri penjajah. Pikiran yang melampaui zaman telah membuat bangsa ini dulunya pasti punya martabat di pergaulan international. Andaikan saja mereka masih hidup dan memimpin negeri ini, pastilah kami percaya yang kami miliki bukan penguasa tapi pelayan rakyat.

Kami butuh pelayan rakyat yang tahu bagaimana menghormati, menghargai dan merasakan apa yang kami derita. Sungguh jika kami boleh meminta keajaiban, kami minta agar para penguasa yang duduk di kursi kekuasaan sekarang ini, bisa dibawa ke masa lampau dan menyaksikan kehidupan para perintis bangsa ini. Setidak-tidaknya mereka bisa berkaca dan mungkin merasa malu sekaligus bersalah atas apa yang kini sedang mereka kerjakan. Kami membayangkan suatu saat ketika mereka akan turun dari kursi kekuasaan, mereka diberi kesempatan untuk mengucapkan kalimat yang tak pernah sekalipun mereka katakan: rakyat maafkan kami atas kebijakan, tindakan dan sikap kami yang tak sesuai dengan harapanmu. Sekali lagi maafkan kami!

Salam
Dari Rakyat yang hidupnya kian susah

Ditulis dalam Sinisme | Leave a Comment »

Tiara, Kau Bungaku

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 22, 2006

Bungaku,
Kau hadir dikala ku gundah
Saat bimbang jadi masalah
Memberi semangat dalam kalbu
Mencerahkan hari dan hidupku

Cintaku,
Rasa ini bagaikan mimpi
Membara dalam imajinasi
Bertanya selalu dimana dirimu
Apakah diriku mampu setia menunggumu

Hatiku,
Pancarkan kasih dan sayangmu
Dalam darah, jiwa dan ragaku
Agar nafasmu menyebar di s’gala pori-pori
Tuk memandang dunia lebih suci

Sinarku,
Pandangi embun pagi
Rekahkan kuasa illahi
Pahami dan selimuti tubuhku ini
Emosi manusia ini hanya sampai disini

Hanya dihati…
Kau s’lalu kunanti…

Ditulis dalam Syair Hati | 1 Komentar »