aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Arsip untuk Juni, 2006

Teruntuk Bidadari-Ku

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 18, 2006

Bidadari,
Ku ingin dirimu slalu dihati
Meski diriku tak pantas kau cintai

Hari ini,
Kau hadir disini ingin menemani
Membawa sejuta keinginan indah dalam diri

Rasa ini seakan tak mampu ku bendung
Secercah harapan yang slalu membuatku bersenandung
Godaan terbesar, entah apakah itu sebuah fatamorgana
Memulai perjalanan, menjalin dan merajut cerita kita bersama

Bidadariku, pahami diriku
Ijinkan juga aku tetap pada pendirianku
Sebuah ikrar akan janji yang tlah ku beri
Tak ingin ku ingkari, tuk memberi bukti diri lelaki

Walau diartikan tak dihargai
Ego dan nafsu miliki diri, wahai bidadari

Diriku saat ini berada di masa transisi
Berpaling bukanlah sebuah kebanggaan sejati
Apalagi berdiri tegak dan diperlihatkan jati diri

Ku belajar mengendalikan diri
Mendewasakan jiwa dan pikiran
Memahami dan memaknai kehidupan
Tuk bersua dikemudian hari

Dirimu jualah jawaban mengapa aku hadir di dunia ini!
Pertanyaan yang slalu kucari dan kunanti tanpa henti

Bersanding dalam doa pada ilahi
Berharap kisah ini akan abadi

Dari ARidhant
Di saat Bidadari pulau dewata menginjakkan kaki di Surabaya
Diriku terpaku menahan gejolak hati serta penat di kaki

Ditulis dalam Syair Hati | 1 Komentar »

Teruntuk Matahari-Ku

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 18, 2006

Mentari,
Ingin ku berbagi
Ingin rasanya ku menyulami semua yg ada di bumi

dan hari ini
Ijinkan aku untuk melakukan itu semua, wahai mentari

Dentuman jemari lentik mengusik telingaku
Manakala segala dosa mulai menemaniku
Tapi tahukah engkau wahai mentariku?

Satu masa tlah berlalu,
Menghinggapi dunia fatamorgana dengan segala kebohongannya

Entah mengapa,
Otakku pun mulai terjaga
Untuk segera bangun dan menggapai harapan baru

Diriku abadi di sisimu, wahai muaraku
Engkau telah menjawab semua kegundahanku!

Tapi,
Tahukah engkau wahai mentariku?

Sebait rasa telah menghancurkan itu semua
Setitik harapan menghantam egoku
Sebuah kisahpun mulai menemaniku

Ya,
Kisah dengan semua keterbatasanku yang tiada berujung
dan inginku pun berseru..

Mentari, Sambutlah Hidupku!

Dari rARa
Diantara sambutan Mentari Surabaya

Ditulis dalam Syair Hati | 1 Komentar »

Media tivi

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 10, 2006

Wah, ternyata banyak orang yang memaki SCTV sebagai pemegang hak siar Piala Dunia di Indonesia namun tak mampu membayar untuk acara pembukaan….. cuma mau bilang satu hal saja, kasihan amat sih, udah tahu orang bosan sama Ungu dan Radja kecuali kalo yang naik panggung system of down baru asyik :) .

Oh ya, mengapa seorang Titiek Soeharto yang anak penguasa Orde Baru tiba-tiba muncul menjadi presenter tamu apakah karena gaya yang diterapkan oleh orang-orang Orde Baru selalu sama, menghilang dalam beberapa tahun dan kembali untuk memperbaiki citra. Sosok Titiek Soeharto sebagai Komisaris Perusahaan di SCTV dan upaya mengembalikan citra cendana setelah kegagalan Tutut tampil dipublik memaksanya harus turun gunung dan sudah diawalinya sejak pemberian bantuan gempa serta korban gunung Merapi walau kemudian justru kontra produktif. Akhirnya, setelah 2 hari tampil di Tivi dengan wajah seperti orang blo’on dengan menyebut nama pemain yang seringkali salah, memotong pembicaraan dan tolah-toleh kesana kemari…. si tante Titiek jadi kapok mendapatkan setumpuk hujatan dan menuai kecaman, amien…. dan menonton bola serasa live dari cendana-pun berakhir sudah, semoga… Eh, saya ralat lagi, ternyata tidak tampilnya Titiek Soeharto semata-mata hanya karena pergantian tugas yang sudah terjadualkan dan akan tampil kembali, demikian keterangan dari sumber di SCTV, gimana nih… kita nonton bola lagi dari cendana?! :D

Saya juga mau ikut mendoakan pada kru Jejak Petualang TV 7 yang hilang dalam perjalanan menggunakan perahu long boat dari Asmat ke Timika semoga selamat dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Berita terakhir, 4 kru Jejak Petualang TV 7 sudah ditemukan selamat sedangkan 1 kru dan 3 penumpang lainnya masih dicari keberadaannya.

Ditulis dalam Media | 17 Komentar »

Bencana Peradaban

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 9, 2006

Sekali lagi bencana merenggut korban
Setelah Tsunami, Banjir, Longsor serta semua letusan
Perih hati melihat manusia bergelimpangan
Peristiwa memilukan, derita yang tak kunjung terbalaskan

Tuhan,
Apakah benar bencana adalah azab dari kenistaan kami serta cobaan tanpa henti
Apakah benar bangsa ini memang sudah lama berpaling darimu dan penuh dengki
Mengapa selalu korban terbanyak adalah kami yang tak berpunya dan merana
Mengapa selalu saja pihak yang disalahkan rakyat yang tak bertahta dan tak berdosa

Pemimpin,
Setelah kau ku pilih tak pernah lagi merealisasikan janji
Saat ku membutuhkanmu kau tak pernah mau peduli
Ketika kami hanya berharap padamu, dirimu laksana besi jeruji
Kesangsian salah memilihmu hilang saat 5 tahun lagi kembali kau berlagak suci

Dewan,
Kalian berlagak sebagai penyelamat namun ternyata hewan
Kami kau wakili berlagak teman ternyata untuk kolusi menikmati korupsi
Meski kami selalu kau selingkuhi dan sakiti tak pernah sedikit berani kami melawan
Memaafkan diri kami sendiri salah mempercayai dianggap sebagai langkah terpuji

Peradilan,
Rasa cemas melihat berbagai kasus kau masukkan di peti kemas
Tanpa sekalipun daku melihat keadilan telah ditegakkan
Ragam kepalsuan kau tampilkan agar tampak beres
Tapi kebusukan tubuh dan hatimu telah kau kembangbiakkan

Preman,
Sudah kau tunjukkan bahwa kau memang berani dan memiliki nyali
Mewakili ikatan primordialis, agamis, seksis, rasis, dan memang fasis
Siapa saja yang memiliki nurani kau habisi dengan dalil illahi
Melindungi yang membeli, menjadi milisi dan antek militerisi berlagak polisi

Pengamanan,
Diriku selalu ingin bertanya pada dirimu yang tegap dan bersenjata lengkap
Kegiatan bisnis, berpolitik, membuat konflik dan melanggar HAM dianggap sebagai peran
Darimu aku menduga banyak darah tumpah dalam sejarah yang tak terungkap
Kendati kerap saja kalian selalu merasa berasal dari rakyat dan mengaku para pahlawan, akhirnya jadi nama jalan

Agamawan,
Kalian hamba Tuhan yang kami segani
Kumpulan merpati yang suka peduli pada kami
Tetapi merasa ikut memecahkan masalah dengan tampil di tivi
Tentu juga suka mendekatkan diri dengan penguasa dan jadi alat pelegitimasi

Pemodal Global tanpa akhiran -an,
Tak pernah ku duga badanmu begitu menggurita
Tak juga ku sangka tentakelmu mampu menghisap jiwa manusia
Seluruh budaya dan nafas alam ini telah kau rasuki gayamu melalui nilai-nilai
Semua kehidupan sudah kau kuasai dan kami pun mempercayai

Teman,
Apakah memang hidup ini tidak adil sekali dan penuh kreasi basi
Apakah keserakahan dan nafsu amarah menjadi prioritas tertinggi
Mengapa penghisapan, penindasan dan eksploitasi dianggap ekspresi manusiawi
Mengapa akhirnya kami hanya menjadi kuli di negeri sendiri

Kawan,
Bangsa ini katanya sabar walau menderita penyakit sektarian yang parah dan kronis
Nusantara ini sumber dayanya kau biarkan dirampas tanpa kompensasi dan sudah mulai habis
Keberagaman kami ditelan sadis budaya kapitalis dan sudah terkikis
Kebersamaan dan toleransi tak lagi digubris oleh ciri individualistis, kami pun akhirnya jadi pengemis

Dari:
Hewan seperti setan yang tak berperasaan
Tak mampu berdamai dengan sejarah
Hanya memperkaya perspektif bagi anak cucu serta masa depan
Saat negara menghindari tanggung jawab

Saya mau menyampaikan salam, semoga kegiatan berupa Pentas Puisi pada acara penggalangan dana untuk gempa bumi di Yogya, tanggal 10 Juni 2006 di Amsterdam dapat berjalan dengan sukses. Kepada Ibu Ratih Miryanti saya juga berterima kasih karena puisi saya termasuk salah satu yang akan dibacakan dihadapan publik. Walaupun puisi saya tidak hanya mengenai bencana di Jogja saja namun secara umum akan tetapi semoga bisa menjadi penutup acara yang baik. Acara ini sangat istimewa sekaligus mulia terutama bagi opa-opa dan oma-oma yang selama ini sudah disingkirkan negara namun tetap peduli dan giat memperkenalkan serta membanggakan bangsa.

Ini pembuktian bahwa sisi kemanusiaan orang-2 yang tersingkirkan dan disingkirkan tetap hidup walau negara secara tidak berprikemanusiaan pernah dan masih menindas serta tidak mengakui kesalahan yang pernah diperbuat negara dan alat-alatnya. Salam saya teruntuk semua kawan-kawan Sastra Pembebasan dan kepada Heri Latief, Asahan dan Sabron Aidit, Mawie Ananta Jonie, Fadjar Sitepu, Ikranagara, Rio Wardhanu, Bayu Abdi Negoro dan Elisa Koraag yang puisi-puisinya juga dibawakan. Bencana bukanlah akhir sebuah rencana tapi awal untuk menjadi lebih memanusiakan manusia, tetap berjuang dan selalu peduli sesama…

Informasi terakhir yang saya terima, kegiatan berupa Pentas Puisi pada acara penggalangan dana untuk gempa bumi di Yogya, tanggal 10 Juni 2006 di Amsterdam dimana puisi-puisi yang dibacakan telah masuk dalam brosur dan telah dibagikan pada para pengunjung acara pentas puisi. Dengan cetakan sebanyak 120 eksemplar dan hanya menyisakan 24 eksemplar saja serta berjalan dengan sukses. Sekian.

Ditulis dalam Puisi Negeri | 6 Komentar »

Psikoanalisis emosi dan sisi kedewasaan diri

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 7, 2006

Saya mau bercerita sedikit mengenai pendapat Thierry Henry, seorang pesepak bola dari klub Arsenal Liga Inggris. Menjelang pertandingan puncak final Champions League melawan Barcelona, ia menyatakan pada pers mengenai ketidaksetujuan terhadap sosok Ronaldinho yang selalu tersenyum dan tertawa serta kebetulan bermain untuk klub lawan. Ia lebih menyukai sosok Wayne Rooney yang emosinya selalu meledak-ledak selama pertandingan dilangsungkan. Saya melihatnya, perang pernyataan antara pemain dan pelatih kedua kesebelasan sebenarnya bagian dari perang urat syaraf dan hal yang lumrah cuma seringkali pisau yang dilemparkan berubah jadi boomerang. Sosok Ronaldinho, Wayne Rooney dan Thierry Henry sendiri merupakan tiga sosok yang sangat berlawanan yakni dari yang senangnya memamerkan pesona bibir, tipikal pemarah dan Henry sendiri yang terlihat sangat sabar. Pertanyaannya yang muncul apakah selalu dalam semua situasi hal ini dapat berlaku? menurut saya tidak semuanya walau ada hal-hal tertentu yang berlaku secara universal. Dalam permainan sepak bola mungkin saja sisi emosionalitas harus lebih banyak digali namun jika dalam hubungan sosial kemasyarakatan maupun organisasi, hal tersebut adalah senjata untuk bunuh diri. Ah, lupakan saja, pembukaan yang payah, langsung saja..

Mengenai tulisan saya apapun bentuknya, sesungguhnya hal itu bukanlah harga mati dan bukan pula penanda sesuatu harus berhenti pada titik itu. Itu adalah pernyataan diri yang kadang sebagai rasa bertanya tak berguna seperti puisi yang harus ada emosi baik kesedihan, kesenangan, kepedihan maupun kegembiraan agar puisi tersebut memiliki roh dan jiwa. Ini adalah bagian dari sisi imajinatif dan sisi humanisme dari hati saya yang coba saya tampilkan agar sisi ini bisa terus hidup dalam ‘taman’ nilai dan etika yang saya kembangkan. Inilah sisi yang coba terus saya hidupkan dalam kebahagiaan imajinatif setelah sekian lama saya tidak memiliki media untuk menghidupkannya dan blog ini seperti diary dari bilik otak imajinatif saya dan bisa diselami oleh orang asing yang terperosok tak sengaja sekalipun. Bukan berarti karena tulisan saya yang seperti itu maka otomatis saya teralienasi dan mengasingkan diri serta menumpuk kebencian terhadap berbagai problematika kehidupan. Tidak, saya tidak sampai di titik itu dan tidak senaif itu.. saya hanya mencoba memelihara nilai yang seharusnya bisa diperjuangkan dan mendapatkan tempat dan ruang keadilan dalam bayang imajiner kreatifitas saya yang ideal, selayak saya mengimajinerkan Indonesia. Sedangkan di sisi lainnya, kecenderungan masyarakat dan diri saya sendiri memperlakukan sesuatu sangat tidak manusiawi dan brutal. Agar sisi kasar dan buruk dari perilaku, perkataan ataupun perbuatan saya dapat diseimbangkan dengan imajinasi ideal dan hati agar saya tidak menjadi budak emosi, materi, tahta, manusia maupun budak duniawi ataupun surgawi. Saya bukanlah nabi yang hati, pikiran, ucapan dan perbuatannya sama indahnya.. saya hanya manusia yang seringkali melakukan kebodohan, bersilat lidah, berbohong bahkan terhadap kebohongan itu sendiri maka tak heran saya cenderung munafik terhadap hati dan pikiran, tubuh dan diri serta orang lain.

Mengenai tindakan dan perbuatan saya yang cenderung tidak sama dengan akal pikiran dan hati seringkali coba saya kompromikan sehingga kadang pilihan untuk mencapai jalan tengah menjadi pilihan yang rasional manakala kedua sisi saya mempertahankan egoisitasnya. Seringkali maskulinitas diriku ini sangat mendominasi sehingga sisi feminin yang setiap orangpun juga memiliki tercerabut dari akar kebudayaanku. Dalam kata-kataku yang menginginkan hilangnya penindasan juga suatu hal yang mustahil terjadi walau juga sebuah keniscayaan dan nilainya sama dengan hidup berdampingan antara Yahudi-Israel dengan Filistin-Palestina. Namun menggali ruang dialog hanya akan terjadi jika kedua sisi itu mau saling menggali lebih jauh kapasitas dan kemampuan daya dengan kemauan untuk berkompromi, mencari titik tengah lalu mengevaluasi diri dan bukannya menghakimi lalu pergi. Saya sadar, keegoisan saya banyak berkembang karena sikap emosional saya dan itu bukanlah hal yang bisa saya pungkiri. Ketercampuran itu memang dapat menjadi masalah besar dan kesadaran saya untuk lebih realis memakai daya nalar dan logika serta optimis memang suatu nilai yang harus saya raih juga pertahankan meski emosi takkan hilang karena telah menjadi bagian diri dan harus mampu dikelola serta dikendalikan.

Saya memiliki harapan besar bahwa esok perilaku, cara berpikir dan nurani saya harus lebih mencerminkan nilai kemanusiaan, lebih adil dan bijak serta mampu membantu bahkan mencurahkan segala daya upaya untuk membantu sesama yang saling membutuhkan. Saya tidak ingin tulisan diblog yang berasal dari pikiran saya berbeda dengan perlakuan saya terhadap pembantu maupun keluarga dirumah, saya tidak mau jika menduduki jabatan tinggi kemudian digunakan untuk memeras orang lain, saya tidak mau kehormatan saya dijual untuk harta dan kekuasaan semata serta beribu keinginan lainnya. Berpikir kritis dan alternatif bukan berarti mengajak hidup untuk susah dan penuh derita, bukan itu, justru dengan hidup kritis dan evaluatif, kita dapat hidup dengan bahagia dan peduli serta tidak mengirup nafas kelimpahan maupun kesenangan dari kepedihan ataupun penderitaan orang banyak. Jika kemarin dan hari ini saya menulis dan berbicara saja maka besok serta lusa, saya harus berbuat agar saya bisa membuat lebih baik dan merealisasikan kritik bahkan untuk bisa dikritik. Dunia selalu berputar, hari ini mengkin saya masih idealis, besok mungkin saya sudah pragmatis, kutak pernah tahu hanya berusaha mempertahankan keyakinan agar tidak terlalu banyak berubah walau seiring waktu dan problema pasti berubah, biar ku membawa dan dibawa, entah kemana. Jika hidup harus membawa idealisme dan prinsip, kupastikan diriku juga belajar menerima, memahami dan instropeksi serta memoderasi diri untuk membuat lebih baik dari apa yang pernah, sudah kita lakukan maupun hal yang buruk dan tak diulangi lagi agar aku dan pasangan hidupku masa depan bisa saling mengisi, dialog, kritik maupun oto-kritik sesama diri menjadi lebih dewasa dan bermakna. Ku berkaca dari pengalaman yang kualami, melihat realitas, terjun ke lapangan, yang kubaca, kudengar maupun kuhirup dan rasakan sampai berhenti dikhayal. Esok, kuharap serta kuniatkan subyektifitasku lebih dewasa dalam memahami dan mengarungi arus kehidupan, jauh lebih baik dibandingkan hari ini maupun kemarin. Namun, satu hal yang kucoba memastikannya adalah aku berusaha untuk selalu menepati janji walau meski terlambat ataupun lalai dan salah tak mampu memenuhi dan itu diluar kuasaku, karena Dia saksiku.

Kurasa diriku salah dalam saling memahami juga gagal dalam berdialektika, berpikir kritis dimaknai kritik, berharap dikasihani dan selalu mengeluh serta masih bersikukuh dalam keangkuhan. Sebuah puisi pernah telah kutorehkan juga telah kuakhiri walau tak ada yang pasti namun diriku belajar untuk tidak menjadi kuli emosi lagi… seperti yang pernah kau katakan, semoga.

Ditulis dalam Psikoanalisis | 2 Komentar »

‘Kebutaan’ dan ‘Kehidupan’

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 7, 2006

Cerita I
Ada seorang mahasiswa yang ingin mencoba bagaimana rasanya menjadi orang buta? Kesulitan apa saja yang harus dihadapi oleh mereka yang tidak bisa melihat? Untuk itu ia mencoba melakukan experiment, dimana ia menutup matanya selama tiga bulan. Hal pertama yang ia rasakan ialah kehilangan kemandiriannya, jangankan untuk jalan keluar untuk mengambil pakaian saja tidak bisa, disitulah ia baru bisa merasakan betapa menderitanya seseorang yang tidak bisa melihat. Pada saat akhir experiment, setelah ia bisa membuka mata dan melihatnya kembali, ucapan pertama yang ia ucapkan ialah:
“Terima kasih Tuhan, bahwa Tuhan telah memberikan kepada saya kesempatan untuk bisa melihat semua ciptaan Tuhan!”

Disisi lain ia telah bisa mendapatkan hikmah untuk bisa menilai sesuatu bukan hanya dari kulit luarnya saja, bukan dari bungkus atau mereknya saja. Apakah penting merk pakaian seperti Aigner, Boss, Christian Dior?

Apakah penting mobil bergengsi seperti BMW, Mercedes? Apakah penting tempat beribadah yang indah? Apakah penting kosmetik pemoles wajah? Apakah penting untuk menilai seseorang dari warna kulit? Apakah penting menilai seseorang hanya dari wajah apakah ia bermata sipit, atau bermata biru ataukah ia botak? Apakah penting penampilan wajah maupun paras cantik?

Apakah penting rumah dan kebun yang indah? Apakah penting untuk tinggal di daerah permukiman elit? Untuk orang tunanetra semua ini sudah tidak mempunyai daya tarik lagi, ia tidak membutuhkan semuanya ini! Ia tidak akan tergoda lagi oleh segala macam merek dan segala macam barang yang indah2, sebab semuanya itu tidaklah penting bagi dia! Ia tidak lagi tertarik dari segi dekorasi atau bentuknya makanan, melainkan rasanya itu jauh lebih penting daripada dekorasinya.

Ia tidak tertarik dan tidak membutuhkan penampilan luar! Maka dari itu saya yakin hidup kita akan jauh jauh lebih murah kalau mulai besok kita belanja atau membeli sesuatu tidak berdasarkan bungkus, maupun penampilan luarnya! Dan sayapun yakin kita akan mendapatkan lebih banyak kawan,kalau kita tidak menilai seseorang hanya dari segi bungkus dan penampilannya saja!

Cerita II
Ketika si Pulan dilahirkan ia masih bisa melihat s/d usia 8 th, tetapi karena kena penyakit akhirnya ia menjadi buta total dan tidak bisa melihat lagi. Tentu Anda bisa membayangkan bagaimana perasaannya si Pulan kalau dengan seketika dunianya menjadi gelap gulita, se-akan2 layar tabir kehidupannya ditutup, sehingga ia tidak bisa melihat dan menikmati lagi keindahan alam ini. Ia menjalani sisa kehidupannya sebagai seorang tuna netra.

Walaupun demikian ia merasa beruntung, karena telah bisa mendapatkan pasangan hidup, seorang wanita yang tidak buta tetapi bersedia untuk dijadikan istrinya. Kenapa wanita ini memilih seorang tuna netra sebagai calon suami? Karena wajah wa-nita itu sendiri telah rusak kebakar, sehingga ia tidak bisa mendapatkan seorang suami, jangankan untuk mendapatkan jodoh, pergi keluar rumahpun ia sering sekali menjadi bahan ejekan dan tertawaan orang, bahkan anak kakaknya sendiri yang masih kecil merasa takut melihat wajahnya. Oleh sebab itulah ia mencari seorang suami yang tidak menilai dia dari segi wajahnya, ia mencari suami yang bisa mengasihi dia bukan berdasarkan dari segi penampilan luarnya.

Mereka berdua bisa hidup bahagia dengan penuh keharmonisan dan kasih sayang bahkan mereka telah dikaruniakan dua orang anak sehat. Pada suatu hari si Pulan pulang dengan perasaan riang gembira: “Mam, aku punya satu surprise yang sangat menyenangkan?” kata si Pulan, “Aku akan bisa melihat lagi, masa gelap hidup saya akan berakhir!” ucap si Pulan kembali. Bagi si Pulan ini merupakan hadiah yang terindah dan terbesar yang Tuhan akan berikan selama hidupnya. Maklumlah karena hal inilah yang ia impi2kan dan yang ia dambakan di dalam kehidupannya. Tiap hari si Pulan berdoa ber-kali2 kepada Tuhan, dan memohon agar sekali saja di dalam hidupnya, walaupun hanya untuk beberapa detik sekalipun juga untuk bisa melihat wajah istri dan anak2nya yang tercinta. Rupanya Tuhan telah mengabulkan doanya dimana dalam waktu yang dekat ini ia akan bisa melihat lagi seperti sediakala. Seorang Dr. ahli mata dari Jerman, telah menyatakan kesediaannya untuk mengoperasi si Pulan, sehingga akhirnya ia bisa melihat lagi. Berdasarkan hasil pemeriksaannya ia menyatakan bahwa ia yakin bisa menolong si Pulan sehingga ia bisa melihat lagi. Dan minggu yang akan datang ia sudah bisa di operasi.

Apakah Anda bisa membayangkan, bagaimana perasaan si Pulan setelah 22 tahun buta, akhirnya ia akan bisa melihat lagi? Ia akan bisa melihat kembali, semua keindahan alam yang pernah ia lihat sebelumnya selama 8th, bagaimana hijaunya rumput itu, bagaimana birunya langit. Ia akan bisa melihat dan menikmati lagi isi dunia ini dengan segala macam warna yang indah2, tetapi yang lebih penting dari segala2nya ialah ia akan bisa melihat wajah istri dan anak2nya yang terkasih, yang belum pernah ia lihat selama hidupnya. Apakah surprise ini menyenangkan istrinya? Disatu pihak ia merasa senang kalau suaminya bisa melihat kembali, tetapi dilain pihak ia merasa sangat takut sekali. Ia merasa takut, apakah kehidupan kekeluargaan mereka akan bisa tetap berjalan seperti sediakala dengan penuh kasih dan keharmonisan? Ia takut perkawinannya akan menjadi kandas, ia takut rumah tangganya akan menjadi hancur. Ia merasa takut, bagaimana kalau suaminya nanti melihat wajahnya yang buruk dan sudah rusak ini. Ia merasa takut suaminya tidak akan bisa dan mau mengasihinya lagi, bahkan ia takut di tinggal oleh suaminya, karena penampilan luarnya yang buruk dan rusak terbakar. Bahkan ia berdoa kepada Tuhan memohon pengampunan dosa, karena ia merasa bersalah, sebab ia tidak mampu berbagi rasa dan bisa turut merasakan perasaan gembira bersama suaminya. Ia merasa perasaan egoisnya terlalu besar, karena ia terlalu mengasihi suaminya.

Perasaan gembira bahwa suaminya akan bisa melihat kembali, telah di tutup oleh rasa takut tak terhingga. Apakah salah kalau ia sangat mengasihi suaminya? Apakah salah kalau ia merasa takut ditinggal oleh suaminya? Walaupun demikian ia tidak mau mengungkapkan perasaan ini kepada suaminya, ia tetap pendam di dalam hatinya.
Semakin mendekati hari H, dimana ia akan bisa melihat kembali, semakin senang perasaan si Pulan, bahkan kawan2 maupun tetangganya sekampung sudah mengetahui berita bahagia ini dan semuanya turut mengucapkan selamat dan turut menyatakan kebahagiaan mereka, hanya istrinya seorang semakin mendekati hari H, semakin cemas ia rasakan dan rasa takutnyapun semakin besar. Istrinya tetap tidak mau mengungkapkan perasaannya, karena ia tidak mau merusak kebahagiaan maupun harapan dari suaminya. Walaupun ia tidak mengucapkannya, tetapi hal ini terasakan sekali oleh suaminya, karena istrinya yang tadinya periang se-olah2 berubah menjadi semakin pendiam dan sering melamum.

Hari H pun tiba, sejak jam 4 pagi si Pulan sekeluarga telah bangun, karena bagi si Pulan hari ini adalah hari yang terindah di dalam kehidupannya. Dan juga seperti persyaratan dari Dr. sejak kemarin ia sudah puasa tidak makan maupun minum lagi. Tepat jam 8.00 pagi bel rumah bunyi, rupanya supir taxi yang akan menjemput si Pulan telah tiba, si Pulan berjalan keluar untuk membukakan pintu, tetapi istrinya pergi ke kamar tidur untuk berdoa sambil menangis. Ia tidak mau dan tidak bisa pamit lagi dari suaminya, karena perasan takutnya sudah tidak tertahankan lagi.

Pada saat ia berlutut dan berdoa, sambil berlinang air matanya keluar, tiba2 ia merasakan belaian tangan yang membelai kepalanya dari belakang dengan penuh kasih sayang. Ternyata itu adalah tangan suaminya, ia berkata: “Mah, saya tidak jadi pergi, saya telah membatalkan jadwal operasinya, karena saya tidak jadi dan tidak akan mau di operasi lagi. Bagi saya kasih sayangmu ada jauh lebih indah dan lebih berharga daripada bisa melihat. Buat apa saya bisa melihat, kalau setelah itu hubungan dan keharmonisan hidup kita berdua menjadi rusak. Kasih sayangmu ada jauh lebih berharga dan lebih indah, daripada mata yang bisa melihat lagi.

Biarlah saya tetap buta sampai dengan akhir ajal saya, yang penting kita bisa berkumpul dengan penuh kasih sayang untuk selama2nya!” Karena kasih kepada istrinya ia rela berkorban. Ia rela untuk hidup sebagai seorang tuna netra untuk selama2nya, apakah kita bersedia dan mau berkorban untuk orang yang kita kasihi seperti cerita yang tersebut diatas? Tidak semua orang tunatera ingin bisa melihat kembali seperti pengarang dari lagu “Blessed Assurance”, dimana ia memberikan kesaksiannya dalam lagu tersebut.

Saya sarikan dari sebuah milis sehingga setiap kali saya membuka blog bisa saya renungi dan bisa berguna bagi saya.

Ditulis dalam Psikoanalisis | 2 Komentar »

Ideologi dan Sepakbola

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 6, 2006

Beberapa hari yang lalu ketika orang tua saya mengirim uang untuk sesuatu keperluan melalui saya, tiba-tiba muncul perasaan ganjil dan bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya, saya pertanyakan hal tersebut kepada orang tua saya mengenai jumlah uang yang dikirimkan memang sudah tidak sesuai dari kesepakatan. Orang tua saya mengatakan hendaknya kelebihan beberapa puluh ribu tersebut (maaf, saya tidak menjelaskan jumlah nominal sebenarnya) dipergunakan untuk membeli bendera. Sontak keterkagetanku muncul dan langsung saja kupotong “Bendera? Kan, bendera merah putih kita masih ada dan tersimpan dengan rapi tanpa bercak sedikitpun, koq beli lagi?”. Tak lama kemudian penjelasan disisi ujung telfon membuatku tertawa selebar-lebarnya, “apa gak salah!” timpalku. Ternyata, orang tuaku sengaja memberikan dana yang tak seberapa untuk membeli bendera tim kesayanganku yang masuk putaran final dan akan berlaga di perhelatan dunia untuk memperebutkan penghargaan supremasi dibidang sepakbola antar negara-bangsa.

Tiba-tiba, imajinasi nakalku segera muncul…. ah, aku tak tahu pabila orang Papua memasang bendera Belanda atau yang lainnya di Timika dengan maksud yang sama dengan masyarakat diwilayah nusantara yang bersukacita menyambut event akbar ini pastilah aparat TNI dan POLRI segera bereaksi cepat. Dalam pikiran mereka pastilah ada intervensi asing setelah sempat berkibarnya bendera bintang kejora dan beberapa kasus yang melibatkan Australia. Ah, bualan aneh-aneh namun secara serius lagi pikiran ini memberikan alternatif lain mengenai sepakbola yang memang menjadi media bagi pergolakan atas dasar keyakinan ideologi serta sebuah pengharapan yang sangat besar terhadap masa depan…… memang sepak bola adalah segala-galanya.

Melalui judul “Memahami dunia lewat sepak bola; Kajian tak lazim tentang sosial-politik globalisasi karya Franklin Foer dan diterjemahkan Alfinto Wahhab mencoba menjelaskan tentang “sepak bola yang bukan sekadar olahraga dan bisa menjadi alat untuk memahami seluk-beluk dunia kontemporer yang dilanda segala dampak arus globalisasi. Apa kaitan sepak bola dengan pembantaian Muslim Bosnia? Dengan budaya korupsi di Dunia Ketiga? Dengan bangkitnya sentimen-sentimen rasial dan konflik keagamaan? Dengan Zionisme maupun anti-Semitisme? Mengikuti perjalanan jurnalis politik Franklin Foer menyusuri jagad internasional sepak bola, bertemu dengan orang pertama yang melahirkan aksi-aksi hooligan, berkumpul dengan intelektual bawah tanah Italia pendukung Internazionale Milan, mengamati bagaimana falsafah El Barca penting untuk memulihkan konsep nasionalisme inklusif maupun citra sepak bola itu sendiri, serta segudang penelusuran memukau lainnya yang wajib dibaca oleh setiap penggemar bola maupun pengamat isu-isu sosial-politik” demikian sekilas tulisan yang coba ditawarkan oleh penerbit marjin kiri.

Tentunya kita tahu bahwa ideologi sangat merasa aman berlindung dibalik kekuatan sepakbola. Ideologi yang telah kalah dan dikalahkan mencoba bertahan dalam konteks globalisasi. Bukan berarti saya juga ikut membela semua ideologi yang ada dan bersembunyi tersebut akan tetapi perlu kiranya memahami bahwa sepakbola adalah kekuatan yang sangat besar bagi pembuktian kelompok minoritas dan kalah tersebut. Ideologi fasisme dan rasisme sendiri sekarang kembali tumbuh subur setelah era 80-an dan bangkit perlahan-lahan untuk kembali merealisasikan janji-janjinya. Tak lupa, bagaimana ‘derby’ antara rival sekota Internazionale Milan yang kaum borjuis dan aristokrat dengan AC Milan yang milik kelas bawah, berbeda asal muasalnya dalam hal kepemilikan. Namun, kini hal itu mulai bergeser, ingatan itu muncul saat Internazionale Milan memberikan bantuan bagi kelompok EZLN Chiapas-Mexico; Zapatista untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan sepak bola disaat kelompok Sub Comandante Marcos itu menjadi musuh tentu saja tak terlepas dari peranan intelektual bawah tanah Internazionale Milan itu sendiri. Kita pun takkan lupa bagaimana kemenangan Iran atas Amerika dipiala dunia lalu dan berdampak sangat besar secara psikologis dan kebanggaan nasionalisme Arab. Pembantaian yang pernah menjadi sejarah kelam di bekas negara Federasi Yugoslavia diteruskan dalam bentuk persaingan dengan sesama bekas pecahan lainnya seperti Serbia, Montenegro, Kroasia, Bosnia, Slovenia, dan Macedonia. Apalagi nasionalisme Catalan yang semakin terangkat berkat kemenangan Barcelona menjuarai Champions League tahun ini dan ingin dapat kebebasan layaknya Inggris memberlakukannya pada Skotlandia, Walles dan lainnya serta yang jelas tidak mengikuti Basque, paling tidak seperti Quebec nafasnya. Belum lagi, kemenangan Sevilla di UEFA CUP kemarin sangat berarti sekali mengingat sebuah club kecil yang sahamnya mayoritasnya dimiliki oleh pendukungnya lebih berjaya dibandingkan Chelsea atau Manchester United yang dibaliknya berdiri seorang milyuner. Anak-anak Brasil dan seluruh penjuru dunia yang menginginkan bisa seperti Ronaldo yang tenar dan kaya dengan kemampuan mengocek bola namun apa daya.. seleksi alam mengharuskan hanya beberapa dari berjuta-juta anak-anak rakyat miskin sedunia yang bisa mewujudkan mimpi indah itu.

Akhh… ku tak mau memperpanjang lebar hal ini, yang pasti aku tidak mau memasang bendera jagoanku diatas atap, bukan berarti aku tak berani naik keatas atap atau kesetrum dan takut jatuh tetapi dari awal aku tidak terlalu suka saja dengan budaya baru berupa ‘kegilaan’ satu nusantara yang memasang bendera jagoannya sampai puncak menara sutet, kan selera orang berbeda-beda. Satu hal yang pasti, setiap sepak bola yang berlaga tim favoritku, kupastikan tak seorang pun yang boleh mengangguku, tidak juga kau… ah, kasihan nanti yang menjadi pendamping hidupku, ibu dari anak-anakku. Lonjakan kegirangan nan ekspresif berupa teriakan sebanding dengan pergumulan pasangan kekasih di ranjang penuh peluh menurutku dan tatkala bola menyentuh net gawang memberi kepuasan, begitu juga jika timku kalah, sangat mempengaruhi hidupku sehari itu. Sudahlah, sekarang saya hanya mendukung negara Inggris dan Spanyol serta Belanda… negara-2 yang secara historis memang penjajah dunia dan negeri ini pernah menjadi koloni, tak berubah agar diriku ini bisa kembali berwatak realis dan agresif.

Saya mau menambahkan sedikit saja, apakah ada yang mengetahui iklan terbaru Coca Cola yang memperlihatkan antara dua kutub yang selama ini berlawanan yakni si penindas dan si tertindas yang disatukan dan dapat bergandengan tangan saat melihat dan mendengar pertandingan sepak bola. Itulah ekspresi dan letak pertikaian sebenarnya dimana kedamaian hanya terjadi saat sepakbola dilangsungkan, setelah itu? Mari bermain peran lagi…

Ditulis dalam Ideologi | Leave a Comment »

Buku Itu Mahal

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 6, 2006

Sekarang harga buku mahal sekali dan banyak yang tidak dapat membeli. Padahal sekarang masyarakat sudah mulai haus akan bacaan dan ide-ide alternatif dan kritis serta tidak lagi terbebani oleh stigma kiri dsb. Saya sendiri sebisa mungkin tidak pergi ke toko buku walau sekedar cuci mata karena bisa berdampak buruk bagi diri diantaranya gampang ngiler dan menumbuhkan budaya konsumerisme. Memang masalah kapitalisme cetak sungguhlah menjadi masalah pelik mengingat harga kertas yang cukup mahal menyebabkan banyak penerbit mencari celah agar masyarakat tetap memiliki daya beli dan tercerahkan serta tidak menggulung penerbit itu sendiri.

Menurut Ronny Agustinus dari redaksi marjin kiri; “Kami tidak bisa mengutak-atik harga kertas, itu jelas. Dua buku pertama terbitan kami memakai kertas CD (seperti kertas buram) & banyak juga yang komplain karena tidak terasa seperti buku serius. Kami terus mencari kertas yg banyak dipakai kawan2 penerbit Yogya, CD impor Kanada, tapi mustahil ditemukan di Jakarta. Konon kabarnya –saya tidak tahu kebenarannya–ini kertas selundupan, dan kabarnya pula, di Yogya pun sudah semakin menyusut stoknya”. Saya sendiri ketika pertama kali membeli buku yang kertasnya buram langsung jengkel namun sesaat kemudian saya baru berpikir hal yang sudah diungkapkan oleh Bung Ronny Agustinus tadi. Harapan saya sih, pemerintah mau ikut peduli dengan masalah ini diantaranya dengan menurunkan harga kertas agar kami bisa memiliki daya beli lagi.

Apalagi persaingan antara penerbit sekarang sudah sangat kompetitif dengan banyaknya buku yang beredar dipasaran, saya yang melihat banyak sekali buku baru per bulannya tinggal mengelus dada karena anggaran yang sudah sengaja saya alokasikan per bulan hanya mampu membeli beberapa buku saja. Tingkat kompetisi yang cukup baik di kalangan penerbit dan daya beli masyarakat yang menurun dapat menghancurkan industri penerbitan dan saya harap hal ini tidak terjadi karena bukan saya saja yang rugi namun juga masyarakat secara umum khususnya mereka yang masih sekolah alias menuntut ilmu.

Kebijakan penetapan buku pelajaran yang tiap tahun ajaran selalu berganti sampai kemampuan perpustakaan yang disediakan pemerintah masih sangat minim terasa sangat memberatkan. Semoga tak terjadi tapi apa mau dikata, kenyataannya sekarang terjadi… kita protes yuk sama pemerintah, ok!

Ditulis dalam Konsumerisme | Leave a Comment »

Que Sera Sera

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 6, 2006

Ah, kabur dulu…
Persiapan mau pindahan alias ngekos. Kemaren udah ada yang nawar rumah padahal yang lain-lain angkat kaki aja belum… eh, kayak mau diusir aja. Jadi bingung, buku-2 mau diangkutin ke Menado atau saya bawa, padahal bikin berat-beratin aja. Kalo bener jadi ke jual sebelum waktunya, cuma bisa bawa komputer doang, gpp deh.. lumayan ada kawan setia. Paling tidak, tinggal sama ortu selama ini cuma tinggal formalitas karena dari makan, bensin sampai bayarin internet pake hasil keringat sendiri. Cuma, masih ada tantangan lagi yang mengharuskan meras otak supaya bisa lulus. Setelah itu, saya bebas………. udah bisa melewatin 2 tantangan berat didepan mata, doain ya..Stop, bukan doain ke usir tapi lulus ujian ditahapan ini dalam hidup, ok.

Ditulis dalam Hiburan | Leave a Comment »

Akhir Cerita

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 4, 2006

Tak tahu hati ini
Bicara tanpa henti
Setelah semua yang terjadi
Secepat datangnya, sekilat itu juga pergi

Ku tahu hari ini kan datang
Walau tak secepat perkiraan
Ku tahu api ini harus kupadamkan
Perubahan itu pasti, walau sekuat karang

Hanya bisa berucap kata sori, walau ku tahu tak berarti
Apakah itu kata penutup, jika salah jangan dibalas tuba
Rasa ini kupaksa pergi, kucoba untuk tak pernah lagi peduli
Sesungguhnya baru kusadari ternyata kemarin hanya bualan kosong belaka

Begitulah selalu cerita manusia
Suka dan duka beratnya tak pernah setara
Tentunya kusadar hati dan cinta hanya untuk keluarga
Serta semangat yang kubakar telah terlanjur membara

Teruntuk ummat manusia yang berkemanusiaan
Mereka yang merindukan keadilan dan kesetaraan
Mereka yang mencintai kebebasan dan harkat martabat
Manusia yang mendambakan cinta kasih serta kedaulatan rakyat

Ditulis dalam Syair Hati | Leave a Comment »