aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Arsip untuk ‘Agama’ Kategori

Hilangnya Pesona Agama

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 3, 2006

Di gambar sampul tampak seorang rohaniawan berjejer duduk dengan salah satu capres. Ia berpakaian necis dengan jam tangan yang kelihatan tidak murahan. Senyumnya lebar seperti iklan pasta gigi. Beberapa orang bilang kalau rohaniawan ini memiliki mobil keluaran baru. Di rekening, menurut laporan KPKN, uangnya melimpah-ruah. Padahal tidak ada aktivitas bisnis yang dijalankannya. Mungkin pergaulannya dengan elit telah menyedotnya dalam gaya hidup yang mengharuskan untuk bertampang kaya. Kekayaan kian membuat kedudukannya makin meyakinkan. Walau ada yang berakibat penjara, tapi uang dan kekuasaan tetaplah memikat.

Hal yang sama juga tampak sewaktu beberapa ulama membuktikan makanan halal. Mereka duduk kemudian di bawah sorotan kamera melahap makanan yang sempat dikabarkan mengandung lemak babi. Seorang peneliti menyatakan kalau sejumlah orang yang ikut makan juga dapat menikmati saham produsen makanan itu. Label halal memang bukan sekedar atribut yang memberi makna religius melainkan juga bagian dari modal. Banyak kasus dimana bagaimana pabrik susu yang didirikan harus menyetor untuk sekedar mendapat label ini. Meski terbukti label itu tidak berarti menghilangkan cacat produk. Tapi modal dan agama yang berkawan akrab akan menciptakan sistem ekonomi, yang memakai agama, untuk mengeruk laba.

Itu sama dengan bisnis suplemen makanan hingga obat yang juga menggalang dan memanfaatkan sentimen agama. Ada bisnis multi marketing yang memanfaatkan identitas agama tertentu. Meski pada dasarnya bisnis ini mengakumulasi modal pada segelintir orang, tapi dengan menggunakan agama, ketidak-adilan yang menjadi roh bisnis ini tersembunyi rapat. Disinilah komodifikasi agama menjadi daya hidup baru bagi kelompok pemodal yang ingin melakukan pengurasan sumber daya pendapatan masyarakat. Beberapa lembaga keuangan agama memberikan kredit konsumtif yang mustinya dimonopoli oleh bank komersial.

Situasi serupa juga terjadi dalam lembaga pendidikan yang mengatas-namakan agama. Meski label sekolah itu adalah rohaniawan yang terkenal asketik hidupnya, tapi itu sekedar nama. Nama itu tak mengusung apapun, bahkan menjadi bermakna komersiil. Apalagi jika ini ditunjang oleh methodologi pengajaran keagamaan yang masih konservatif. Agama ibaratnya berubah, dari peran sebagai pembebas menjadi kekuatan yang menyihir kesadaran seseorang. Mengapa keadaannya bisa seperti ini?

Anthony Giddens memang memberi isyarat memikat tentang perubahan yang diakibatkan oleh modernisasi yang kini melaju kencang. Dunia mampu bertahan karena, menurutnya ditopang oleh industrialisasi, negara, pasar dan militer. Keempatnya menjadi penyokong besar bagi pertumbuhan dan pemerkuatan sistem sosial. Meski melaluinya ekses globalisasi modal menjadi sesuatu yang nyata dan memberikan pengaruh. Pada titik ini, agama disini juga ikut memberi andil bahkan menjadi selubung religiositas bagi ekspansi keempat-empatnya. Bagaimana cara kerja dan pengaruh agama?

Industrialisasi adalah mesin yang mengubah sifat alam yang semula memiliki makna kepemilikan kolektif menjadi individual. Dimana-mana kini terjadi eksploitasi sumber daya alam yang dijalankan oleh berbagai industri raksasa, bahkan tak jarang kelompok agamawan kritis menjadi sasaran yang diberantas jika menghalangi ekspansi ini. Saat agama tidak menjadi kekuatan yang mengontrol ketat eksploitasi ini maka agama dimanfaatkan untuk menjadi akses masuk. Beberapa konflik yang terjadi di beberapa daerah, yang konon karena perbedaan agama, lebih banyak disebabkan sesungguhnya oleh perebutan antar kuasa modal. Industrialisasi kian masuk ketika agama dibutuhkan untuk labelisasi ketimbang mengambil peran sebagai agen yang menjalankan kontrol.

Sukses industrialisasi tergantung pada bagaimana jalannya pasar. Pasar merupakan arena dimana semua transaksi jasa maupun barang dikomoditifikasikan. Kepercayaa pasar bahwa semua aktivitas bisa dinilai dan diukur dengan laba telah menganiaya fungsi agama sebagai rahmat bagi semesta alam. Agama kemudian menjadi penyokong mekanisme pasar dengan keikut-sertaanya dalam komersialisasi ritual. Sejumlah upacara keagamaan bahkan menjadi bagian dari promo wisata dan pelatihan keagamaan menjadi demikian mahal dan elitis. Ini semua kemudian menjadi malapetaka besar ketika pasar ikut terlibat dalam komersialisasi layanan publik. Lagi-lagi agama dibawa-bawa, untuk menambah kadar ‘kesucian’ institusi yang bernama pasar.

Lantas bagaimana fungsi dan peran negara. Negara memang punya kelebihan dalam soal legitimasi dan kontrol, karenanya perebutan untuk duduk di kursi kekuasaan menjadi kian penting. Politisasi agama menjadi bahaya baru, karena melaluinya obsesi untuk duduk dalam kekuasaan diselubungi oleh motif religius. Politisasi agama membuat politik bukan perkara menjalankan mandat rakyat melainkan bagaimana Tuhan diajak aktif terlibat. Teokrasi yang dulu jadi kekuasaan yang hendak ditumbangkan kini berujud partai politik yang melayani pengurus elit-nya ketimbang rakyat pendukungnya. Rakyat kemudian jadi massa yang harus tunduk pada otoritas pimpinan partai, karena ia bukan sekedar pimpinan melainkan orang yang punya kedudukan agama yang tinggi. Politisasi agama menjadi bahaya, karena meletakkan agama sebagai elitisme dan rohaniawan hanya jadi aparatus kekuasaan.

Dalam kondisi buruk inilah maka proses militerisasi mudah sekali masuk dalam tradisi agama. Proses dimana penyeragaman secara massal ditunjang oleh pemerkuatan tekhnologi mesin perang jadi pilihan alternatif. Saat agama tidak mampu mengambil peran kritisnya maka kedudukanya akan mudah disalah-gunakan sebagai pengawal bagi perluasan kekuasaan modal. Pembakaran, pemukulan maupun penganiayaan pada sejumlah orang oleh kelompok yang mengatas namakan agama tertentu merupakan cerminan frustasi sosial dan benih dari meledaknya politik fasisme. Bahaya yang mengintip dari proses militerisasi ini karena memang pendidikan keagamaan belum menganut tradisi demokrasi dan kepemimpinan yang dijalankan juga masih hierarkhis. Apalagi memang tradisi kekerasan memiliki akar sejarah yang panjang disini.

Proses penghayatan keagamaan yang rawan inilah, telah membikin agama menjadi kekuatan yang memasung. Agama bisa keluar dari kepompong kekuasaan dan ekonomi jika melakukan dekonstruksi mendasar. Diantaranya adalah mengubah methodologi pengajaran, yang semula beranjak dari teks menjadi berangkat dari realitas. Realitas dimana ada ketimpangan, ketidak-adilan serta kekacauan sosial menjadi pijakan yang bisa jadi rujukan aktivitas. Realitas yang bertutur bagaimana kepemimpinan agama kerapkali tidak konsisten dan memiliki motif kekuasaan. Realitas yang akan mengajari seorang pemeluk berhadapan dengan tantangan aktual bukan bayangan ancaman. Melalui realitas kesadaran keagamaan akan jauh lebih kritis dan teruji pada tingkatan praksis.

Karenanya agama bukan penawar melainkan kekuatan pembebas. Agama memang perlu tahu dengan bagaimana bekerjanya modus operandi kekuasaan. Kekuasaan bukan untuk dinikmati kemudian dibagi dengan kolega, melainkan bagaimana menjadi pelayan bagi kepentingan luas rakyat. Karena itu selain berangkat dari teks maka organisasi keagamaan harus menjalankan aktivitasnya yang berlawanan dengan sistem kapitalisme maupun kekuasaan yang despotik. Gerakan keagamaan perlu untuk menjalankan fungsi progresifnya yakni mulai meyentuh advokasi bagi mereka yang tertindas. Semata-mata untuk membuktikan kalau agama adalah kekuatan pembebas yang peduli dan mau membela yang miskin.

Kini agama memang berada di persimpangan, pada satu sisi menjadi kekuatan yang menghamba pada kerajaan uang dan di sisi lain jadi kekuatan yang memberontak pada tatanan. Di tengah ancaman kelaparan, keterhimpitan ekonomi serta jeratan hutang maka agama dimintai peran aktifnya. Terdapat banyak pilihan bagaimana agama mengembangkan peran maupun pengemban kekuatan kritis, dan itu sebabnya pilihan ini akan sangat menentukan bagaimana sebenarnya agama akan menjadi lambang sebuah protes.

Ditulis dalam Agama | Leave a Comment »