Pagi itu kulangkahkan kakiku ditengah-tengah petak sawah. Kabut yang masih menyelimuti tak menyurutkan nyaliku untuk merasakan dinginnya hawa pedesaan. Sementara sinar sang mentari mulai tersenyum dan sedikit demi sedikit keceriaan pagi, hangat mulai menggantikan senyapnya malam bersamaan dengan riangnya burung berkicau. Kuhentikan perjalananku sejenak dan memutuskan duduk diatas sebuah batu besar yang atasnya pipih. Kuhirup udara pagi sekali lagi dalam-dalam, kurasakan nikmatnya aroma kedamaian alam yang sudah sangat lama tak pernah kudapatkan lagi, yaa! Sudah terlalu lama diriku pergi.
Perjumpaanku ini mengingatkanku pada diriku yang masih sering bermain diatas tanah sawah ini pada usia 6 tahun. Masa dimana tanah disini begitu subur dan masih sangat alami tumbuh bersama bulir-bulir padi mulai menguning, kesukaan burung-burung. Kadang, kubantu Petani yang menjaganya sekuat tenagaku, sukarela tentunya namun tidak sekuat orang-orangan sawah. Kuingat pula dengan jelas, kuluangkan waktuku memancing ikan ditelaga, hmm.. masa dimana memancing adalah hobi karena ikan yang bisa kudapatkan memang sebesar telapak tanganku sekarang bukannya memancing di parit-parit kota besar yang ikannya hanya segemuk jari jempolku saja, itulah alasan kemudian mengapa diriku membenci memancing ikan selain membuang-buang waktu tentunya.
Diatas batu ini dan telaga yang terhampar didepan mataku inilah, pernah banyak ku habiskan waktu bersenda gurau bersama teman sepermainanku sambil menarik-narik kangkung air yang merambat memenuhi permukaan telaga, menyembunyikan ikan-ikan bergerak liar bebas. Apalagi ketika tiba masanya pembukaan telaga guna memanen hasil ikan, wow, senangnya hatiku bisa menangkap banyak ikan dari ikan mas sampai ikan terkecil nila, berguling-guling dikotornya becek Lumpur, oh, keriangan yang belum pernah kuulangi lagi.
Namun, ingatan ini membawaku pada kejadiaan menyedihkan saat kedua anak Om Antje, begitulah kupanggil dirinya, pekerja di perkebunan kami yang telah lama bekerja untuk kami dan tinggal bersama keluarganya, meninggal dunia tenggelam saat bermain disekitar telaga. Begitulah, musibah datang tak pernah kita duga dan sangka. Hal itu juga membuatku trauma pada air selama beberapa waktu walau sebenarnya ketakutanku itu juga disebabkan hal lain yaitu berkat kenakalanku, pernah aku dimasukkan ke dalam tandon selama beberapa menit… hehe, ayahku tak sejahat itu koq.
Kembali lagi, lamunanku hilang segera tak berbekas. Kini, setelah kabut perlahan menipis dan hanya menyisakan segarnya embun pagi, kutatap jelas areal persawahan ini telah berubah banyak. Di kanan kiri kusaksikan bangunan kokoh sebagian telah berubah fungsi dari gudang sampai dengan pabrik. Oh, peradaban alamiah tradisional itu telah tergantikan dengan kebudayaan modern. Sebuah realitas yang terbangun mendesak dan memojokkan indahnya alam. Petak sawah itu telah hilang, tanah ini tak terawat, ilalang dan rerumputan tinggi sudah menjadi sarang ular, menunggu datangnya Tuan baru membawa tiang pancang. Tiba-tiba, kakiku terperosok kedalam bekas kubangan kecil. Berlawanan dari niatku untuk memaki, aku pun tertawa sekeras-kerasnya memngingat betapa seringnya sepatuku belepotan lumpur sawah bahkan terjatuh di sawah untuk menghindari hukuman disebabkan keterlambatanku sewaktu masih bersekolah di SMP yang kebetulan letaknya hanya 100 meter saja dari rumahku dan melewati ranah sawah ini tentunya. Tergelak, diriku sudah menikmati kehidupan di pedesaan dan perkotaan dimasaku menuntut ilmu dalam penjara yang bernama sekolah. Kuhembuskan nafasku guna kugantikan dengan hawa sejuk ini, ahh… andai bunga hadir disini bersamaku menyaksikan keagungan anugerah ilahi yang telah dirusak manusia, ahh… seandainya, kuberharap lagi, suatu kesalahan yang selalu kuulangi kembali!