aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Arsip untuk ‘Ideologi’ Kategori

ANARKISME; PAHAM YANG TAK PERNAH PADAM

Ditulis oleh dhant di/pada Juli 29, 2006

Oleh Alm. Mansour Fakih

Selama ini, mendengar kata Anarkisme disebut, banyak orang segera merasa gelisah dan cemas, terbayang suatu kelompok manusia bringas yang siap menebarkan keonaran, kekacauan, kehancuran dan malapetaka. Meskipun pada umumnya orang hanya secara intuitif, tanpa tidak pernah mencoba menggali lebih seksama tentang apa yang disebut sebgai pandangan Anarkis tersebut, Namun istilah anarki sendiri sudah terlanjur menimbulkan kemarahan dan terlanjur secara luas disimpulkan bahwa anarkisme adalah sebagai suatu paham yang menakutkan karena jahat. Orangpun tanpa berpikir panjang percaya bahwa Anarkisme adalah negatif dan berbahaya, titik. Pendek kata, dalam memandang anarkisme, tidak hanya apparatus negara, bahkan masyarakat akademia, bersepakat bahwa Anarkisme adalah musuh umat manusia. Dengan demikian keyakinan yang mendominasi pemikiran masyarakat luas adalah bahwa “anarkisme” tidak lebih dari penyakit sosial yang bertentangan dengan segala norma sosial yang baik dan pantaslah jika anarkisme dianggap musuh masyarakat. leh karena itu dianggap wajar juga untuk menganjurkan untuk memberantas Anarkisme sampai keakar-akarnya. Anjuran untuk senantiasa waspada terhadap segala bentuk anarki saat ini telah menjadi hampir kesepakatan sosial. Pendek kata, Anarkisme perlu di amputasi atau dilenyapkan, untuk selamanya.
Lantas mengapa Anarkisme menjadi paham yang sangat ditakuti sehingga perlu dibrantas habis? Jangan-jangan letak persoalannya hanya karena kita tidak paham betul apa sebenarnya yang menjadi cita cita Anarkisme. Lebih ironis lagi, jangan-jangan secara diam-diam kita, anda dan saya tanpa menyadari, juga dalam beberapa hal bersimpati bahkan untuk banyak hal berbagi keyakinan dengan anarkisme Atas alasan itu semua, perlunya untuk memperdebatkan, merenungkan dan mempertimbangkan anarkisme sehingga akan melahirkan sikap kritis masyarakat sebagai alternatif dari sikap apriori menerima maupun apriori menolak, ataupun membenci secara membabi buta ataupun sikap secara taklid buta untuk menerima atau menolak tanpa suatu kesadaran mengapa dan untuk apa. Oleh karena itu lahirnya sikap dan kesadaran kritis yang didorong oleh suatu keterbukaan, dialog kritis adalah sesuatu yang yang harus difasilitasi oleh karena tema yang umumnya dianggap tabu untuk dibicarakan, bahkan tidak layak untuk diapresiasi, justru yang seharusnya perlu diapresiasi dan yang pertama tama perlu diacungkan jempol.
Lantas, apa sebenarnya dan mengapa Anarkisme begitu kontroversial? Anarkisme sebagai suatu paham atau pendirian filosofis maupun politik yang percaya bahwa manusia sebagai anggota masyarakat akan membawa pada manfat yang terbaik bagi semua jika tanpa diperintah maupun otoritas, boleh jadi merupakan suatu keniscayaan. Pandangan dan pemikiran anarkis yang demikian itu pada dasarnya menyuarakan suatu keyakinan bahwa manusia pada hakekatnya adalah mahluk yang secara alamiah mampu hidup secara harmoni dan bebas tanpa intervensi kekuasaan juga tidaklah ssuatu keyakinan yang sangat salah. Lalu dari mana datangnya persepsi bahwa anarkisme berarti mendorong pada kehancuran dan keberantakan? Padahal sangat jelas dari pengertian diatas sesungguhnya Anarkisme tidak identik dengan keyakinan pecinta kehancuran. Bahkan tidak ada indikasi bahwa anarkisme serta merta merupakan cita acita yang menjurus kearah kekacauan ataupun kehanacuraan dan keberantakan. Namun yang jelas memang anarkisme merupakan suatu pemikiran yang mendambakan suatu “orde” yang bersifat spontan. Mereka umumnya menolak segala prinsip otoritas politik, pada saat yang sama sangat percaya bahwa keteraturan sosial niscaya terwujud justru jikalau tanpa otoritas politik. Secara sepintas dapat dilihat, bahwa musuh gerakan anarki adalah segala bentuk otoritas, maupun segala bentuk simbol otoritas, dan bentuk otoritas yang bagi kaum anarkis sangat jelas adalah otoritas yang dimiliki oleh negara moderen. Itulah sebabnya bagi kaum anarkis, negara dipandang memonopoli otoritas kekuasaan yang perlu dibatasi, misalnya seperti kekuasaan territorial yang mereka miliki, kekuasaan yuridiksi atas rakyat termasuk kekuasaan menguasai kekayaan sumber daya didalam wilayah yang mereka kuasai. Kekuasaan negara juga muncul dalam bentuk pemanfaatan sistim hukum positive yang eksistensinya serta merta menundukkan dan menyingkirkan semua bentuk hukum yang “dianggap negatif”, seperti hukum adat dan banyak hukum lainnya. Dan akhirnya gagasan bangsa sebagai suatu bentuk puncak dari politisasi masyarakat juga menghancurkan segala bentuk kelompok kelompok masyarakat. Semua otoritas tersebut dipelihara melalui monopoli penguasaan alat alat pertahanan dan keamanan, bahkan negara memonopoli cara untuk menundukkan rakyat. Sebaliknya anarkisme memang mengidamkan suatu visi social tentang “masyarakat alami” yakni suatu masyarakat swakelola yang mandiri dari para invidual yang secara swadaya membentuknya. Anarkisme bahkan menjadi sikap politik bahwa pemerintahan selain tidak perlu juga destruktif. Ini memang sesuai dengan makna harfiah Anarki, yang konon asal katanya memang berakar dari kata Yunani yang artinya kurang lebih “tanpa aturan atau without a rule”, dan memang dalam perkembangannya telah digunakan.
Apa sebenarnya pandangan, visi dan pendirian filosofis kaum anarkis? Anarkisme mengambil berbagai bentuk dan spektrum, yakni dari Anarkisme aliran kiri dan eskrim kiri, maupun anarkisme aliran kanan bahkan sampai anarkisme ekstrem kanan yang berwatak individualistik. Meskipun anarkisme kelihatannya berakar pada paham kebebasan individual yang liberal, namun lokasi konflik pahamnya justru pada pada titik yang terletak antara negara dan masyarakat. Meskipun terdapat berbagai aliran pemikiran kaum narkisme dalam berpendirian terhadap lokasi konflik negara-masyarakat tersebut. Namun pendirian pendirian mereka sesungguhnya secara sederhana dapat dikatagorikan kedalam Anarki individualistik dan anarki sosialistik. Anarki Individualistik berangkat dari cita cita kebabasan individual, serta berpangkal juga dari kedaulatan individual atas pemilikan harta dan kekayaan pribadi, serta pemilikan privat. Dengan demikian arah anarki individualis ini adalah suatu bentuk dari anarki kapitalisme. Sementara anarki kiri yang berwatak sosialistik justru berangkat dari penolakan kekayaan pribadi dan negara yang menurut mereka sebagai sumber penyebab dari ketidakadilan sosial. Golongan anarki ini justru berpendirian perlunya pembatasan kekuasaan dan keperkasaan negara atas individu dalam kelompok kelompok masyarakat. Pendek kata paham ini adalah perkawinan antara paham bercorak liberalistik dan sosialisme. Itulah mereka juga disebut sebagai Sosialisme Libertarian.
Kalau kita telaah perkembangan pemikiran dan gerakannya, Anarkisme sudah lama sekali berkembang dan pemikiran tersebut masing berkembang hingga saat ini dengan nama, gaya dan bentuk yang berbeda-beda. Meskipun sudah lama berkembang, misalnya William Godwin (1756-1836) telah melontarkan gagasan yang diduga menjadi inspirasi paham Kooperasi sosialis model Owen, namun membincangkan paham anarkisme tidak dapat melupakan bagitu saja tokoh pemikir Proudhon yang pada dasarnyaa mengadaaopsi gagaan koperasi sosialis. Dia melihat bahka kekuasaan negara dan kekuasaan Modal adalah sinonim, sehingga mustahil baginya menggunakan negara untuk memperjuangan kaum proletar. Belakangan Bakunin melanjutkan gagasan tersebut, bedanya Bakunin menempuh jalan pengambilalihan secara revolusioner dan kekerasan untuk membangun kolektivisme. Peter Kropotkin salah seorang pengikutnya Bakunin melanjutkan gagasan tersebut secara lebih komunistik, yakni dengan menganjurkan gagasan “segala sesuatu milik setiap orang, dan pembagian didasarkan pada kebutuhan tertentu masing-masing.
Perkembangan praktek anarkisme demikian juga penentangnya dimana mana dan para buruhpun mulai mengadopsinya yang melahirkan suatu sempalan baru yang dikenal dengan “Anarcho-Syndicalism”, atau Revolutionary Syndicalism. Mulai dari pikiran bahwa fungsi serikat buruh yang secara tradisional memperjuangkan kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja dianggap sudah lagi tidak memadai. Serikat buruh harus menjadi organisasi militan untuk menghancurkan Kapitalisme dan negara. Buruh harus ambil alih pabrik-pabrik dan dikuasai. Dengan demikian, serikat buruh juga dituntut mampu untuk menjadi pengelola manajemen pada saat pasca revolusi. Pendek kata bagi mereka serikat buruh pada dasarnya berfungsi sebagai badan perlawanan, namun pada era pasca revolusi serikat buruh harus juga berfungsi dalam administrasi menjemen untuk mengelola industri. Untuk menjaga stamina militansi, suasana lingkungan perlu secara terus menerus dikembangkan untuk itu. Mereka, para anarki sindikalis dimasa lalu sangat percaya bahwa suatu aksi perlawanan yang massif akan mampu melumpuhkan negara dan bahkan sistim kapitalisme.
Bagaimana gerakan anarki saat ini dan masa mendatang? Saat ini sesungguhnya gerakan anarkisme tengah mengalami kemunduran. Kecuali di Spanyol gerakan anaki dihancurkan dimana-mana. Meskipun dua tokoh Anarki besar seperti Bakunin dan Kropotkin berasal dari Rusia, namun gerakan itu disana justru dikerdilkan oleh rezim totaliter disana maupun idenya dikooptasi oleh Partai Sosialia Revolusioner Narodniki.
Sementara ditempat lain dimasa lalu gerakan Anarkisme pernah mengalami kejayaannya. Contohnya, gerakan perlawanan sosio kultural yang dipelopori oleh Mahatma Gandhi dianggap sebagai realitas dari pengaruh Anarkisme di Asia. Gandhi berhasil mengembangkan gerakan resistensi dan pembangkangan social yang bersifat anti-kekerasan di Afrika Selatan dan India. Orang percaya bahwa Gandhi banyak membaca pikiran Anarkis seperti Leo Tolstoy dan Thoreau maupun Kropotkin. Meskipun impian Gndhi tentang suatu masyarakat komunal berbasis desa swadaya belum pernah terwujud, tetapi pemikirannya dilanjutkan orang orang sepahamnya dengan mengembangkan gerakan Sardovaya yang dipimpin oleh Vinoba Bhave Jaya Prakash Narayan yang mengembangkan gerakan pemilikan tanah secara kolektif yang dikenal dengan gramdan, dimana pada tahun 60-an menjadi gerakan yang mendapat sambutan secara luas di India.
Di Barat Anarkisme memang menjadi daya tarik kaum intelek. Anarkisme dianggap menjadi pendorong gerakan Civil rights di Amerika akhir tahun 1950-an, dimana warga kulit hitam Amerika melakukan resistensi terhadap ketidakadilan yang dilegalisir dalam konstitusi dengan menggunakan gerakan moral. Gerakan itulah yang dianggap sebagai picu gerakan social selanjutnya, dimana gerakan sosial makin meluas dan meruncing, tidak hanya terbatas sebagai gerakan civil rights tapi telah berkembang menjadi gerakan umum menentang struktur elitisme dan gerakan kritik terhadap gaya hidup materialisme masyarakat industri baik di negara negara Kapitalis maupun negara Komunis. Gerakan itu terus berlangsung hingga tahun tahun 1960-an dan 1970-an. Anarkisme dengan demikian telah menjadi identik dengan gerakan “counter culture” atau budaya tanding yang sangat popular dikalangan anak muda dan Mahasiswa dan kelompok kiri secara umum di Amerika dan Eropa serta Jepang. Namun watak anarkisme generasi ini memang lebih merupakan pemberontakan budaya ketimbang suatu hal yang berwatak ideologis.
Pendirian akan penolakan kaum anarki terhadap negara, serta desakan untuk desentalisasi dan otonomi lokal, sangat gaung kuat terhadap mereka yang bercita cita menegakkan demokrasai participatory. Jika gerakan sosial ditahun 60-an memendam semangat “buruh menguasai industri” maka kelihatannya pikiran Anarcho-Syndicalisme masih hidup. Tetapi Anarkisme generasi tahun 60-an dan 70-an memprakarsai suatu perlawanan masif dan berskala global melalui aksi langsung dengan membentuk parlemen jalanan mempunyai agenda yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Gerakan anarkisme era tersebut menunjukkan adanya indikasi kuat bahwa mereka menerima warisan pemikiran Bakunin tentang “pan-destructionisme” dimana mereka percaya bahwa sistim masyarakat yang ada saat itu sudah sangat rusak, korup dan munafik sehingga sudah tidak layak lagi untuk diperbaiki dan harus dibersihkan secara total.
Dari perbincangan ini, kita dapat memahami ternyata paham anarkisme tidak sesederhana yang selama ini diprsepsikan oleh banyak orang. Anarkisme juga memiliki anatomi dan bentuk gerakan yang bermacam macam. Menganggap tungal terhadap anarkisme yang sebenarnya beragam tersebut dapat memunculkan suatu kesalahpahaman yang tidak perlu. Karena memang paham anarkisme dalam perkembangannya pernah menjadi pendorong terhadap perubahan sosial menuju suatu masyarakat bebas dari otoritarianisme menuju pada suatu masyarakat egaliter, tanpa dominasi dan demokratis. Bahkan paham Anarkisme telah menjadi inspirasi terhadap lahirnya banyak karya sastra tentang kemanusiaan yang sangat berbudaya. Misalnya saja kritik Ivan Illich terhadap “sekolah” di awal tahun 70-an merupakan salah satu karya seorang anarkis yang memberi isnpirasi bagi berbagai upaya pembaharuan pemikiran dan metodologi pendidikan. Pendek kata sudah lama masyarakat luas menjadi semakin manusiawi dan beradab, justru karena inspirasi dari para pemikir anarkis.
Bagaimana masa depan Anarkisme? Pada saat ini rakyat secara global mnghadapi tantangan besar akibat dari menguatnya paham Neo-Liberalsime. Indikasi menguatnya paham ini telah mendorong tata ekonomi, politik, sosial dan budaya kedalam suatu zaman yang dikenal dengan era Globalisasi. Globalisasi yang merupakan suatu formasi sosial untuk pengintegrasian ekonomi nasional bangsa bangsa kedalam suatu sistim ekonomi Kapitalisme global, juga telah memincu munculnya gerakan anarkisme baru diawal abad ini. Proses Globalisasi yang memaksakan pembentukan sistim, tata relasi dunia baru ini membawa akibat semakin menguatnya institusi modal dan Negara-negara Kapitalis melalui WTO dan Lembaga Keuangan Internasional terdapat indicator telah membangkitkan semngat anarkisme lagi. Berbagai perlawanan rakyat secara global diberbagai tempat menentang WTO dan Bank Dunia menjadi saksi dari kebangkitan gerakan anarkisme lagi yang secara global dikenal yakni The World Bank dan International Monetary Fund (IMF). IMF inilah organisasi yang paling dianggap berkuasa di abad 20.
Justru pada era globalisasi inilah terdapat suatu gejala lahirnya kembali gerakan anarkisme global yang selama ini tidak banyak kedengaran. Globalisasi justru seakan membangunkan kaum anarkis dari tidur, atau paling tidak membangunkan gerakan sosial yang mendapat inspirasi dari kaum anarkis secara global, seperti gerakan anti WTO, gerakan anti Hutang seolah meneruskan gerakan Hijau, gerakan feminisme, gerakan masyarakat Adat ataupun gerakan rakyat kaum miskin kota dan sebagainya. Gerakan rakyat menentang pembangunan Dam dibeberapa tempat di Asia, seperti gerakan anti proyek pembangunan Dam Narmada di India tahun 1980-an, pada dasarnya merupakan suatu bentuk dari “New Social Movement” yang mendapat inspirasi dari pikiran anarkisme. Pada tahun 1992, gerakan untuk menyelamatkan Narmada ini berhasil mendesak Bank Dunia untuk mencabut dukungannya terhadap proyek tersebut. Gerakan yang “mewarisi sikap Kritis dan semangat anarkisme Mahatma Gandhi” ini adalah merupakan gerakan sosial yang menantang watak otoritarian kekuasaan negara dan sikap ekstraktif dari proses ekonomi yang dominan. Gerakan anarkisme yang dalam era itu juga disebut sebgai “New Social Movement” tumbuh dimana mana, dalam skala lokal, nasional, bahkan global.
Saat ini, sekali lagi kita menyaksikan suatu gerakan “koalisi global menentang WTO dan gerakan “Anti Hutang” Jubilee 2000, serta berbagai koalisi global menentang Bank Dunia, yang ditunjukkan dengan turunnya kembali kaum muda di jalan jalan kota-kota besar dunia setiap diselenggarakan pertemuan Globalisasi adalah fenomena resistensi sosial yang mengingatkan bangkitnya kembali gerakan anarkis atau bahkan terjaganya dari tidur panjang watak anarkis dari gerakan sosial. Gelombang sentimen untuk menentang watak dominasi Neo Liberalisme dan rezim Globalisasi yang mendunia saat ini, bukankah fenomena yang merupakan indikasi lahirnya kembali anarkisme. Masih banyak kasus yang saat ini tidak terungkap, bagaimana gerakan masyarakat di tingkat akar rumput melakukan resistensi terhadap Globalisasi yang pada dasarnya memiliki watak sebagai reinkarnasi pemikiran anarkisme. Misalnya saja gerakan para aktivis untuk membela para petani dari invasi budaya modernisasi pertanian revolusi hijau serta gerakan sosial untuk reformasi agraria dan hak hak petani (peasant rights) di Indonesia saat ini, apakah tidak dapat secara luas dianggap sebagai bangkitnya kembali falsafah anarkisme?.

Tulisan diatas telah saya edit dan saya muat dengan maksud agar dipahami bahwasanya ‘destruktif adalah destruktif dan anarkis adalah anarkis janganlah dicampuradukkan destruktif adalah anarkis’, sekian.

Ditulis dalam Ideologi | 5 Komentar »

Ideologi dan Sepakbola

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 6, 2006

Beberapa hari yang lalu ketika orang tua saya mengirim uang untuk sesuatu keperluan melalui saya, tiba-tiba muncul perasaan ganjil dan bertanya-tanya dalam hati. Akhirnya, saya pertanyakan hal tersebut kepada orang tua saya mengenai jumlah uang yang dikirimkan memang sudah tidak sesuai dari kesepakatan. Orang tua saya mengatakan hendaknya kelebihan beberapa puluh ribu tersebut (maaf, saya tidak menjelaskan jumlah nominal sebenarnya) dipergunakan untuk membeli bendera. Sontak keterkagetanku muncul dan langsung saja kupotong “Bendera? Kan, bendera merah putih kita masih ada dan tersimpan dengan rapi tanpa bercak sedikitpun, koq beli lagi?”. Tak lama kemudian penjelasan disisi ujung telfon membuatku tertawa selebar-lebarnya, “apa gak salah!” timpalku. Ternyata, orang tuaku sengaja memberikan dana yang tak seberapa untuk membeli bendera tim kesayanganku yang masuk putaran final dan akan berlaga di perhelatan dunia untuk memperebutkan penghargaan supremasi dibidang sepakbola antar negara-bangsa.

Tiba-tiba, imajinasi nakalku segera muncul…. ah, aku tak tahu pabila orang Papua memasang bendera Belanda atau yang lainnya di Timika dengan maksud yang sama dengan masyarakat diwilayah nusantara yang bersukacita menyambut event akbar ini pastilah aparat TNI dan POLRI segera bereaksi cepat. Dalam pikiran mereka pastilah ada intervensi asing setelah sempat berkibarnya bendera bintang kejora dan beberapa kasus yang melibatkan Australia. Ah, bualan aneh-aneh namun secara serius lagi pikiran ini memberikan alternatif lain mengenai sepakbola yang memang menjadi media bagi pergolakan atas dasar keyakinan ideologi serta sebuah pengharapan yang sangat besar terhadap masa depan…… memang sepak bola adalah segala-galanya.

Melalui judul “Memahami dunia lewat sepak bola; Kajian tak lazim tentang sosial-politik globalisasi karya Franklin Foer dan diterjemahkan Alfinto Wahhab mencoba menjelaskan tentang “sepak bola yang bukan sekadar olahraga dan bisa menjadi alat untuk memahami seluk-beluk dunia kontemporer yang dilanda segala dampak arus globalisasi. Apa kaitan sepak bola dengan pembantaian Muslim Bosnia? Dengan budaya korupsi di Dunia Ketiga? Dengan bangkitnya sentimen-sentimen rasial dan konflik keagamaan? Dengan Zionisme maupun anti-Semitisme? Mengikuti perjalanan jurnalis politik Franklin Foer menyusuri jagad internasional sepak bola, bertemu dengan orang pertama yang melahirkan aksi-aksi hooligan, berkumpul dengan intelektual bawah tanah Italia pendukung Internazionale Milan, mengamati bagaimana falsafah El Barca penting untuk memulihkan konsep nasionalisme inklusif maupun citra sepak bola itu sendiri, serta segudang penelusuran memukau lainnya yang wajib dibaca oleh setiap penggemar bola maupun pengamat isu-isu sosial-politik” demikian sekilas tulisan yang coba ditawarkan oleh penerbit marjin kiri.

Tentunya kita tahu bahwa ideologi sangat merasa aman berlindung dibalik kekuatan sepakbola. Ideologi yang telah kalah dan dikalahkan mencoba bertahan dalam konteks globalisasi. Bukan berarti saya juga ikut membela semua ideologi yang ada dan bersembunyi tersebut akan tetapi perlu kiranya memahami bahwa sepakbola adalah kekuatan yang sangat besar bagi pembuktian kelompok minoritas dan kalah tersebut. Ideologi fasisme dan rasisme sendiri sekarang kembali tumbuh subur setelah era 80-an dan bangkit perlahan-lahan untuk kembali merealisasikan janji-janjinya. Tak lupa, bagaimana ‘derby’ antara rival sekota Internazionale Milan yang kaum borjuis dan aristokrat dengan AC Milan yang milik kelas bawah, berbeda asal muasalnya dalam hal kepemilikan. Namun, kini hal itu mulai bergeser, ingatan itu muncul saat Internazionale Milan memberikan bantuan bagi kelompok EZLN Chiapas-Mexico; Zapatista untuk pengembangan pendidikan dan pelatihan sepak bola disaat kelompok Sub Comandante Marcos itu menjadi musuh tentu saja tak terlepas dari peranan intelektual bawah tanah Internazionale Milan itu sendiri. Kita pun takkan lupa bagaimana kemenangan Iran atas Amerika dipiala dunia lalu dan berdampak sangat besar secara psikologis dan kebanggaan nasionalisme Arab. Pembantaian yang pernah menjadi sejarah kelam di bekas negara Federasi Yugoslavia diteruskan dalam bentuk persaingan dengan sesama bekas pecahan lainnya seperti Serbia, Montenegro, Kroasia, Bosnia, Slovenia, dan Macedonia. Apalagi nasionalisme Catalan yang semakin terangkat berkat kemenangan Barcelona menjuarai Champions League tahun ini dan ingin dapat kebebasan layaknya Inggris memberlakukannya pada Skotlandia, Walles dan lainnya serta yang jelas tidak mengikuti Basque, paling tidak seperti Quebec nafasnya. Belum lagi, kemenangan Sevilla di UEFA CUP kemarin sangat berarti sekali mengingat sebuah club kecil yang sahamnya mayoritasnya dimiliki oleh pendukungnya lebih berjaya dibandingkan Chelsea atau Manchester United yang dibaliknya berdiri seorang milyuner. Anak-anak Brasil dan seluruh penjuru dunia yang menginginkan bisa seperti Ronaldo yang tenar dan kaya dengan kemampuan mengocek bola namun apa daya.. seleksi alam mengharuskan hanya beberapa dari berjuta-juta anak-anak rakyat miskin sedunia yang bisa mewujudkan mimpi indah itu.

Akhh… ku tak mau memperpanjang lebar hal ini, yang pasti aku tidak mau memasang bendera jagoanku diatas atap, bukan berarti aku tak berani naik keatas atap atau kesetrum dan takut jatuh tetapi dari awal aku tidak terlalu suka saja dengan budaya baru berupa ‘kegilaan’ satu nusantara yang memasang bendera jagoannya sampai puncak menara sutet, kan selera orang berbeda-beda. Satu hal yang pasti, setiap sepak bola yang berlaga tim favoritku, kupastikan tak seorang pun yang boleh mengangguku, tidak juga kau… ah, kasihan nanti yang menjadi pendamping hidupku, ibu dari anak-anakku. Lonjakan kegirangan nan ekspresif berupa teriakan sebanding dengan pergumulan pasangan kekasih di ranjang penuh peluh menurutku dan tatkala bola menyentuh net gawang memberi kepuasan, begitu juga jika timku kalah, sangat mempengaruhi hidupku sehari itu. Sudahlah, sekarang saya hanya mendukung negara Inggris dan Spanyol serta Belanda… negara-2 yang secara historis memang penjajah dunia dan negeri ini pernah menjadi koloni, tak berubah agar diriku ini bisa kembali berwatak realis dan agresif.

Saya mau menambahkan sedikit saja, apakah ada yang mengetahui iklan terbaru Coca Cola yang memperlihatkan antara dua kutub yang selama ini berlawanan yakni si penindas dan si tertindas yang disatukan dan dapat bergandengan tangan saat melihat dan mendengar pertandingan sepak bola. Itulah ekspresi dan letak pertikaian sebenarnya dimana kedamaian hanya terjadi saat sepakbola dilangsungkan, setelah itu? Mari bermain peran lagi…

Ditulis dalam Ideologi | Leave a Comment »

Ideologi

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 2, 2006

Dalam The World Book Encyclopedia dinyatakan apa yang dinamai dengan Ideologi, tidak didasarkan pada informasi faktual dalam memperkuat kepercayaannya. Orang yang menerima sebuah sistem pikiran tertentu ini cenderung menolak sistem pikiran lain yang tidak sama dalam menjelaskan kenyataan yang sama. Untuk orang-orang ini, hanya kesimpulan yang didasarkan pada ideologi mereka yang dianggap logis dan benar. Karena itu, orang yang secara kuat menganut sebuah ideologi tertentu mengalami kesukaran untuk mengerti dan berhubungan dengan penganut ideologi lain. Bagi Manhheim ideologi, merupakan semacam proyeksi ke depan tentang gejala yang akan terjadi di kemudian hari berdasarkan sistem yang ada. Karenanya dalam pembedaanya secara pokok antara ideologi dan utopia, Mannheim mengutarakan ideologi cenderung memperkuat dan mempertahankan status quo sedangkan utopia akan mengguncang struktur sosial yang ada.

Pertanyaanya kapan sebuah ideologi itu muncul? Mannheim membedakannya dalam tiga jenis utama, pertama ideologi dapat muncul kalau seseorang atau sekelompok orang tidak menyadari lagi incogurensi atau ketidakcocokan diantara gagasan yang ada padanya dan kenyataan yang konkret dihadapi. Kedua, ideologi juga muncul kalau sekelompok orang dapat menyingkapkan ketidakcocokan termaksud, tetapi mereka justru tidak melakukannya karena ada kepentingan yang bersifat pragmatis atau emosional, yang barangkali akan dirugikan kalau ketidakcocokan itu dibuka kedoknya. Ketiga, ideologi juga terbentuk kalau orang melakukan penipuan secara sengaja entah untuk mempertahankan diri atau untuk mencapai satu tujuan dan kepentingan tertentu. Dalam konteks antropologis, tindakan seseorang dalam dunia sosial dibimbing oleh norma dan nilai sosial yang ada dalam dunia simboliknya. Sehingga, dalam prakteknya, orang yang tidak sanggup melakukan apa yang ia percayai akan cenderung mempercayai apa saja yang dilakukannya.

Namun adakah keuntungan dari cara berpikir ideologis? Berpikir ideologis akan membawa kita, bukan semata-mata pada pencarian tentang apa yang benar melainkan juga mengaitkan sebuah gagasan dengan basis keberadaan sosial dan intelektual. Secara dasariah ideologi telah mempertajam konsep perjuangan politis, yang ternyata tidak didasarkan pada kebenaran subyektif melainkan juga kepentingan-kepentingan kolektif yang menjuruskan sebuah arah pemikiran tertentu. Semisal cara berpikir yang menyatakan kalau dalam masyarakat sosialis manusia yang menjadi nomor satu sedangkan dalam masyarakat kapitalis modallah yang menjadi nomor satu. Kapitalisme yang telah memupuk kekuatan dari berbagai kritik kini telah menjelma menjadi ideologi, yang oleh Francis Fukuyuma, dikatakan sebagai akhir dari sebuah proses sejarah. Apa kemahiran ideologi kapitalisme? Pertama kemampuan merumuskan cita-cita sosial yang ada kemungkinan diwujudkan dalam organisasi sosial dan dinamik yang ada. Dengan kata lain dapat menciptakan social feasibility bagi cita-cita politik. Kedua tatanan sosial yang hendak dibangun cukup kuat untuk mampu menimbulkan dinamika baru dalam masyarakat yang tadinya belum ada atau belum ada secara memadai. Ini artinya menciptakan political feasibility bagi suatu pembaharuan sosial.

Akan tetapi sebagaimana dalam studi kritik ideologi, kadangkala penipuan justru bermula dari sana. Karena ketidak-mampuan mengatasi masalah sosial membuat seseorang mengubah sistem simboliknya dalam pikirannya, sehingga sistem simbolik itu dapat mengakomodasi suatu masalah sosial tanpa menimbulkan kontradiksi dan konflik dalam diri orang bersangkutan, sekalipun masalah yang dihadapi tidak diselesaikan. Itulah yang terjadi dalam perkembangan kontemporer kapitalisme, dimana bukan arus barang yang dijadikan arena utama melainkan sektor moneter dan finansial menjadi basis utama bagi tegaknya sistem ini. Apa yang diistilahkan sebagai rezim neo liberalisme bermula dari sana, yakni di kala negara harus dilucuti sejumlah peran sosialnya untuk diberikan sepenuhnya pada sektor swasta. Satu ideologi yang telah mengalahkan dua gagasan besar yang dicuatkan oleh Revolusi Oktober 1917 dan kemudian pada tahun 1989 ketika tembok Berlin hancur. Komunisme sebagai gagasan egaliterian memang tidak hancur berantakan bahkan masih hidup sebagai sebuah kritik, akan tetapi marxisme sebagai kekuasaan negara telah punah.

Ditulis dalam Ideologi | 1 Komentar »

Pancasila yang Chicken

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 1, 2006

Banyak yang memperlakukan Pancasila sebagai sesuatu yang sakral dan dikultuskan. Menurut saya, Pancasila hanya sebagai payung dalam bingkai keanekaragaman budaya bangsa, tidak lebih. Kelompok nasionalis yang selama ini mempertahankan mati-matian Pancasila dan UUD 1945 semuanya dalam paradigma chauvinis dan ultra nasionalis, namun tidak bisa berbuat apa-apa ketika berhadapan dengan kapitalisme global melalui globalisasi dan hal ini berarti kaum borjuis nasional kita adalah sekelompok chicken. Karenanya, saya setuju program kebangkitan industri nasional yang ditujukan mendewasakan para borjuis bangsa. Walaupun saya juga paham bahwa dalam pandangan kelompok lain, kebangkitan industri nasional akan memudahkan melakukan perlawanan sekaligus mendidik elit nasional dan bergabung dalam aliansi takstis menolak kapitalisme global.

Pancasila tidak boleh dikultuskan karena perkembangan zaman akan selalu membawa perubahan dan itu berarti ideologi besar yang dibawanya pun akan menyesuaikan dengan dinamika serta dialektika yang terjadi pada masanya. UUD 1945 juga inginnya dipertahankan tanpa mau dirubah substansinya padahal ketika UUDS maupun UUD RIS diberlakukan sesungguhnya banyak hak-hak rakyat yang dilindungi termasuk didalamnya mengenai HAM. Maka, UUD hasil amandemen tidak lain dipengaruhi oleh ideologi kapitalisme global yang neo liberalisme. Tetapi, pertarungannya hanya di penolakan amandemen dan yang setuju saja, bukannya mengamandemen namun penuh nilai-nilai komunal budaya bangsa dan anti globalisasi. Bukankah nilai-nilai fasisme seharusnya sudah hilang dan hanya menjadi kenangan masa lampau saja dan globalisasi harus dipahami sebagai media untuk bunuh diri.

Saya jadi miris melihat bertemunya tokoh-tokoh nasional yang didominasi oleh para murid-murid lulusan sekolah Orde Baru seperti Akbar Tanjung yang korup, Wiranto yang bertanggung jawab atas genocide di Timor Leste pasca jajak pendapat, kerusuhan mei 1998 serta beberapa yang lainnya namun tak terungkap, Try Sutrisno yang menjagal manusia di Tanjung Priok, Megawati yang gagal sebagai penyelamat bangsa dan bukan seorang marhaenis, Gus Dur yang hanya tajam di mulut dan dikudeta konstitusional. Apakah mereka layak menjadi orang-orang yang berhak memutuskan nasib rakyat Indonesia? Presiden SBY yang mengaburkan tanggung jawab militer atas pembantaian rakyatnya sejak organisasi militer didirikan dan hanya mau rekonsiliasi dengan kontestan pemilu 2004 yang kalah dan tak pernah mau mengakui adanya pelanggaran HAM berat di negara ini serta Jusuf Kalla yang kelakuannya seperti Thaksin dan ongkang-ongkang kaki karena selama konflik Poso, perusahaannya mendapatkan previllege dan diuntungkan atas beroperasinya diwilayah konflik dan dijaga oleh militer. Lalu, apakah kita hanya diam saja? Tidak! Bangkit dan mulai melakukan pengorganisasian di tingkatan massa rumput dengan penyadaran karena ini saatnya kaum muda mengambil alih kendali perlawanan dan menegakkan keadilan dan menciptakan kemakmuran tanpa penindasan. Terlalu idealis? Tidak, hanya merealisasikan mimpi-mimpi menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ditulis dalam Ideologi | 1 Komentar »