aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Arsip untuk ‘Media’ Kategori

Diriku pada peradaban semu

Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 6, 2006

Ditengah malam ini sekembalinya dari keliling kota tanpa tujuan yang pasti kecuali singgah sebentar untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan, diriku mencoba mencari kesibukan mengingat rasa kantuk itu belum juga kunjung tiba. Sembari memasak air panas yang nantinya hendak kubuatkan secangkir kopi khusus menjaga kekuatan pijaran mataku nantinya tak redup disela keterjagaanku. Kunyalakan tivi menggunakan remote control lalu ku nikmati kekuatan dan penguasaan sejati terhadap mainan harianku ini, memindahkan channel tanpa henti namun yang kulihat hanya tayangan yang mengumbar selangkangan dan sekitarnya.

Dari program acara yang hampir kesemuanya memberikan pelajaran membangkitkan gairah ditengah malam, diriku lebih menjatuhkan pilihan pada program sepakbola. “Aha, ini dia yang sudah sebulan jarang kulihat lagi, menunggu musim yang baru bergulir”, sambutku menatap Amsterdam Tournament, pertandingan sepakbola pre-season yang diikuti 4 tim dari liga yang berbeda tiap tahunnya semenjak 1999, hm… kucinta sekali budaya popular ini, seperti semua orang, bagian dari industri, hahaha, ku puas. Air panas yang penuh dengan uap dan sudah menggurak dalam bahasa banjar berarti mendidih, mulailah kubuatkan kopi untukku sendiri serta merta kuyakinkan diri dan memantapkan hati telah menjatuhkan pilihan pada program acara sport yang benar-benar sport bukannya tayangan “sport” yang itu. Ah, mediaku, haruskah kulalui system pers yang liberal ini menuju ke system pers yang bertanggung jawab?. Sekali lagi, kusadar, diriku haruslah konsumen yang wajib kritis untuk mengangkat kehendak menjadi penguasa dalam menentukan tayangan yang terbaik bagi diriku, akulah raja atas remote control dari tv bututku, hahaha…. Pssssttt, hmmm… indahnya hidup didunia kapitalistik ini.

Setelah tayangan ini selesai, apakah yang hendak kulakukan, ah, biarkan saja tubuhku melayang dikerasnya kasur yang seharusnya empuk, seharusnya! Mengapa tidak kupasang saja program winamp di PC dengan lagu ‘hawaiian welcome’ dan ‘mysterious girl’-nya Peter Andre berulang-ulang. Lumayan, aku bisa segera tertidur pulas, membiarkan setan terbang bebas meninggalkan tubuhku sebentar saja dan kembali menakutiku lagi setengah hati, menakuti koq nanggung!

Ditulis dalam Media | Leave a Comment »

Media tivi

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 10, 2006

Wah, ternyata banyak orang yang memaki SCTV sebagai pemegang hak siar Piala Dunia di Indonesia namun tak mampu membayar untuk acara pembukaan….. cuma mau bilang satu hal saja, kasihan amat sih, udah tahu orang bosan sama Ungu dan Radja kecuali kalo yang naik panggung system of down baru asyik :) .

Oh ya, mengapa seorang Titiek Soeharto yang anak penguasa Orde Baru tiba-tiba muncul menjadi presenter tamu apakah karena gaya yang diterapkan oleh orang-orang Orde Baru selalu sama, menghilang dalam beberapa tahun dan kembali untuk memperbaiki citra. Sosok Titiek Soeharto sebagai Komisaris Perusahaan di SCTV dan upaya mengembalikan citra cendana setelah kegagalan Tutut tampil dipublik memaksanya harus turun gunung dan sudah diawalinya sejak pemberian bantuan gempa serta korban gunung Merapi walau kemudian justru kontra produktif. Akhirnya, setelah 2 hari tampil di Tivi dengan wajah seperti orang blo’on dengan menyebut nama pemain yang seringkali salah, memotong pembicaraan dan tolah-toleh kesana kemari…. si tante Titiek jadi kapok mendapatkan setumpuk hujatan dan menuai kecaman, amien…. dan menonton bola serasa live dari cendana-pun berakhir sudah, semoga… Eh, saya ralat lagi, ternyata tidak tampilnya Titiek Soeharto semata-mata hanya karena pergantian tugas yang sudah terjadualkan dan akan tampil kembali, demikian keterangan dari sumber di SCTV, gimana nih… kita nonton bola lagi dari cendana?! :D

Saya juga mau ikut mendoakan pada kru Jejak Petualang TV 7 yang hilang dalam perjalanan menggunakan perahu long boat dari Asmat ke Timika semoga selamat dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Berita terakhir, 4 kru Jejak Petualang TV 7 sudah ditemukan selamat sedangkan 1 kru dan 3 penumpang lainnya masih dicari keberadaannya.

Ditulis dalam Media | 17 Komentar »

Essai Melawan Hegemoni

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 3, 2006

Bentuk akhir gaya (tulisan) diperoleh lebih dari perilaku benak daripada dari prinsip mengarang (Strunk dan White)

Seorang Achmad Tirto Adisurjo yang berusia 20-an tahun ketika mendirikan koran yang diberi nama Medan Prijaji. Goresan essainya yang tajam telah membangkitkan kesadaran pada anak-anak pribumi tentang kekejaman Kolonial. Diantara yang terprovokasi tulisanya adalah Mas Marco, yang menulis dengan satire, tentang kota Semarang saat senja. Mas Marco, yang kelak menjadi tokoh muda radikal Sarekat Islam, memiliki kepiawaian dalam mengungkap tentang kebusukan kolonialisme. Tulisan menjadi senjata yang jauh lebih ampuh ketimbang senapan. Ia telah menegaskan kembali, guna sebuah tulisan. Ernest Hemingway membuat kalimat yang indah berkaitan dengan tulisan:…lewat ciptaan, Anda membuat sesuatu yang bukan sesuatu perwakilan, melainkan suatu hal yang benar-benar baru, yang lebih benar daripada apapun yang benar dan hidup, serta Anda membuatnya hidup, dan apabila Anda membuatnya dengan cukup baik, Anda memberinya keabadian. Itulah alasan Anda menulis.
Hemingway, mendedikasikan hidupnya untuk menulis banyak kisah. Panitia Nobel di tahun 1954 memberinya penghargaan, karena Hemingway berjasa dalam ‘keahliannya menguasai seni bercerita dalam prosa modern’.

Hemingway tidak sendirian, di abad 21 ini, gerakan Zapatista yang berjuang untuk tanah masyarakat Adat menggunakan ‘senjata’ tulisan. Subcomandante Marcos, begitu disebut pimpinannya, memanfaatkan banyak metafora untuk mengguncang keyakinan orang pada ideologi Neo Liberalisme. Essainya yang menumpahkan puisi, syair dan berbagai kisah jenaka, makin mengokohkan kedudukanya sebagai pemimpin gerakan. Essainya makin menghasut, karena dalam diskusi tentang neo liberalisme, ia cukup berdiskusi dengan seekor serangga. Imajinasi yang liar dan cerdik! Indikator ekonomi yang kerapkali membikin orang pusing, ditumpahkan dalam tulisan yang sederhana dan jujur.

Sebuah essai memang bukan artikel yang padat dan kering. Jika artikel harus dilandasi oleh beragam teori, tetapi essai memerlukan perayaan Imajinasi. Sebab Imajinasi ini akan merangkai fakta yang muram, menjadi tulisan yang menggugah. Berikut contoh tulisan EZLN tentang Chiapas:…Perlahan-lahan dataran Chiapas mulai terbelah. Angin dari atas mengambil bentuk-bentuk purba arogansi dan keangkuhan. Polisi dan tentara federal merapatkan barisan uang dan korupsi. Angin dari bawah sekali lagi berkelana sepanjang jurang dan lembah-lembah; ia mulai menghembus kuat-kuat. Akan ada badai…….Saksikan bagaimana bait-bait tulisan yang isinya dikirimkan, kepada semua media massa Mexico, yang menyiratkan tentang bagaimana kejamnya Kapitalisme global. Tulisan ini mencoba untuk melawan, segala ceramah dan himbauan pemerintah agar penduduk ikut serta dalam ‘pasar bebas’. Buat pembaca essai memang perlu menampilkan kesadaran baru tentang sebuah fenomena, yang kadangkala, harus dikatakan dengan indah.

Di Indonesia kita mengenal sosok penulis cerdas yakni Asrul Sani. Prosa dan essainya kerapkali dimuat dalam majalah Zenith. Kalimat-kalimatnya, dalam istilah Goenawan Mohammad, cerdas, memikat dan sarkasmenya menusuk kesana-kemari. Sejumlah kalimatnya sangat jenaka. Dalam essainya Surat dari Jakarta, dikritiknya sikap mereka yang tak mau bergulat dalam masalah sosial: aku-lihat-kalian-seperti Badut yang memandang enteng dan enggan terlibat. Jika diambil contoh lain, Asrul Sani berkomentar tentang nasionalisme: Nasionalisme Indonesia menurutnya ‘suatu kebangsaan yang masih mencari alasan’. Kebangsaan itu mungkin kuat ‘karena ia mungkin sangat fanatik’, tetapi dalam kekuatannya itu ‘ia tak begitu pasti akan nasibnya atau masa depannya, ataupun keabadian dirinya’ Dan sebabnya, kata Asrul: ‘Karena ia adalah sesuatu yang ‘belum punya alasan’ dan karena itu tidak mempunyai sumber, dari mana perasaan yang terkandung di dalamnya dan yang dapat mengeluarkan tenaga, dapat diberi hidup. Orang sering mengatakan, bahwa sumbernya adalah suatu kebudayaan atau suatu tradisi. Tapi tradisi atau kebudayaan itu harus dibenarkan dulu’ Asrul Sani menggoreskan ‘pertanyaan dan kegelisahan’ mendalam pada sejumlah konsep-konsep besar. Tentu untuk menghasilkan kualitas tulisan semacam ini, membaca buku Politik tidak mencukupi.

Seorang penulis essai perlu ‘mencintai’ topik yang diangkatnya; cinta membuatnya memiliki kemampuan untuk bertanya, sangsi, keyakinan dan pengetahuan mendalam tentang detail. Dalam bahasa Clarissa Pinkola Estes dikatakan: ‘Jika anda ingin mencipta, anda harus mengorbankan kedangkalan, sedikit rasa aman, dan rasa ingin disukai. Anda harus menata wawasan Anda yang paling kuat, visi anda yang paling jauh’. Diperlukan sikap yang keras dan belajar giat, terutama untuk memproduksi kata-kata yang kadang tidak lazim. Sudut tulisan yang datar, lempang dan banal akan menjadi kolom yang kering dan mudah dihapus oleh waktu. Untuk melawan kelaziman itu memerlukan hasrat, yang kadang harus menggebu-gebu, apalagi jika tulisan itu merupakan essai sosial-politik. Sebuah essai yang selalu ingin berbicara soal besar dan gagah.

Tentunya, tak perlu malu untuk memulai tulisan essai dengan cara yang ‘aneh’. EZLN sebagai sebuah pasukan yang anggotanya menutup muka, mengawali tulisan kadang dengan kalimat yang, mencemooh. Haji Misbach, bahkan beberapa kali, membuat tulisan dengan menggunakan banyak tanda seru. Essai mereka memang imajinatif, liar bahkan mungkin keluar dari ‘pakem’ ejaan yang umum. Ada kalanya memang tulisan yang teratur, datar dan dibumbuhi dengan analisis yang padat, akan memberikan penjelasan yang mendalam pada pembacanya. Essai dengan kualitas begini, yang mungkin lebih diterima oleh media massa. Tentunya memang tinggal menggali data dan membumbui analisa melalui pendapat dari berbagai pakar; niscaya akan diperoleh tulisan yang dari sisi awam mengaggumkan. Walau ada yang hilang dari tulisan begini yakni posisi si penulis karena essai memang seminimal mungkin memberikan gambaran memadai tentang, keberadaan dan posisi berdiri sang penulis!

Ditulis dalam Media | Leave a Comment »