Apakah nasib kita terus akan seperti
Sepeda rongsokan karatan itu?
O, tidak, dik!
Kita akan terus melawan
Waktu yang bijak bestari
Kan sudah mengajari kita
Bagaimana menghadapi derita
Kitalah yang akan memberi senyum
Kepada masa depan
(Wiji Thukul, Puisi untuk Adik)
Guru tanpa letih
Di ujung ruangan itu saya masih ingat sosok guru yang begitu gigih mengajar angka. Waktu itu saya paling tolol dalam soal pembagian dan perkalian. Tiap kali maju ke papan tulis selalu mendapat semburan marah. Bukan apa-apa karena memang berulang-ulang angka dan pembagiannya itu sukar untuk dimengerti. Dengan modal penggaris yang panjang maka guru itu akan mengancam siapapun yang berani membangkang pada perintahnya. Saya sangat terkejut jika kemudian guru itu tiba-tiba berubah jadi penyabar dan lembut. Entah makhluk apa yang mampu mempengaruhi kebiasaan guru yang begitu keras itu menjadi orang yang pendiam bahkan beberapa kali murung. Beberapa tahun kemudian saya baru tahu apa penyebab perubahan sikapnya itu.
Ia ternyata terbelit oleh hutang salah seorang wali murid. Orang tua wali murid itu ternyata dikenal sebagai seorang yang selalu membagi kredit. Ia kreditkan barang apa saja, dari kompor hingga sepeda motor. Si guru yang penghasilannya pas-pasan itu ingin membeli beberapa perabot yang layak pandang. Diambilnya televisi berwarna, kompor gas dan almari dengan nilai cicilan yang jauh dari gajinnya. Ia terpaksa membayar bukan hanya dengan uang tapi merelakan dirinya untuk memberi les gratis pada anak wali murid yang kebetulan satu kelas dengan saya. Guru, apalagi dengan kesejahteraan yang rendah, sangat mudah sekali untuk merelakan diri melakukan apa saja. Terlalu banyak kisah yang mengiris-iris batin kita menyangkut nasib guru yang carut-marut ini.
Soal penghargaan hanya layak untuk menjadi kutipan pasal dalam UU Pendidikan, ketimbang bagian dari komitmen nyata pemerintah. Berulang-ulang ada keluhan mengenai rendahnya imbalan yang layak bagi guru, tapi seketika itu pula, tuntutan itu seolah hanya meyentuh atap birokrasi. Jika diulang kembali, gaji guru hanya layak untuk menjadi bahan kampanye ketimbang aksi konkret yang secara nyata dapat dirasakan langsung. Upaya meningkatkan kesejahteraan guru yang masih rendah itu pulalah yang kemudian membuat guru hanya menjadi perisai bagi tegaknya sebuah kekuasaan atau upaya untuk mengatakan kepedulian terhadap sektor pendidikan. Bagaimana guru mampu berdiri terhormat di hadapan muridnya, jika dirinya sendiri, terikat utang-piutang dengan salah satu wali murid.
Guru, terutama untuk tingkat sekolah dasar dan menengah, memang kemudian berusaha untuk ‘hidup layak’ dengan cara apa saja. Di beberapa daerah terpencil ada yang nyambi jadi tukang ojek, nelayan dan bahkan ikut dalam grup kesenian. Dengan kesejahteraan yang jaraknya begitu jauh dengan anggota dewan tak bisa tidak guru menjadi profesi paling buncit yang diminati. Beberapa orang lebih nikmat untuk menekuni profesi sebagai artis, pedagang atau kalau perlu jadi politisi ketimbang guru. Sangat menyakitkan misalnya, pejabat eselon I, II dan III mendapat tunjangan jutaan rupiah sementara guru hanya Rp 64.000 sebulan. Padahal kebutuhan hidup terus meningkat seperti irama musik dangdut, yang melompat dan harga berjoget seenaknya. Guru kemudian menjadi sasaran utama dan pertama dari kebijakan yang menyakitkan dan selama ini ditimpakan oleh pejabat pejabat pendidikan.
Padahal waktu yang disediakan oleh guru dalam mengajar memakan waktu yang banyak. Di beberapa daerah terpencil satu guru bisa merangkap beberapa pelajaran dan beberapa kelas. Ia bukan sekedar pahlawan tapi martir ketika dunia pekerjaan yang semakin efisien dengan penggunaan sedikit waktu ternyata itu tak berlaku bagi profesi guru. Guru kemudian menjadi mangsa apa saja yang bisa menjadi pintu bagi peningkatan kesejahteraan. Tanpa letih beberapa penerbit melobi guru untuk menjadi tenaga pemasaran buku atau yang lebih menyakitkan lagi jadi tim pemenang dari kandidat politik tertentu. Layak jika kemudian guru bukan hanya diserbu oleh tradisi pasar yang kapitalistik melainkan sistem politik yang memarginalkan sekaligus komoditifikasi atas peran mereka.
Sama-sama Guru tapi nasib tidak sama
Baru saya dengar kali ini, seorang rektor yang kampusnya di-BHMN-kan ternyata mendapat gaji yang fantastik, hampir 30 juta per bulan. Beberapa jabatan struktural menjadi status yang mendapat imbalan besar. Berulang-ulang demo mahasiswa digelar untuk melampiaskan kemarahan mereka atas dunia kampus yang mirip dengan dunia dagang. Tapi nasib mahasiswa yang menjerit dengan biaya mahal tidak sepadan dengan kemakmuran yang didapat oleh para pengurusnya. Malahan ada mahasiswa yang digugat pencemaran nama baik. Guru beda dengan rektor, walaupun keduanya punya kemampuan yang serupa, yakni mengajar.
Sama halnya dengan keluhan guru pada beberapa pejabat pendidikan yang mendapat upah besar. Kasus proyek pengadaan buku yang meledakkan serangkaian tindakan korupsi menerbitkan sinyal akan buruknya birokrasi pendidikan. Walau tugas Diknas diantaranya adalah urusan pendidikan tapi banyak guru mengeluh bagaimana susahnya mengurus kenaikan SK maupun urusan pindah-memindah. Soal ini yang pernah membuat seorang guru mengusulkan agar Diknas dibubarkan saja. Bubarkan saja, kalau untuk mengurus apa saja susah dan lagian kita selama ini tidak merasa disejahterakan. Letupan amarah ini, lagi-lagi mengindikasikan betapa birokrasi pendidikan kurang dapat melindungi sekaligus mensejahterakan guru.
Rendahnya penghargaan juga dialami oleh dosen perguruan tinggi yang tidak terampil meng-objek. Dengan gaji yang juga pas-pasan beberapa dosen terpaksa harus menjadi distributor serta tenaga pemasaran buku. Mereka biasanya akan memaksa mahasiswa untuk membeli buku karyanya sendiri. Sebagian yang lain memilih untuk merangkap jabatan apa saja asalkan halal. Sejak liberalisasi politik berjalan agresif beberapa dosen lebih suka untuk aktif di luar kampus ketimbang mengajar. Dari niat yang seolah-olah gagah, seperti terlibat dalam proses demokrasi sampai alasan yang simpel yakni gaji dosen yang kecil. Itu sebabnya tradisi intelektual kian hancur dan itu ditunjukkan dari sedikitnya dosen yang menghasilkan buku.
Nasib yang tidak sama pula meyentuh beberapa guru SLB (sekolah luar biasa) dan GTT (guru tidak tetap) Lagi-lagi guru semacam ini mendapat gaji rendah dan kurang mendapat perlindungan. Malahan pernah ada test untuk guru GTT yang syarat khusus bagi pesertanya adalah tidak menuntut untuk diangkat sebagai tenaga pengajar tetap. Dengan syarat seperti ini, lagi-lagi guru kemudian sudah dikondisikan untuk menerima nasib yang mengenaskan. Garis kehidupan yang murung ini, mungkin yang membuat guru kemudian menjadi sosok yang dengan gampang dimanfaatkan untuk kampanye apa saja. Beberapa orang bilang, untuk mendapat dukungan politik yang besar sebaiknya mengangkat isu-isu pendidikan. Pendidikan hanya layak untuk jadi bahan kampanye ketimbang jadi pekerjaan politik yang perlu penanganan.
Guru mungkin saatnya mengajar penguasa
Di Kampar beberapa guru yang merasa terhina oleh omelan pejabat setempat mulai bergerak. Di Jakarta ibu Nuraini yang berasal dari SLTP 58 mengingatkan kalau peran guru kini tidak lagi sekedar mengajar di kelas. Mereka juga mengajar para penguasa yang tidak melihat pendidikan sebagai sektor yang strategis. Waktunya guru untuk berani menuntut haknya dan memperjuangkannya melalui mekanisme yang dijamin oleh hukum. Diantaranya adalah hak untuk berorganisasi dan memperjuangkan tuntutan-tuntutan dasar pendidikan.
Sebenarnya pada masa orde baru PGRI menjadi payung bagi sejumlah guru. Sebagai organisasi yang menghimpun guru maka keberadaan maupun mandatnya semata-mata untuk melindungi sekaligus mensejahterakan guru. Tapi Orde Baru memang sejak awal enggan dan bahkan tidak bersedia untuk mendorong PGRI sejauh itu. Fungsi PGRI kemudian hanya terbatas pada hal-hal administratif dan sebagian yang lain, terutama sejak keruntuhan Soeharto, membentuk organisasi yang memiliki mandat progresif. Tuntutanya kemudian tidak saja meningkatkan kesejahteraan melainkan juga dimilikinya hak untuk ikut serta dalam pengambilan putusan. Peran inilah yang kiranya akan melampui apa yang dulu dilakukan oleh PGRI.
Tuntutan dasar untuk mendapat perlakuan yang layak. Perlakuan tidak semata-mata tambahan atau tunjangan gaji melainkan juga memperhitungkan tiap kebijakan yang berimbas pada pendidikan. Upaya tukar guling beberapa bangunan sekolah dengan Mall memberi petunjuk yang menyolok bagaimana bangunan sekolah kini sama harganya dengan bangunan lain. Gagasan untuk memotong subsidi yang mengakibatkan melejitnya harga menjadi ongkos yang mahal untuk dunia pendidikan. Guru terutama organisasi yang menaunginya mengemban tanggung jawab agung kalau kebijakan apapun selalu punya imbas bagi sektor pendidikan. Layak jika kemudian guru yang telah lama mengorganisir diri mulai beranjak untuk mendesakkan tuntutan-tuntutan publik yang mustinya berpihak pada mereka.
Tugas mengorganisir sama mulianya dengan mengajar. Tan Malaka dulu dengan sekolah rakyatnya telah memupuk kesadaran siswa kalau belajar bisa melalui realitas. Waktunya memang guru untuk tidak sekedar menyandarkan harapan atau menunggu dengan sabar kebijakan penguasa. Menuntut dan menekan sama halnya dengan melatih untuk terus berpikir kritis. Guru tidak bisa lagi diam menerima segala penderitaan, tapi sebaiknya guru perlu untuk melancarkan tuntutan, melakukan gugatan dan yang lebih penting lagi adalah mengataka tidak jika kebijakan pendidikan merugikan posisinya. Nilai seorang guru memang bukan sekedar dilihat dari ketulusan dalam mengajar melainkan juga dari bagaimana keberanianya untuk mengembalikan pendidikan pada tujuan semula. Yakni melatih akal budi dan penghargaan atas martabat mulia manusia.
Namaku guru dan tetap sampai kapanpun
Merawat akal budi, menyemaikan nilai-nilai kemanusiaan dan berpihak pada keadilan menjadi identitas yang melekat pada guru. Dengan berhamba pada nilai-nilai itulah guru selayaknya berada di garis terdepan dalam bentang kehidupan sosial. Karenanya pendidikan yang meluluskan para guru memang saatnya untuk dilakukan perubahan. Perubahan bukan semata-mata pada materi pembelajaran melainkan juga pada methode yang selama ini cenderung tidak melihat kebutuhan dan keperluan siswa. Metode yang selalu seragam sudah tidak masuk akal dalam menjawab perubahan-perubahan drastis yang berlangsung.
Guru, dimanapun memang layak untuk mempertahankan kepribadian yang selalu hangat dan terbuka. Pribadi yang membuatnya layak untuk menjadi pelindung dan sandaran bagi kegelisahan maupun kegembiraan siswa. Bayangan saya tentang guru, sebagaimana yang ada di taman kanak-kanak yang selalu menyediakan cadangan senyum dan permintaan maaf yang besar. Guru, bagaimanapun tetaplah menjadi kunci bagi proses pendidikan yang berkualitas. Karenanya tugas menjadi tenaga pendidik, dengan upah yang menyakitkan, tetaplah menjadi tugas raksasa yang indah dan menawan. Sikap guru memang dapat dilihat dari bagaimana bentuk kepribadian siswanya.
Bayang suram tentang komersialisasi pendidikan bisa menyesatkan fungsi maupun peran guru. Sebagai sosok yang mengabdi dan percaya akan akal sehat guru selayaknya melihat murid bukan sebagai siswa tapi kader bangsa yang menyimpan potensi besar. Semua anak, terutama yang miskin punya hak untuk mendapat pendidikan yang terbaik. Pendidikan mahal bukan hanya berat untuk si miskin tapi juga membuat guru gagal dalam mengemban peran terbaiknya. Peran yang bersandar pada kepercayaan kalau pendidikan menjadi hak semua orang. Pendidikan mahal membuat guru tidak ditantang untuk memberikan yang terbaik bagi mereka yang tidak mampu.
Kini sekolah yang berkompetisi untuk membuat pendidikan unggulan telah menjadikan guru berhadapan dengan jenis murid standar. Cerdas, gemilang dan kaya. Bukan seorang guru jika tidak diberi kesempatan untuk menolong mereka yang tertinggal dan bukan seorang guru jika tega meninggalkan mereka yang ada di belakang. Semua murid punya peran dan kesempatan yang sama, tapi bagi mereka yang miskin dan mungkin juga bodoh adalah tugas untuk membuka akses. Guru dalam situasi pendidikan yang buruk ini memang perlu untuk berpihak, terutama bagi mereka para siswa yang berada dalam posisi tertinggal. Pendidikan memang untuk semua orang, tapi bagi mereka yang tidak mampu dan tertinggal, pendidikan hanya jalan untuk merubah kehidupannya. Dan adalah guru yang bertugas menjadi penerang untuk mereka ini.