aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Arsip untuk ‘Psikoanalisis’ Kategori

Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 10, 2006

Ternyata, dalam segala hal diriku telah melupakan hal mendasar sesuai dengan anjuran Marx dalam tesis kesebelas terhadap Feuerbach: “Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert, es kommt aber darauf an, sie zu veranderen” (Para filsuf telah menafsirkan dunia hanya secara berbeda-beda, namun yang terpenting adalah mengubah dunia itu). Bertindaklah aridhant, bertindaklah!!!

Ditulis dalam Psikoanalisis | 1 Komentar »

Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 10, 2006

Saya memang tipe manusia yang suka bermimpi, bukan mimpi yang kudapatkan tatkala tertidur pulas, bukan! Mimpi semacam itu sangat jarang terjadi pada diriku. Mimpi yang kuinginkan kurasa juga dialami oleh mereka yang selalu mendambakan taman surgawi dunia yang damai, bebas dari logo dan iklan, perbedaan sebagai rahmat dan kemakmuran adalah hal yang bukan lagi mimpi namun sudah terjadi. Bagaimana bisa hal diatas terjadi jika watak dasar manusia sebagai penindas dan eksploitatif selalu dikembangkan?. Penyadaran kawan, sadarkan mereka!.

Ditulis dalam Psikoanalisis | Leave a Comment »

Perenungan Tanpa Dasar

Ditulis oleh dhant di/pada Juli 29, 2006

Sangat mudah untuk berperilaku layaknya manusia yang memiliki segalanya
Terlalu mudah…………
Dan sangat sulit untuk berpura-pura seperti kaum yang tak berpunya
Sulit, kawan……………

Ditulis dalam Psikoanalisis | Leave a Comment »

Mencoba Menjadi Sahabat Setan

Ditulis oleh dhant di/pada Juli 29, 2006

Kali ini diriku mengundang setan untuk bersekutu denganku dan disela desahannya padaku ia membisikkan kalimat “kau sengaja menjebakkan dirimu padaku”, lalu aku pun termangu, hambar…. dan kemenangan nafsu yang melakukan pemberontakan terhadap akal sehatku lalu ku bercinta dengannya disaat beribu pertanyaan terjebak didalam pikiran dan terus bergulat menggauliku penuh peluh. Ya, kali ini aku benar-benar bermain api dalam kehidupanku sekarang!

Ditulis dalam Psikoanalisis | Leave a Comment »

4 things in my life!!!

Ditulis oleh dhant di/pada Juli 29, 2006

Akhirnya, PR dari We-win baru dapat dikerjakan setelah sekian lama, maaf ya win. Kesempatan itu baru datangnya sekarang setelah melampaui minggu-minggu yang penuh perjuangan….. :D kan setidaknya dikerjakan daripada tidak sama sekali.

4 Pengalaman organisasi dan pengorganisasian yang pernah kusinggahi sebelumnya :
1. Pernah singgah di GMNI mulai dari komisaris di komisariat Fisip-Unair dan komisariat Unitomo, Koordinator di KB Unair, DPC Caretaker, Koordinator Daerah Jawa Timur.
2. Internal kampus sempat di Wakil Ketua Himaprodi Ilmu Politik Fisip-Unair dan Menteri Litbang dan Pemberdayaan SDM BEM Fisip-Unair
3. Juga pernah singgah di Pusham Unair dan Dewan Buruh Jawa Timur lalu mendirikan ReD StaR Community, di FKKB, Mega-Hasyim Center, Warung KR serta menjadi Koordinator Bidang Perencanaan, Monitoring dan Evaluasi Tim Mega for President DPC PDI-P Surabaya
4. Mengorganisir kaum Nahdliyin menghindari konflik horizontal saat Gusdur dilengserkan melalui organ aliansi AMPeRa, mengadvokasi buruh pabrik sepatu di Sidoarjo, kasus tanah melawan marinir di Buntaran, Tandes lalu penolakan penggusuran PKL di beberapa wilayah di Surabaya serta membantu perlawanan mahasiswa terhadap pihak rektorat di beberapa kampus (yang lainnya off the record aja, ok).

4 Jenjang Pendidikan sebelum kuliah di Unitomo dan Unair Surabaya :
1. Taman Kanak-Kanak yang tak terlupakan di :
• TK Dorkas Maumbi, Airmadidi, Sulawesi Utara.
2. Sekolah Dasar tempatku pernah membentuk 4 sekawan terinspirasi dari cerita Trio Detektif, STOP dan 5 sekawan.
• SDN 007 Balikpapan, Kalimantan Timur (Kelas 1-4 dan 5-6)
• SDN Maumbi, Airmadidi, Sulawesi Utara. (Kelas 4; cawu 2-3)
3. Sekolah Menengah Pertama dimana masa puber benar-benar menjadi masalah dan berlanjut sampai dengan menengah atas :D
• SMPN 6 Balikpapan, Kalimantan Timur (Kelas 1; cawu 1-2)
• SMPN Maumbi, Airmadidi, Sulawesi Utara. (Kelas 1; cawu 3, Kelas 2; cawu 1)
• SMPN 6 Surabaya, Jawa Timur (Kelas 2; cawu 2-3, Kelas 3)
4. Sekolah Menengah Atas yang sangat bermasalah namun sejak SD sampai SMU tetap kompetitif karena prestasi wajib hukumnya dan selalu masuk 10 besar lalu mencapai puncaknya nomor 1 di Palangkaraya.
• SMUN Airmadidi, Sulawesi Utara (Kelas 1)
• SMUN 2 Manado, Sulawesi Utara (Kelas 2; cawu 1-2)
• SMUN 1 Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kelas 2; cawu 3, Kelas 3)

4 tempat diriku pernah banyak mendapatkan pengalaman :
1. Balikpapan
2. Manado
3. Palangkaraya
4. Surabaya

4 film yang disukai sama organ tubuhku ini :
1. Lord of The Rings-epic
2. Scent a Woman-drama
3. Ice Age-cartoon
4. The Schindler List-war

4 program TV yang disukai tanpa paksaan :
1. Berita
2. Sepakbola dan sport lainnya
3. Musik
4. Film

4 macam makanan yang disukai asal tidak beracun:
1. Kayaknya semua macam sea food deh, khususnya kepiting
2. Semua yang ada dagingnya juga ga pernah menolak, ga tau kalo perut :D
3. Semua jenis makanan dan kalo ada sambalnya itu jadi nilai tambah
4. Ada buah-buahannya dengan cuka juga bikin ngiler

4 situs yang dibuka tatkala mulai ga gaptek sama internet :
1. Yahoo ama google
2. Ngecek imel di yahoo sama gmail
3. Lalu, liat diskusi melalui milis-milis di yahoogroups
4. Ngecek blog sendiri

4 hal/orang terpenting dalam hidup sebelum ditambah pasangan hidupku :
1. Ibu
2. Bapak
3. Kakak
4. Adik

4 hal yang mengasyikan dalam hidup tanpa memperdulikan orang lain yang terganggu:
1. Musik sambil baca novel (dengar lalu nyanyi)
2. Nonton program sport (bola, F1, GP) dan Film hanya yang tertentu dan berkualitas!
3. Main Games di Komputer dan PS lalu menyalurkan hobi ngebut :D
4. Berdialektika dan mengorganisir massa rakyat.

4 tempat yang selalu ingin di kunjungi suatu hari nanti:
1. Mekkah
2. Bali
3. Balikpapan-Palangkaraya-Manado (biasa, trayek kehidupan)
4. Seluruh Indonesia

4 orang yang selalu ingin kutemui walau mungkin mereka tidak mau:
1. Keluargaku selalu
2. Erylien Tiara Zulkarnaen
3. Mereka yang pernah ku merasa pernah bersalah dan melakukan kesalahan
4. Manusia yang memiliki mimpi sama tentang dunia yang lebih baik

4 hal yang pernah di lakukan orang sekitarku yang ku benci sembari menggelengkan kepala:
1. Orang yang banyak mulut namun dangkal otaknya dan ga mau belajar serta ga pernah mau mengevaluasi dirinya
2. Dibohongi dan dikerjain orang
3. Di ‘tusuk’ dari belakang, kayaknya udah mulai terbiasa, sekarang sih selalu ngajak ‘bertarung’ jika motifnya sudah ‘terbaca’
4. Motif pertemanan yang sudah diketahui untuk kesenangan sesaat saja

4 obsesi yang masih dan Insya Allah tercapai :
1. Membuktikan pada orangtua dan diri sendiri
2. Menyeragamkan antara pikiran, hati dan tindakan
3. Menjadi manusia yang lebih baik dan semakin dewasa
4. Merealisasikan another Indonesia dan dunia yang lebih indah dimukimi

4 teman bloggers yang daku beri hadiah menyakitkan ini selanjutnya… ;)
1. Bebexxx
2. Nanang Musha
3. Mochtar Hanafie
4. Inuy

Ditulis dalam Psikoanalisis | Leave a Comment »

Psikoanalisis emosi dan sisi kedewasaan diri

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 7, 2006

Saya mau bercerita sedikit mengenai pendapat Thierry Henry, seorang pesepak bola dari klub Arsenal Liga Inggris. Menjelang pertandingan puncak final Champions League melawan Barcelona, ia menyatakan pada pers mengenai ketidaksetujuan terhadap sosok Ronaldinho yang selalu tersenyum dan tertawa serta kebetulan bermain untuk klub lawan. Ia lebih menyukai sosok Wayne Rooney yang emosinya selalu meledak-ledak selama pertandingan dilangsungkan. Saya melihatnya, perang pernyataan antara pemain dan pelatih kedua kesebelasan sebenarnya bagian dari perang urat syaraf dan hal yang lumrah cuma seringkali pisau yang dilemparkan berubah jadi boomerang. Sosok Ronaldinho, Wayne Rooney dan Thierry Henry sendiri merupakan tiga sosok yang sangat berlawanan yakni dari yang senangnya memamerkan pesona bibir, tipikal pemarah dan Henry sendiri yang terlihat sangat sabar. Pertanyaannya yang muncul apakah selalu dalam semua situasi hal ini dapat berlaku? menurut saya tidak semuanya walau ada hal-hal tertentu yang berlaku secara universal. Dalam permainan sepak bola mungkin saja sisi emosionalitas harus lebih banyak digali namun jika dalam hubungan sosial kemasyarakatan maupun organisasi, hal tersebut adalah senjata untuk bunuh diri. Ah, lupakan saja, pembukaan yang payah, langsung saja..

Mengenai tulisan saya apapun bentuknya, sesungguhnya hal itu bukanlah harga mati dan bukan pula penanda sesuatu harus berhenti pada titik itu. Itu adalah pernyataan diri yang kadang sebagai rasa bertanya tak berguna seperti puisi yang harus ada emosi baik kesedihan, kesenangan, kepedihan maupun kegembiraan agar puisi tersebut memiliki roh dan jiwa. Ini adalah bagian dari sisi imajinatif dan sisi humanisme dari hati saya yang coba saya tampilkan agar sisi ini bisa terus hidup dalam ‘taman’ nilai dan etika yang saya kembangkan. Inilah sisi yang coba terus saya hidupkan dalam kebahagiaan imajinatif setelah sekian lama saya tidak memiliki media untuk menghidupkannya dan blog ini seperti diary dari bilik otak imajinatif saya dan bisa diselami oleh orang asing yang terperosok tak sengaja sekalipun. Bukan berarti karena tulisan saya yang seperti itu maka otomatis saya teralienasi dan mengasingkan diri serta menumpuk kebencian terhadap berbagai problematika kehidupan. Tidak, saya tidak sampai di titik itu dan tidak senaif itu.. saya hanya mencoba memelihara nilai yang seharusnya bisa diperjuangkan dan mendapatkan tempat dan ruang keadilan dalam bayang imajiner kreatifitas saya yang ideal, selayak saya mengimajinerkan Indonesia. Sedangkan di sisi lainnya, kecenderungan masyarakat dan diri saya sendiri memperlakukan sesuatu sangat tidak manusiawi dan brutal. Agar sisi kasar dan buruk dari perilaku, perkataan ataupun perbuatan saya dapat diseimbangkan dengan imajinasi ideal dan hati agar saya tidak menjadi budak emosi, materi, tahta, manusia maupun budak duniawi ataupun surgawi. Saya bukanlah nabi yang hati, pikiran, ucapan dan perbuatannya sama indahnya.. saya hanya manusia yang seringkali melakukan kebodohan, bersilat lidah, berbohong bahkan terhadap kebohongan itu sendiri maka tak heran saya cenderung munafik terhadap hati dan pikiran, tubuh dan diri serta orang lain.

Mengenai tindakan dan perbuatan saya yang cenderung tidak sama dengan akal pikiran dan hati seringkali coba saya kompromikan sehingga kadang pilihan untuk mencapai jalan tengah menjadi pilihan yang rasional manakala kedua sisi saya mempertahankan egoisitasnya. Seringkali maskulinitas diriku ini sangat mendominasi sehingga sisi feminin yang setiap orangpun juga memiliki tercerabut dari akar kebudayaanku. Dalam kata-kataku yang menginginkan hilangnya penindasan juga suatu hal yang mustahil terjadi walau juga sebuah keniscayaan dan nilainya sama dengan hidup berdampingan antara Yahudi-Israel dengan Filistin-Palestina. Namun menggali ruang dialog hanya akan terjadi jika kedua sisi itu mau saling menggali lebih jauh kapasitas dan kemampuan daya dengan kemauan untuk berkompromi, mencari titik tengah lalu mengevaluasi diri dan bukannya menghakimi lalu pergi. Saya sadar, keegoisan saya banyak berkembang karena sikap emosional saya dan itu bukanlah hal yang bisa saya pungkiri. Ketercampuran itu memang dapat menjadi masalah besar dan kesadaran saya untuk lebih realis memakai daya nalar dan logika serta optimis memang suatu nilai yang harus saya raih juga pertahankan meski emosi takkan hilang karena telah menjadi bagian diri dan harus mampu dikelola serta dikendalikan.

Saya memiliki harapan besar bahwa esok perilaku, cara berpikir dan nurani saya harus lebih mencerminkan nilai kemanusiaan, lebih adil dan bijak serta mampu membantu bahkan mencurahkan segala daya upaya untuk membantu sesama yang saling membutuhkan. Saya tidak ingin tulisan diblog yang berasal dari pikiran saya berbeda dengan perlakuan saya terhadap pembantu maupun keluarga dirumah, saya tidak mau jika menduduki jabatan tinggi kemudian digunakan untuk memeras orang lain, saya tidak mau kehormatan saya dijual untuk harta dan kekuasaan semata serta beribu keinginan lainnya. Berpikir kritis dan alternatif bukan berarti mengajak hidup untuk susah dan penuh derita, bukan itu, justru dengan hidup kritis dan evaluatif, kita dapat hidup dengan bahagia dan peduli serta tidak mengirup nafas kelimpahan maupun kesenangan dari kepedihan ataupun penderitaan orang banyak. Jika kemarin dan hari ini saya menulis dan berbicara saja maka besok serta lusa, saya harus berbuat agar saya bisa membuat lebih baik dan merealisasikan kritik bahkan untuk bisa dikritik. Dunia selalu berputar, hari ini mengkin saya masih idealis, besok mungkin saya sudah pragmatis, kutak pernah tahu hanya berusaha mempertahankan keyakinan agar tidak terlalu banyak berubah walau seiring waktu dan problema pasti berubah, biar ku membawa dan dibawa, entah kemana. Jika hidup harus membawa idealisme dan prinsip, kupastikan diriku juga belajar menerima, memahami dan instropeksi serta memoderasi diri untuk membuat lebih baik dari apa yang pernah, sudah kita lakukan maupun hal yang buruk dan tak diulangi lagi agar aku dan pasangan hidupku masa depan bisa saling mengisi, dialog, kritik maupun oto-kritik sesama diri menjadi lebih dewasa dan bermakna. Ku berkaca dari pengalaman yang kualami, melihat realitas, terjun ke lapangan, yang kubaca, kudengar maupun kuhirup dan rasakan sampai berhenti dikhayal. Esok, kuharap serta kuniatkan subyektifitasku lebih dewasa dalam memahami dan mengarungi arus kehidupan, jauh lebih baik dibandingkan hari ini maupun kemarin. Namun, satu hal yang kucoba memastikannya adalah aku berusaha untuk selalu menepati janji walau meski terlambat ataupun lalai dan salah tak mampu memenuhi dan itu diluar kuasaku, karena Dia saksiku.

Kurasa diriku salah dalam saling memahami juga gagal dalam berdialektika, berpikir kritis dimaknai kritik, berharap dikasihani dan selalu mengeluh serta masih bersikukuh dalam keangkuhan. Sebuah puisi pernah telah kutorehkan juga telah kuakhiri walau tak ada yang pasti namun diriku belajar untuk tidak menjadi kuli emosi lagi… seperti yang pernah kau katakan, semoga.

Ditulis dalam Psikoanalisis | 2 Komentar »

‘Kebutaan’ dan ‘Kehidupan’

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 7, 2006

Cerita I
Ada seorang mahasiswa yang ingin mencoba bagaimana rasanya menjadi orang buta? Kesulitan apa saja yang harus dihadapi oleh mereka yang tidak bisa melihat? Untuk itu ia mencoba melakukan experiment, dimana ia menutup matanya selama tiga bulan. Hal pertama yang ia rasakan ialah kehilangan kemandiriannya, jangankan untuk jalan keluar untuk mengambil pakaian saja tidak bisa, disitulah ia baru bisa merasakan betapa menderitanya seseorang yang tidak bisa melihat. Pada saat akhir experiment, setelah ia bisa membuka mata dan melihatnya kembali, ucapan pertama yang ia ucapkan ialah:
“Terima kasih Tuhan, bahwa Tuhan telah memberikan kepada saya kesempatan untuk bisa melihat semua ciptaan Tuhan!”

Disisi lain ia telah bisa mendapatkan hikmah untuk bisa menilai sesuatu bukan hanya dari kulit luarnya saja, bukan dari bungkus atau mereknya saja. Apakah penting merk pakaian seperti Aigner, Boss, Christian Dior?

Apakah penting mobil bergengsi seperti BMW, Mercedes? Apakah penting tempat beribadah yang indah? Apakah penting kosmetik pemoles wajah? Apakah penting untuk menilai seseorang dari warna kulit? Apakah penting menilai seseorang hanya dari wajah apakah ia bermata sipit, atau bermata biru ataukah ia botak? Apakah penting penampilan wajah maupun paras cantik?

Apakah penting rumah dan kebun yang indah? Apakah penting untuk tinggal di daerah permukiman elit? Untuk orang tunanetra semua ini sudah tidak mempunyai daya tarik lagi, ia tidak membutuhkan semuanya ini! Ia tidak akan tergoda lagi oleh segala macam merek dan segala macam barang yang indah2, sebab semuanya itu tidaklah penting bagi dia! Ia tidak lagi tertarik dari segi dekorasi atau bentuknya makanan, melainkan rasanya itu jauh lebih penting daripada dekorasinya.

Ia tidak tertarik dan tidak membutuhkan penampilan luar! Maka dari itu saya yakin hidup kita akan jauh jauh lebih murah kalau mulai besok kita belanja atau membeli sesuatu tidak berdasarkan bungkus, maupun penampilan luarnya! Dan sayapun yakin kita akan mendapatkan lebih banyak kawan,kalau kita tidak menilai seseorang hanya dari segi bungkus dan penampilannya saja!

Cerita II
Ketika si Pulan dilahirkan ia masih bisa melihat s/d usia 8 th, tetapi karena kena penyakit akhirnya ia menjadi buta total dan tidak bisa melihat lagi. Tentu Anda bisa membayangkan bagaimana perasaannya si Pulan kalau dengan seketika dunianya menjadi gelap gulita, se-akan2 layar tabir kehidupannya ditutup, sehingga ia tidak bisa melihat dan menikmati lagi keindahan alam ini. Ia menjalani sisa kehidupannya sebagai seorang tuna netra.

Walaupun demikian ia merasa beruntung, karena telah bisa mendapatkan pasangan hidup, seorang wanita yang tidak buta tetapi bersedia untuk dijadikan istrinya. Kenapa wanita ini memilih seorang tuna netra sebagai calon suami? Karena wajah wa-nita itu sendiri telah rusak kebakar, sehingga ia tidak bisa mendapatkan seorang suami, jangankan untuk mendapatkan jodoh, pergi keluar rumahpun ia sering sekali menjadi bahan ejekan dan tertawaan orang, bahkan anak kakaknya sendiri yang masih kecil merasa takut melihat wajahnya. Oleh sebab itulah ia mencari seorang suami yang tidak menilai dia dari segi wajahnya, ia mencari suami yang bisa mengasihi dia bukan berdasarkan dari segi penampilan luarnya.

Mereka berdua bisa hidup bahagia dengan penuh keharmonisan dan kasih sayang bahkan mereka telah dikaruniakan dua orang anak sehat. Pada suatu hari si Pulan pulang dengan perasaan riang gembira: “Mam, aku punya satu surprise yang sangat menyenangkan?” kata si Pulan, “Aku akan bisa melihat lagi, masa gelap hidup saya akan berakhir!” ucap si Pulan kembali. Bagi si Pulan ini merupakan hadiah yang terindah dan terbesar yang Tuhan akan berikan selama hidupnya. Maklumlah karena hal inilah yang ia impi2kan dan yang ia dambakan di dalam kehidupannya. Tiap hari si Pulan berdoa ber-kali2 kepada Tuhan, dan memohon agar sekali saja di dalam hidupnya, walaupun hanya untuk beberapa detik sekalipun juga untuk bisa melihat wajah istri dan anak2nya yang tercinta. Rupanya Tuhan telah mengabulkan doanya dimana dalam waktu yang dekat ini ia akan bisa melihat lagi seperti sediakala. Seorang Dr. ahli mata dari Jerman, telah menyatakan kesediaannya untuk mengoperasi si Pulan, sehingga akhirnya ia bisa melihat lagi. Berdasarkan hasil pemeriksaannya ia menyatakan bahwa ia yakin bisa menolong si Pulan sehingga ia bisa melihat lagi. Dan minggu yang akan datang ia sudah bisa di operasi.

Apakah Anda bisa membayangkan, bagaimana perasaan si Pulan setelah 22 tahun buta, akhirnya ia akan bisa melihat lagi? Ia akan bisa melihat kembali, semua keindahan alam yang pernah ia lihat sebelumnya selama 8th, bagaimana hijaunya rumput itu, bagaimana birunya langit. Ia akan bisa melihat dan menikmati lagi isi dunia ini dengan segala macam warna yang indah2, tetapi yang lebih penting dari segala2nya ialah ia akan bisa melihat wajah istri dan anak2nya yang terkasih, yang belum pernah ia lihat selama hidupnya. Apakah surprise ini menyenangkan istrinya? Disatu pihak ia merasa senang kalau suaminya bisa melihat kembali, tetapi dilain pihak ia merasa sangat takut sekali. Ia merasa takut, apakah kehidupan kekeluargaan mereka akan bisa tetap berjalan seperti sediakala dengan penuh kasih dan keharmonisan? Ia takut perkawinannya akan menjadi kandas, ia takut rumah tangganya akan menjadi hancur. Ia merasa takut, bagaimana kalau suaminya nanti melihat wajahnya yang buruk dan sudah rusak ini. Ia merasa takut suaminya tidak akan bisa dan mau mengasihinya lagi, bahkan ia takut di tinggal oleh suaminya, karena penampilan luarnya yang buruk dan rusak terbakar. Bahkan ia berdoa kepada Tuhan memohon pengampunan dosa, karena ia merasa bersalah, sebab ia tidak mampu berbagi rasa dan bisa turut merasakan perasaan gembira bersama suaminya. Ia merasa perasaan egoisnya terlalu besar, karena ia terlalu mengasihi suaminya.

Perasaan gembira bahwa suaminya akan bisa melihat kembali, telah di tutup oleh rasa takut tak terhingga. Apakah salah kalau ia sangat mengasihi suaminya? Apakah salah kalau ia merasa takut ditinggal oleh suaminya? Walaupun demikian ia tidak mau mengungkapkan perasaan ini kepada suaminya, ia tetap pendam di dalam hatinya.
Semakin mendekati hari H, dimana ia akan bisa melihat kembali, semakin senang perasaan si Pulan, bahkan kawan2 maupun tetangganya sekampung sudah mengetahui berita bahagia ini dan semuanya turut mengucapkan selamat dan turut menyatakan kebahagiaan mereka, hanya istrinya seorang semakin mendekati hari H, semakin cemas ia rasakan dan rasa takutnyapun semakin besar. Istrinya tetap tidak mau mengungkapkan perasaannya, karena ia tidak mau merusak kebahagiaan maupun harapan dari suaminya. Walaupun ia tidak mengucapkannya, tetapi hal ini terasakan sekali oleh suaminya, karena istrinya yang tadinya periang se-olah2 berubah menjadi semakin pendiam dan sering melamum.

Hari H pun tiba, sejak jam 4 pagi si Pulan sekeluarga telah bangun, karena bagi si Pulan hari ini adalah hari yang terindah di dalam kehidupannya. Dan juga seperti persyaratan dari Dr. sejak kemarin ia sudah puasa tidak makan maupun minum lagi. Tepat jam 8.00 pagi bel rumah bunyi, rupanya supir taxi yang akan menjemput si Pulan telah tiba, si Pulan berjalan keluar untuk membukakan pintu, tetapi istrinya pergi ke kamar tidur untuk berdoa sambil menangis. Ia tidak mau dan tidak bisa pamit lagi dari suaminya, karena perasan takutnya sudah tidak tertahankan lagi.

Pada saat ia berlutut dan berdoa, sambil berlinang air matanya keluar, tiba2 ia merasakan belaian tangan yang membelai kepalanya dari belakang dengan penuh kasih sayang. Ternyata itu adalah tangan suaminya, ia berkata: “Mah, saya tidak jadi pergi, saya telah membatalkan jadwal operasinya, karena saya tidak jadi dan tidak akan mau di operasi lagi. Bagi saya kasih sayangmu ada jauh lebih indah dan lebih berharga daripada bisa melihat. Buat apa saya bisa melihat, kalau setelah itu hubungan dan keharmonisan hidup kita berdua menjadi rusak. Kasih sayangmu ada jauh lebih berharga dan lebih indah, daripada mata yang bisa melihat lagi.

Biarlah saya tetap buta sampai dengan akhir ajal saya, yang penting kita bisa berkumpul dengan penuh kasih sayang untuk selama2nya!” Karena kasih kepada istrinya ia rela berkorban. Ia rela untuk hidup sebagai seorang tuna netra untuk selama2nya, apakah kita bersedia dan mau berkorban untuk orang yang kita kasihi seperti cerita yang tersebut diatas? Tidak semua orang tunatera ingin bisa melihat kembali seperti pengarang dari lagu “Blessed Assurance”, dimana ia memberikan kesaksiannya dalam lagu tersebut.

Saya sarikan dari sebuah milis sehingga setiap kali saya membuka blog bisa saya renungi dan bisa berguna bagi saya.

Ditulis dalam Psikoanalisis | 2 Komentar »