aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Arsip untuk ‘Puisi Negeri’ Kategori

Bencana Peradaban

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 9, 2006

Sekali lagi bencana merenggut korban
Setelah Tsunami, Banjir, Longsor serta semua letusan
Perih hati melihat manusia bergelimpangan
Peristiwa memilukan, derita yang tak kunjung terbalaskan

Tuhan,
Apakah benar bencana adalah azab dari kenistaan kami serta cobaan tanpa henti
Apakah benar bangsa ini memang sudah lama berpaling darimu dan penuh dengki
Mengapa selalu korban terbanyak adalah kami yang tak berpunya dan merana
Mengapa selalu saja pihak yang disalahkan rakyat yang tak bertahta dan tak berdosa

Pemimpin,
Setelah kau ku pilih tak pernah lagi merealisasikan janji
Saat ku membutuhkanmu kau tak pernah mau peduli
Ketika kami hanya berharap padamu, dirimu laksana besi jeruji
Kesangsian salah memilihmu hilang saat 5 tahun lagi kembali kau berlagak suci

Dewan,
Kalian berlagak sebagai penyelamat namun ternyata hewan
Kami kau wakili berlagak teman ternyata untuk kolusi menikmati korupsi
Meski kami selalu kau selingkuhi dan sakiti tak pernah sedikit berani kami melawan
Memaafkan diri kami sendiri salah mempercayai dianggap sebagai langkah terpuji

Peradilan,
Rasa cemas melihat berbagai kasus kau masukkan di peti kemas
Tanpa sekalipun daku melihat keadilan telah ditegakkan
Ragam kepalsuan kau tampilkan agar tampak beres
Tapi kebusukan tubuh dan hatimu telah kau kembangbiakkan

Preman,
Sudah kau tunjukkan bahwa kau memang berani dan memiliki nyali
Mewakili ikatan primordialis, agamis, seksis, rasis, dan memang fasis
Siapa saja yang memiliki nurani kau habisi dengan dalil illahi
Melindungi yang membeli, menjadi milisi dan antek militerisi berlagak polisi

Pengamanan,
Diriku selalu ingin bertanya pada dirimu yang tegap dan bersenjata lengkap
Kegiatan bisnis, berpolitik, membuat konflik dan melanggar HAM dianggap sebagai peran
Darimu aku menduga banyak darah tumpah dalam sejarah yang tak terungkap
Kendati kerap saja kalian selalu merasa berasal dari rakyat dan mengaku para pahlawan, akhirnya jadi nama jalan

Agamawan,
Kalian hamba Tuhan yang kami segani
Kumpulan merpati yang suka peduli pada kami
Tetapi merasa ikut memecahkan masalah dengan tampil di tivi
Tentu juga suka mendekatkan diri dengan penguasa dan jadi alat pelegitimasi

Pemodal Global tanpa akhiran -an,
Tak pernah ku duga badanmu begitu menggurita
Tak juga ku sangka tentakelmu mampu menghisap jiwa manusia
Seluruh budaya dan nafas alam ini telah kau rasuki gayamu melalui nilai-nilai
Semua kehidupan sudah kau kuasai dan kami pun mempercayai

Teman,
Apakah memang hidup ini tidak adil sekali dan penuh kreasi basi
Apakah keserakahan dan nafsu amarah menjadi prioritas tertinggi
Mengapa penghisapan, penindasan dan eksploitasi dianggap ekspresi manusiawi
Mengapa akhirnya kami hanya menjadi kuli di negeri sendiri

Kawan,
Bangsa ini katanya sabar walau menderita penyakit sektarian yang parah dan kronis
Nusantara ini sumber dayanya kau biarkan dirampas tanpa kompensasi dan sudah mulai habis
Keberagaman kami ditelan sadis budaya kapitalis dan sudah terkikis
Kebersamaan dan toleransi tak lagi digubris oleh ciri individualistis, kami pun akhirnya jadi pengemis

Dari:
Hewan seperti setan yang tak berperasaan
Tak mampu berdamai dengan sejarah
Hanya memperkaya perspektif bagi anak cucu serta masa depan
Saat negara menghindari tanggung jawab

Saya mau menyampaikan salam, semoga kegiatan berupa Pentas Puisi pada acara penggalangan dana untuk gempa bumi di Yogya, tanggal 10 Juni 2006 di Amsterdam dapat berjalan dengan sukses. Kepada Ibu Ratih Miryanti saya juga berterima kasih karena puisi saya termasuk salah satu yang akan dibacakan dihadapan publik. Walaupun puisi saya tidak hanya mengenai bencana di Jogja saja namun secara umum akan tetapi semoga bisa menjadi penutup acara yang baik. Acara ini sangat istimewa sekaligus mulia terutama bagi opa-opa dan oma-oma yang selama ini sudah disingkirkan negara namun tetap peduli dan giat memperkenalkan serta membanggakan bangsa.

Ini pembuktian bahwa sisi kemanusiaan orang-2 yang tersingkirkan dan disingkirkan tetap hidup walau negara secara tidak berprikemanusiaan pernah dan masih menindas serta tidak mengakui kesalahan yang pernah diperbuat negara dan alat-alatnya. Salam saya teruntuk semua kawan-kawan Sastra Pembebasan dan kepada Heri Latief, Asahan dan Sabron Aidit, Mawie Ananta Jonie, Fadjar Sitepu, Ikranagara, Rio Wardhanu, Bayu Abdi Negoro dan Elisa Koraag yang puisi-puisinya juga dibawakan. Bencana bukanlah akhir sebuah rencana tapi awal untuk menjadi lebih memanusiakan manusia, tetap berjuang dan selalu peduli sesama…

Informasi terakhir yang saya terima, kegiatan berupa Pentas Puisi pada acara penggalangan dana untuk gempa bumi di Yogya, tanggal 10 Juni 2006 di Amsterdam dimana puisi-puisi yang dibacakan telah masuk dalam brosur dan telah dibagikan pada para pengunjung acara pentas puisi. Dengan cetakan sebanyak 120 eksemplar dan hanya menyisakan 24 eksemplar saja serta berjalan dengan sukses. Sekian.

Ditulis dalam Puisi Negeri | 6 Komentar »

Bencana Peradaban

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 27, 2006

Sekali lagi bencana merenggut korban
Setelah Tsunami, Banjir, Longsor serta semua letusan
Perih hati melihat manusia bergelimpangan
Peristiwa memilukan, derita yang tak kunjung terbalaskan

Tuhan,
Apakah benar bencana adalah azab dari kenistaan kami serta cobaan tanpa henti
Apakah benar bangsa ini memang sudah lama berpaling darimu dan penuh dengki
Mengapa selalu korban terbanyak adalah kami yang tak berpunya dan merana
Mengapa selalu saja pihak yang disalahkan rakyat yang tak bertahta dan tak berdosa

Pemimpin,
Setelah kau ku pilih tak pernah lagi merealisasikan janji
Saat ku membutuhkanmu kau tak pernah mau peduli
Ketika kami hanya berharap padamu, dirimu laksana besi jeruji
Kesangsian salah memilihmu hilang saat 5 tahun lagi kembali kau berlagak suci

Dewan,
Kalian berlagak sebagai penyelamat namun ternyata hewan
Kami kau wakili berlagak teman ternyata untuk kolusi menikmati korupsi
Meski kami selalu kau selingkuhi dan sakiti tak pernah sedikit berani kami melawan
Memaafkan diri kami sendiri salah mempercayai dianggap sebagai langkah terpuji

Peradilan,
Rasa cemas melihat berbagai kasus kau masukkan di peti kemas
Tanpa sekalipun daku melihat keadilan telah ditegakkan
Ragam kepalsuan kau tampilkan agar tampak beres
Tapi kebusukan tubuh dan hatimu telah kau kembangbiakkan

Preman,
Sudah kau tunjukkan bahwa kau memang berani dan memiliki nyali
Mewakili ikatan primordialis, agamis, seksis, rasis, dan memang fasis
Siapa saja yang memiliki nurani kau habisi dengan dalil illahi
Melindungi yang membeli, menjadi milisi dan antek militerisi berlagak polisi

Pengamanan,
Diriku selalu ingin bertanya pada dirimu yang tegap dan bersenjata lengkap
Kegiatan bisnis, berpolitik, membuat konflik dan melanggar HAM dianggap sebagai peran
Darimu aku menduga banyak darah tumpah dalam sejarah yang tak terungkap
Kendati kerap saja kalian selalu merasa berasal dari rakyat dan mengaku para pahlawan, akhirnya jadi nama jalan

Agamawan,
Kalian hamba Tuhan yang kami segani
Kumpulan merpati yang suka peduli pada kami
Tetapi merasa ikut memecahkan masalah dengan tampil di tivi
Tentu juga suka mendekatkan diri dengan penguasa dan jadi alat pelegitimasi

Pemodal Global tanpa akhiran -an,
Tak pernah ku duga badanmu begitu menggurita
Tak juga ku sangka tentakelmu mampu menghisap jiwa manusia
Seluruh budaya dan nafas alam ini telah kau rasuki gayamu melalui nilai-nilai
Semua kehidupan sudah kau kuasai dan kami pun mempercayai

Teman,
Apakah memang hidup ini tidak adil sekali dan penuh kreasi basi
Apakah keserakahan dan nafsu amarah menjadi prioritas tertinggi
Mengapa penghisapan, penindasan dan eksploitasi dianggap ekspresi manusiawi
Mengapa akhirnya kami hanya menjadi kuli di negeri sendiri

Kawan,
Bangsa ini katanya sabar walau menderita penyakit sektarian yang parah dan kronis
Nusantara ini sumber dayanya kau biarkan dirampas tanpa kompensasi dan sudah mulai habis
Keberagaman kami ditelan sadis budaya kapitalis dan sudah terkikis
Kebersamaan dan toleransi tak lagi digubris oleh ciri individualistis, kami pun akhirnya jadi pengemis

Dari:
Hewan seperti setan yang tak berperasaan
Tak mampu berdamai dengan sejarah
Hanya memperkaya perspektif bagi anak cucu serta masa depan
Saat negara menghindari tanggung jawab

Ditulis dalam Puisi Negeri | 2 Komentar »

Bermain Peran

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 21, 2006

Kawan,
Sesungguhnya permainan peran ini penuh perangkap
Banyak membuat manusia saling terjebak
Walau hidup ini kemudian menjadi pengap
Bukan berarti tidak ada lagi dunia yang lebih baik

Teman,
Kata mereka semasih kuliah kita menjadi sosialis
Tatkala bekerja sudah berubah kapitalis
Ketika berkeluarga ingin hidup makmur maka harus korupsi
Tetapi dosa diampuni saat naik haji dan sumbang sapi

Pren,
Apakah manusia itu memang kejam, tak berperasaan tapi berbuat dengan sadar?
Saat mengendarai mobil ingin semuanya minggir menyingkir
Dikala merasakan kecepatan motor ingin rasanya seperti Rossi
Manakala menaiki sepeda terasa adanya diskriminasi dan bisa saja mati

Ah…
Apalagi jalan kaki
Memang dunia bukan lagi milik kami

Ditulis dalam Puisi Negeri | Leave a Comment »

Patah Tumbuh, Hilang Berganti

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 20, 2006

Sesak dadaku saat mengetahui bahwa Kekuasaan
Dibangun diatas penderitaan berjuta-juta ummat manusia

Mengetahui bahwa Keadilan
Berdiri atas jilatan nafsu serakah

Kemakmuran dalih keinginan yang terlihat didepan mata
Martabat didirikan atas penyembahan dan eksploitasi terhadap sesama manusia

Keteraturan adalah bagian dari pembungkaman terhadap kebebasan yang dilanggengkan
Bahkan imajinasipun sudah diatur kehadirannya

Maka, masihkah ada ruang pembeda antara yang nyata dan khayal
Yang salah dalam kebenaran dan yang benar dalam sebuah kesalahan

Masihkah ada jalan keluar untuk berkata tidak
Apakah perjuangan sebuah kekuatan hampa

Perut penuh kekosongan
Hati terbalut kafan

Perasaan telah diatur oleh pikiran
Nyali hanya sebatas panjang lidah

Berpikir lalu bertindak adalah jalan keluar yang realis
Berdua lebih baik dari sendiri dengan kesadaran
Sekumpulan lebih kuat dari sebagian demi solidaritas

Berpikir, Bertindak,
Mengorganisir untuk Bergerak,
Melawan untuk kebebasan memperjuangkan cita mulia bebas dari penindasan
Le Roi Est Mort, Vive Le Loi

Ditulis dalam Puisi Negeri | Leave a Comment »

Gundah dan sedih

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 19, 2006

Kawan,
Hari ini ku berjanji
Takkan mengulangi lagi
Kesalahanku dimasa lalu
Tuk memulai hidup baru

Kawan,
Sedih hatiku
Diriku terpaku
Perasaanku terbang
Hilang melayang

Kawan,
Hari ini akhirnya pun terjadi
Ketakutanku t’lah menghampiri
Masa depan mulai menganggu
Batinku beku jadi pilu

Kawan,
Jiwaku berderu
Semangatku menggebu
Saat esok menjelang
Diriku tetap berjuang

Diriku sendiri,
Saat gundah dan kemelut batin meracuni
Sementara hari berganti
Dinikmati yang bermateri tanpa henti

Dari :
Ungkapan rasa sedih dihati dan emosi tak pernah henti….

Ditulis dalam Puisi Negeri | 1 Komentar »

Kacau Dikau

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 13, 2006

Hari ini
Diriku membuka e-mail,
Keterkagetan-ku mencuat, apa boleh buat
Tatkala membaca surat sahabat, keluarga bagiku
Hari kemaren mengenai tulisan-ku,

Ternyata,
Setelah beberapa minggu,
Belajar berbicara hanya dimilis ini
Akhirnya, apa yang daku tanam
Berbuah hasil, apapun.

Sebenarnya,
Ingin sekali diriku berkata,
Darah Minahasa-ku, mengalir mengisi seluruh ragaku
Hati dan pikiran-ku, murni tak terpisahkan
Hanya untuk Sulawesi Utara, dimanapun.

Begini,
Dari 8 tahun sudah berlalu, dunia maya kumengerti
Baru tahun lalu, bertemu millis ini
Sekarang, setelah kuselami dan menjadi tambatan hati
Semua orang, sudah mulai membenci, siapapun?

Namun,
Niat dan hasrat kepalang tanggung
Walau e-mail ditendang
Seribu cara, daya dan upaya kucari
Meskipun kembali untuk dicaci, kapanpun?

Diriku,
Hanya manusia tak sempurna
Biar dianggap murah,
Harta, tahta dan wanita ku tak rela
Bertahan bersikukuh, ampun?

Akhirnya,
Jika keinginan dan tindakan berbuah kesalahan
Jika tak berkenan silahkan dibuang
Vulgar juga hanya kekhilafan semata
Secuil pasir dan sebatang lidi tak berbahaya
Maaf, sampun!

Maaf : Tulisan ini pernah dimuat dalam sebuah milis dan saya posting lagi disini karena saya anggap bisa membantu memenuhin isi blog, ok!

Ditulis dalam Puisi Negeri | Leave a Comment »

Moral dan Kematian

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 7, 2006

“…Masalah moral, masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu, urus saja akhlakmu
Peradilan yang sehat itu yang kami mau
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa…”
(Manusia setengah dewa, Iwan Fals)

Moorrraaalllll,…
Orang yang ngaku sebagai kepanjangan-tanganan Tuhan
saja bisa membunuh, memfitnah, memperkosa…..

Apalagi seperti saya,
yang tercantum dipikiran
dengan tindakan bertolak belakang.
Seperti nonton film di TV yang channel satunya
menyebarkan nilai-2 Islam dan channel yang lainnya
menyebarkan nilai-2 Kristen……….
Emangnye,
ni dunie bebas nilai ape???…!

Masalah Toleransi
Saya sih ingetnya waktu SMA dulu, P4 ngajarinnya
“…Jika Budi beribadah di Gereja di hari minggu,
temannya Anto menunggu dengan setia di luar (jaga
parkiran maksudnya?)” atau “Jika di Vihara sedang
dilaksanakan peribadatan, kita harus mengecilkan
volume TV dan Radio yang sedang kita dengarkan”. Bagus
sih…

Masalahnya,
Kebijakan negara memaksakan rakyatnya menelan mentah-2
tanpa proses sebuah ideologi Pancasilaistis dalam
mencuci otak rakyatnya memang dimaksudkan bersayap
yakni meminimalisir perbedaan yang jelas-2 beda dan
meredam ‘perlawanan’ terhadap kebobrokan perilaku
negara dan berujung pada terciptanya robot-2 yang
patuh terhadap negara.

Akibatnya,
Saat tumbangnya Orde Baru, kita-pun mulai belajar
bahwa toleransi baru bisa dipahami dan dilaksanakan
setelah berproses (pada masa ini, konflik sektarian
menjadi hal biasa) dan tidak bisa dipaksakan. Konsep
multikultur yang ditelorkan founding fathers negara
kita pada Pancasila juga dimaksudkan seperti itu dan
tidak fasis.

Mengenai kematian,
Mungkin bagi orang yang kaya,
yang sudah puas mendapatkan yang diimpikan dan dicita-2kannya,
perihal kematian dengan meninggalkan segala yang dimilikinya
tentu perkara yang mudah saja.

Namun,
bagi yang miskin,
HIDUP adalah sebuah perjuangan yang sangat berat,
apalagi mikirin mati.

Bagi orang lain masuk
surga karena rajin beribadat,
harta-uang-kekayaan,
kekuasaan dan dominasi adalah segalanya

Sementara yang
lain solidaritas-toleran,
kebersamaan,
persaudaraan,
keadilan dan kesetaraan
juga sebuah pilihan.

Bagi saya,
selama masih diberi kesempatan hidup,
pilihan untuk berusaha tidak menindas,
tidak mengeksploitasi,
tidak merampas hak-2 dan
menghargai orang lain,
adalah sangat rasional.

Lagi pula,
mati juga setiap saat bisa terjadi,
polos tanpa embel-embel,
hanya misterinya
kapan dan dimana,
tidak lebih.
Gitu aja, semoga masih ada manisnya.

Ditulis dalam Puisi Negeri | Leave a Comment »

Nunca mas! nunca……..

Ditulis oleh dhant di/pada Maret 24, 2006

Saat ini,
Genap sudah 30 tahun kediktatoran mulai berkarir
Hidup di sebuah tanah benama Argentina
Kumandang tangis dan dan kesedihan
Mengalun ke pelosok negeri tuk mengenang

Bergerak,
Merasuk dari relung hati dan jiwa
Sampai ke liang tengkorak entah berantah
Saksi kekejaman rezim militer penindas
Tiada lepas dari senjata dan kuasa

Detik berlalu,
Hamparan kata-pun terkunci
Bukan sifat namun terkenang jelas
Masa lalu yang sekali-pun orang tuaku masih seusiaku
Kala militer memenangkan kekuasaan di negeriku

Keheningan menjadi-jadi,
Berjuta pertanyaan mengapa
Berbentur bertemu bersatu
Mengena walau bukan berarti benar
Berbangga walau pasti salah

Kosong,
Arti pistol adalah darah
Arti sasaran adalah rakyat
Arti sipil adalah tunduk
Arti tahta adalah militer

Bodoh,
Apanya yang berubah?
Yang 30 tahun disana, disini 40 tahun
Yang disana sudah berakhir dan yang disini tak terselesaikan
Yang disana dikenang dan yang disini dilupakan seakan tak terjadi
Apanya yang diubah?

Kebanggaan,
Mitos pewayangan Gatot Kaca
Dominasi dan hegemoni atas kebudayaan
Kuat dan super pastinya pemilik pelor
Penikmat ratu adil maha bedil dan ababil

Namun,
Tabir kemegahan masa lalu wajib disingkapkan
Keagungan dan kebenaran wajib dipertanyakan
Jaring Keadilan dan Kebebasan wajib ditegakkan
Berlawan untuk dekolonisasi Metodologi

Dan-ku belajar,
Hadapi konflik tanpa sembunyi berdogma SARA
Ragam tanpa paksa bukan lagi fasis
Tak lagi diskriminan rasis dan sektarian
Patahkan patriarki, hilangkan Supremasi

Adillah sejak masih dipikiran dan impian, kata Pram
Hidup untuk berbeda, bersatu dengan sadar
Jika tidak hari ini, esok masih ada harapan
Manusia damai dan sederajat tanpa eksploitasi
Rakyat pemegang tahta dan kuasa

Dengan ini kusuarakan,
Menolak Tunduk!

Jum’at,
Dini hari saat kota besar terlelap
namun tetap juga tak bebas polusi

Ditulis dalam Puisi Negeri | Leave a Comment »