Sobat,
Sebenarnya hari ini saya kebingungan,
Ingin rasanya menemukan contoh buat tulisan
Sayang tidak ada, ya sudah
Teringat tempo doeloe
Masa dimana praktek pasca kelulusan sekolah
Bernama SMU Orde Baru dengan 32 tingkatan = 32 tahun
Selayaknya sekolah menengah yang pastinya bukan akhir
Karena dimaksudkan jenjang tanpa tujuan
dan umum yang berarti mengambang dan tanpa kekhususan
Maka,
Si Pribumi mengatakan si sipit Chinese rakus tak nasionalis,
Tidak mau bergaul, yang dihitung cuma uang saja,
Penindas pribumi dan ingin sekali mengusir mereka
Si Dayak berteriak “mana si maling besi Madura itu?”
dengan kemampuan mengendus seperti binatang mencari yang berbau sapi
dan dipotong kepalanya untuk dipamerkan didepan rumah.
Si Timor-timur minta bantuan PBB untuk merdeka yang
diteriakkan seorang anak kecil keriting bermuka non timor
yang ternyata ibunya diperkosa bergiliran oleh pelor
Pak loreng tak lama setelah peristiwa Santa Cruz.
Si Ambon beragama mencari si Ambon beragama tak sama
untuk dibantai tentunya dengan bantuan dan ijin
Pak tegap pada hari dan jam yang ditentukan agar agama
tinggal satu saja yang berkibar.
Si sipit Chinese lari tunggang-langgang dari kejaran
pria tegap yang ingin memperkosanya dihadapan orang
tuanya lalu dibakar sekeluarga beserta rumah.
Si Aceh bersiap-siap angkat senjata melawan Indonesia van Java
Si Jawa berkumpul bersiaga bila ada ninja ajaib bila tertangkap
segera berubah gila
Si Papua berjuang menghadapi HIV/AIDS, Militer dan problematika
sumber daya dan kemerdekaan
Si-si lainnya yang bergembira ria
Memulai praktek dilaboratorium yang besar dengan pengawas yang
bersembunyi dan membantu yang damai menjadi berkonflik
dan yang berkonflik dipertajam dan diperluas
Semuanya bingung,
Tanpa sadar ada sesuatu yang bergerak masuk untuk menguasai
Namun yang lain udah keburu asyik dengan mainannya masing-masing
Tiba-tiba semua menjadi hening
Seperti tidak pernah terjadi apa-apa
Kehidupan berjalan normal
Rakyat sudah menjadi dewasa sekali
Padahal sih saya sangat tidak yakin
Tapi,
Rakyat jadi sangat berkuasa saat datangnya pemilu
Banyak manusia berliur ingin ikut pesta akbar tersebut
Wah, semua riang dan ceria
Tak tampak pernah ada huru-hara dinegeri ini
Tak ada rasanya kejadian memilukan
Timor Leste asalnya dari mana ku pun tak peduli
Bahkan,
Gara-gara Tsunami, Aceh tidak jadi minta merdeka
Gara-gara Theys H. Eluay diganyang, Papua pun bercinta lagi
Eh, Abepura kemarin
Ah, paling juga habis lagi
Lho, 43 pelarian politik ke Aussie
Ga ngefek Brur…
Terorisme menyerbu,
Membawa nama agama,
Membawa nama Negara,
Membawa nama Kemanusiaan,
Membawa nama Demokrasi,
Membawa nama Bangsa,
Membawa nama… terserah, nama ente juga jadi…
Lho, Poso… kasihan, biarkan jadi lahan bermain militer
soalnya sudah terbatas tidak seperti dulu
Lagipula mencari uang untuk institusi dan diri tidak mudah
Dulu sekali, ada nasionalisasi perusahaan Belanda jadi dapat gratisan
Kemaren, upetilah, jadi cukong kayu yang langka,
bikin pos biar narik pajak, cari cewek perawan jadikan
lonte dan kita kirim ke sabang sampai merauke, antek
perusahaan, masih banyak sih cuma yang pasti naik bus
udak tak bisa gratis lagi.
Sekarang, bisnis mulai bangkrut walaupun dikelola sama
pebisnis sekelas Tomy Winata dan lainnya mulai seret
dikasih batas waktu sejak ada UU TNI yang baru
Masa depan, tak ada cara lain selain ikut memilih dan
semua yang purna nyerbu partai gara-gara udah tidak
dwifungsi lagi dan balik ke kandang serta
pastikan jabatan tertinggi sipil balik lagi ke badan
besar dan tegap. Kan, bejibun lagi tuh duit deh
sekalian ngontrol pemilik kuasa.
Hoooi, BANGUN
Gara-gara bunga mimpi yang tak pasti
Kesiangan deh tak sempat ikut ujian CPNS
Padahal mimpi sebelumnya hanya satu tanpa embel-embel
Menjadi PNS dimana diriku bisa kaya
lewat korup, upeti, pajak, tidurin teman sekantor,
punya peliharaan 5 sekaligus dan jika menjadi kepala bagian
kupastikan bisa menindas orang…