Untuk bisa bersimaharaja lela, kejahatan hanya memerlukan
Seorang yang baik, yang tidak melakukan apapun
(Edmund Burke)
Kami bikin surat ini agar engkau tidak terus-menerus curiga. Kutuliskan pesan ini agar engkau tidak tenggelam dalam harapan kosong dan tuntutan yang tidak masuk akal. Tak ingatkah kamu bahwa negara ini didirikan bukan hanya untuk memerdekakan orang miskin seperti kalian tapi juga memberi rasa aman bagi kalangan usahawan. Mereka-lah yang selama ini membikin makmur bangsa ini. Dari mereka kalian mendapat sumber mata pencarian, memperoleh pekerjaan dan mendapatkan kesempatan hidup secara berkecukupan.
Makanya rakyatku aku ingin kalian lebih realistis dalam melihat keadaan, lebih santun dalam melihat perubahan dan terus bersabar menghadapi musibah.
Rakyatku, kau pikir mudah memimpin kalian? Rakyat yang benar-benar membikin kesal. Dinaikkan harga BBM marah. Digusur pemukimannya berontak. Ditangkap beberapa orang katanya melanggar HAM. Serba salah semua tindakan kami dan kalian bisanya cuman menggerutu saja.
Senyum yang kukulum di depan kamera televisi hanya untuk menyatakan pada kalian semua, kalau kepemimpinanku tak mudah jatuh gara-gara demo jalanan kalian. Hapal sekali aku dengan ’siapa, apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakannya’ Pelajaran pertama yang diberikan oleh penguasa sebelumnya, penting aku camkan: biarkan demonstrasi berjalan karena itu cara kamu mengatakan bahwa negeri ini masih ada penduduk yang kritis, tapi penting kamu tumpas dengan hukuman, kalau aksi itu menjalar menjadi kekerasan.
Kekerasan menjadi kesukaanku dan kesenanganmu. Dulu PKI kami tumpas karena cara mereka mengatakan kesenjangan ekonomi sebagai asal-muasal masalah. Lalu agar kalian ikut serta menumpas PKI maka kita bilang: PKI kejam dan anti Tuhan. Luar biasa ternyata kalian dukung tindakan buas kami membunuhi orang PKI, bahkan kadang kalian lebih kejam dibanding dengan kami. Yang hebat lagi kebencian PKI itu betul-betul permanen hingga detik ini.
Makanya aku tertawa terbahak-bahak ketika seorang politisi yang sangat terkenal mengatakan kalau PKI yang menge-bom Bali. Imajinasi politisi ini sering lebih menakjubkan dibanding dengan daya cium aparat intlegen yang kami miliki. PKI adalah laboratrium pertama kami mengajari bagaimana kalian menindas, menganiaya dan membunuhi sesama. Hasilnya ribuan orang meninggal dan ratusan ribu orang tanpa diadili dibuang.
Dukungan pembunuhan ini sangat fantastis: seorang ilmuwan dan budayawan hingga hari ini geram dengan lapisan anak-anak muda yang melupakan sejarah PKI. Ia seorang muslim yang saleh tapi agak naif, sulit memaafkan dan merima kenyataan sosial baru. Dengan PKI mereka marah tapi dengan orang Islam yang kami siksa mereka bersikap diam. Tanjung Priok adalah naskah kekerasan yang kami tulis dengan cara berbeda. PKI kami tuduh saja anti agama, tapi orang-orang Islam yang nekad ini kami katakan sebagai penentang Pancasila dan penghasut ummat.
Kami tembaki mereka dengan antusias, kami buang mayatnya dan beberapa kami sidang dengan tanpa pengacara. Dulu jika keadaan darurat tak ada yang berani menentang dan lagipula ide Hak Asasi Manusia saat itu belum sekencang seperti sekarang. Amerika yang dulu ikut dukung pembataian atas PKI dengan gampang menyalurkan dukungan atas pembunuhan terhadap lapisan Islam fanatik ini.
Tak beberapa lama kami melanjutkan pembunuhan di samping melakukan tugas pembangunan. Pembangunan itu kulakukan dengan dua cara, mengail pendapatan dari hasil minyak yang melimpah ruah dan bantuan uang dari berbagai negara. Minyak adalah anugerah terbesar buat kekuasaan dan itu sebabnya uang yang didapat selain kusedekahkan untuk pembangunan juga kusimpan sendiri. Pertamina adalah perusahaan yang kukontrol dengan ketat sebagaimana kuawasi semua pasukan bersenjata. Kekuasaanku harus bisa bertahan kalau aku memiliki dua harta kekayaan, senjata dan uang. Kau tahu bukan, hanya serdadu yang bisa memimpin rakyat.
Kelebihan serdadu itu satu dan mereka yakin itu benar: semua kenyataan sosial itu selalu simpel, yang ada dalam dunia rakyat itu dua saja: menentang atau taat. Hanya itu saja dua jenis rakyat yang ada di bangsa ini. Itu sebabnya aparatur keamanan memang diminta untuk terus menghapal kata: WASPADA & ANCAMAN!
Makanya rakyatku, kalian harus membiasakan untuk menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Mayat masuk dalam karung kemudian dibuang ke hutan, perempuan yang ditusuk alat vitalnya, mahasiswa yang diculik tanpa kembali, aktivis yang diracun makananya ketika menaiki pesawat, mahasiswa yang dipukuli oleh aparat dengan kejam, orang yang ditebas kepalanya dan semua kekejaman yang hanya bisa kaulihat di televisi. Dan itu sebabnya stasiun televisi berlomba-lomba untuk memutar tayangan kekerasan untuk tujuan tunggal, agar kalian terbiasa melihat aliran darah.
Kekuasaan tak ada yang tegak dengan damai rakyatku, kadang harus ada beberapa kawanan yang dikorbankan untuk sebuah tahta. Kekerasan itu sesuatu yang bisa dihalalkan dan itu ketrampilan pertama dan utama yang harusnya dimiliki oleh seorang penguasa. Kalian sangat bersemangat untuk memantau, mengecam, menyudutkan, melaporkan ke komunitas international apa yang sudah kami lakukan. Aku sudah terlalu hapal siapa nama-nama yang gemar membikin laporan yang jujur tapi membahayakan kursiku itu.
Walau aku tahu, reputasiku tidak akan hancur perkara data-data yang kalian sodorkan. Kutiup kesadaran pada rakyat bahwa kalian jenis LSM yang suka menjual negara, tidak Pancasialis, tidak patriotik, tidak bela negara. Rakyatku ternyata bereaksi dengan ber-semangat akan apa yang kami lakukan: mereka ada yang turun ke jalan mendemo, ada yang dengan antusias untuk menyerang, lalu ada yang dengan riang merusak serta menginjak-injak buku.
Rakyat itu bisa seperti kanibal, yang memakan nyawa puluhan penduduk ketika mereka didorong secara bersemangat untuk memukuli sesamannya. Kebencian itu seperti sulutan api yang memakan rumput-rumput kering dan biasanya aku kemudian memperoleh titel: penguasa pelanggar HAM. Aku selalu tertawa dengan julukan itu, karena ini dampak sampingan menjadi penguasa.
Mana ada penguasa diatas bumi ini yang dikenal sebagai pejuang HAM! Menjadi penguasa bukan hanya siap untuk dikenal tapi juga siap untuk dicaci. Aku sudah biasa melihat kau injak-injak fotoku, kaubakar gambar wajahku bahkan kau bikin mukaku jadi karikatur. Pertama kali dulu menyaksikan itu aku geram hingga kuperintahkan aparat-aparat keamanan untuk menjerat kalian dengan pasal penghinaan. Untung Belanda masih banyak mewarisi pasal-pasal yang bisa menjerat rakyat yang sok berjuang seperti kalian. Kini aku biarkan saja kalian bertindak semacam itu, karena itulah yang paling tidak bisa memuaskan perasaan kesal dan marah kalian.
Bisanya melawan dengan Demonstrasi, ya silahkan Demo! Aku sudah hapal berapa lama kalian mampu bertahan untuk Demonstrasi. Keadaanya kini lain bung! Rakyat sudah pusing dengan masalahnya sendiri dan mereka sadar Demonstrasi tak berujung penyelesaian masalah. Mereka paham dan belajar kalau Demonstrasi hanya bisa meroketkan tokoh-tokoh yang kelak akan duduk dalam kursi kekuasaan. Malahan ada yang bilang, kalau Demonstrasi hanya memacetkan jalan. Pandangan-pandangan itulah yang membuat aku yakin-seyakin-yakinnya kalau kebijakan yang kejam sekalipun tidak akan mampu kau bendung.
Apalagi kini aku didukung oleh jenis-jenis ilmuwan, rohaniawan, usahawan, wartawan yang memberi dalih rasional atas kebijakanku. Ilmuwan itu tanpa malu menyebut kenaikan BBM sebagai kebijakan yang tak bisa ditunda lagi dan tanpa aku suruh mereka mengungkapkan pendapatnya di iklan full satu lembar koran. Kadang aku bilang pada diriku sendiri, ini ilmuwan yang keyakinanya melebihi diriku sendiri! Lantas rohaniawan yang selalu bersorban mau juga membuat iklan kalau kenaikan BBM harus ditanggapi dengan sikap sabar. Walau iklan itu kemudian ia cabut-mungkin karena sadar atau ditekan-tapi yang terang aku paham bahwa ulama sekali-pun bisa jadi ‘pembantu setia’ kekuasaan.
Bahkan ada komplotan ulama yang antusias memburu terorisme dengan meneliti buku-buku keras, ini prilaku yang terpuji untuk sebuah tahta yang butuh keamanan. Komplotan macam usahawan jangan tanya: karena mereka memang akan bersikap pragmatis, siapa yang berkuasa pada merekalah loyalitas ditaruhkan. Sebagian besar mereka kuberi jabatan karena dulu mereka berjasa dalam menyetor uang untuk meraih kursi kekuasaan. Media kini juga hanya sedikit yang garang, bahkan aku lihat berita mereka semua hampir sama.
Jadi aku berharap kalian rakyatku tidak usah banyak berharap akan perubahan. Hiduplah dengan apa yang kau miliki. Kata ulamamu, kau harus sabar. Pendapat yang aku dukung sepenuhnya. Hiduplah dengan apa yang kamu bisa lakukan dan terimalah resikonya dengan lapang dada. Boleh saja kau ikut gerakan membela apapun, kalau itu membuat hatimu tentram dan pintu menuju perubahan.
Demokrasi itu konsep yang cocok buatku tapi tidak tepat mungkin bagimu. Sebab disini Demokrasi itu memang dari rakyat tapi bukan untuk Rakyat. Makanya surat ini aku buat agar kau bisa lebih mengerti apa sebenarnya arti penguasa. Kekuasaan dalam buku-buku teks dilukiskan dengan memukau: kekuasaan untuk rakyat, suara rakyat suara Tuhan, rakyat pasti menang dan lain-lain.
Boleh saja kau percaya dengan itu semua, tapi yang jelas, percayalah terhadap apa yang kau terima sekarang ini. Nasehat terbaikku mungkin itu, percayalah pada apa yang kau rasakan sekarang ini. Menjadi rakyat apalagi miskin memang sangat susah, tapi jangan kuatir, siapa tahu kau akan mendapat pemimpin yang bisa mengerti kesusahanmu. Walau aku yakin, sejak Nabi utusan Tuhan tiada, akan sulit kau menemukan jenis pemimpin seperti itu. Apalagi di negeri yang benar-benar ajaib seperti disini.
Salam dariku,
Penguasa yang jahanam