aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Arsip untuk ‘Sinisme’ Kategori

Cipta mencipta

Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 3, 2006

Angkatlah tanganku … hai diriku ini
Bukakan biduk kedamaian hati
Suarakan apa yang kau rasakan lagi
Biarkan kebencianmu menyeruak kembali

Oh, Ilahi
Jangan kau binasakan kami
Biarkan mainanmu lepas kendali
Busungkan karunia penuh caci
Jamahlah mereka yang pantas mati

Kuasa-Mu sudah kami miliki
Surga dan Neraka telah kami tempati
Taman Firdaus sudah kami tebangi
Kawan Lucifer-Mu telah kami sembahi

Oh, Tuhanku
Kemampuan-Mu telah kami pelajari
Kreasi-Mu sudah kami kuasai
Daya cipta-Mu telah kami musnahkan
Digjayaan-Mu sudah kami samaratakan

Kami ciptakan diri-Mu
Maafkan kami, tak lagi menghargai-Mu
Kami selalu belajar dari Mu
Maafkan kami, tak lagi mendoakan-Mu

Dahulu,
Diri-Mu selalu kami ingat saat ditimpa musibah
Lalu kami melupakan-Mu saat kemegahan merasuki
Sekarang,
Diri-Mu tiada kami pernah ingat pernah singgah dihati
Lalu kami bangkit menyerupai diri-Mu ambil alih mencipta-Mu

Rasakan, wahai ciptaan-Mu
Langit, api, air, tanah, udara
Tunduklah pada kami
Majikanmu yang baru!

Ditulis dalam Sinisme | Leave a Comment »

Koruptor Bersatulah

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 2, 2006

Korupsi disini bukan sebuah ketercelaan. Kita jadi ‘kebal’ atas semua berita yang menyangkut korupsi. Ada saja dalih yang keluar dari para tersangka jika menyangkut soal korupsi. Dari mulai ‘tidak ada yang dirugikan’ hingga ‘tak ada bukti’. Sejumlah lembaga dibentuk untuk memusatkan perhatian pada tindak kejahatan ini. Dan kita kemudian menyaksikan bagaimana korupsi menjelma jadi sebuah pola kejahatan yang terstuktur dan terlembaga. Ibarat bisnis korupsi merupakan jasa yang disediakan oleh sejumlah orang yang punya ketrampilan dan jaringan luas. Itu sebabnya ada yang kemudian berpendapat, kalau korupsi sebenarnya motor bagi pertumbuhan ekonomi. Korupsi ternyata bermanfaat, khususnya dalam menggerakkan sistem ekonomi dan lambanya kerja birokrasi.

Kita kemudian jadi sebal dan capek karena menumpas korupsi lebih mirip dengan memerangi diri-sendiri. Deretan tersangka terdiri dari himpunan orang-orang yang memiliki titel, jabatan dan status sosial yang terhormat. Mantan pejabat Menteri Agama, yang pasti sudah hapal serta tahu beda perbuatan terpuji sekaligus terkutuk bisa terjerembab dalam kegiatan korupsi. Kita kemudian tidak lagi terkejut dengan informasi atau berita yang bersangkut-paut dengan tersangka korupsi. Hukum yang kita jalankan seperti memutar rantai sepeda karena tak mampu mengejar kecepatan dan kejelian para koruptor. Komplotan koruptor ini seperti barisan iblis, yang mampu menyelinap dan menjelma dalam semua putusan politik. Ada saja dalih yang muncul jika korupsi kemudian diseret ke meja pengadilan.

Disana timbul debat ‘benar-tidak’ mereka melakukan korupsi. Di Pengadilan korupsi tidak menjadi prilaku menyimpang tetapi jadi kegiatan yang populer. Media massa hanya membuat para pelaku seperti seorang aktor yang mengisi berita kriminal. Asas praduga tak bersalah melatih para pelaku untuk ‘menyembunyikan dan melarikan’ barang bukti. Di semua kasus korupsi dugaan, tuduhan maupun tuntutan seperti sebuah pentas pertunjukan: menarik di awal kisah tapi buruk di akhir. Di bui para tersangka korupsi seperti seorang normal yang rehat sejenak. Tomy Soeharto yang hampir tiap tahun mendapat remisi atau ampunan menjalani kehidupan penjara tanpa melepas semua bisnisnya. Komplotan penjahat dalam kasus korupsi tak pernah sanggup ditaklukkan. Para sindikat ini mirip katak yang hidup dalam dua alam.

Mereka ini tak bisa ditumpas karena memiliki pengikut yang ada di semua sel kekuasaan. Miniatur kekuasaan disini memang lebih mirip dengan jaringan yang disebut oleh Migdal menempatkan diri atau menaruh anggota keluarga pada sejumlah jabatan penting yang digunakan untuk menjamin alokasi sumber daya berjalan sesuai dengan aturan mereka sendiri ketimbang mengikuti aturan-aturan yang ada dalam saluran resmi. Keluarga Cendana adalah contoh bagaimana sebuah negara dikelola mengikuti kemauan bisnis keluarga. Soeharto mirip dengan seorang bapak dalam keluarga Jawa yang mengelola negeri mirip dengan mengasuh keluarga. Jalinan jaringan ini kian diperluas dengan pemberian berbagai kontrak-kontrak ekonomi pada kumpulan orang yang loyal dan taat pada Orde Baru. Para usahawan ini memang sangat terlatih dan cekatan dalam menimbun loyalitas dan menegakkan ketaatan pada Orde Baru. Ibarat kasir mereka kemudian mengongkosi semua perhelatan negara dengan imbalan proteksi yang seimbang dalam menjalankan bisnis.

Sungguh negeri ini dibangun oleh Soeharto dengan mengikat hubungan erat antara penguasa dengan pengusaha. Kapitalisme liberal yang beringas telah mempercepat angka korupsi dan mengorbitkan kembali para ‘preman’ yang menyediakan jasa keamanan. Korupsi jadi tabiat umum karena melaluinya semua layanan birokrasi bisa digerakkan sebagaimana keinginan para penyuap. Serdadu kemudian jadi penjaga ampuh kelangsungan sistem kekuasaan yang busuk ini. Komplotan keluarga itu kini mulai merambah, bukan hanya dalam urusan bisnis tapi juga beradaptasi dengan sistem ekonomi liberal yang dicangkokkan oleh lembaga-lembaga keuangan International. Sejumlah orang kaya yang luput dari jeratan hukum kini mulai jalankan bisnis dengan merampok semua proyek global yang penting bagi kelangsungan hidup mereka. Dalam istilah Tomagola, hampir semua wilayah menjadi kapling bisnis para sindikat yang kini bersekutu dengan komparador International .

Negara kemudian dikelola sebagaimana seorang raja yang menguasai istana. Kerabat-kerabat itu menjarah harta publik dengan sewenang-wenang. Pengelolaan ekonomi dikelola-dalam istilah Adrianof Chaniago-hiper pragmatis, dimana pembangunan infrastruktur dipercepat sembari menyingkirkan semua ruang publik yang mestinya ditempati oleh masyarakat bawah. Hasutan untuk menerapkan pembangunan yang liberal ini diperuncing oleh dominannya para pejabat publik hasil didikan kaum saudagar. Jaringan yang dulu saling merajut membela kepentingan keluarga kini bertemu dengan generasi ekonom yang memerlukan status dan posisi sosial. Jika dulu CSIS atau ICMI menjadi himpunan cendekiawan yang bersekutu dengan kekuasaan kini model pengorganisiran tidak hanya melibatkan ilmuwan. Freddom Institute lewat iklan kenaikan BBM atau LSI melalui angket menjadi petunjuk bagaimana pengaruh ditebar melalui berbagai langkah taktis. Tak terkecuali kalangan gerakan terjungkal dalam tatanan pembangunan yang kejam ini.

Jaring pertama adalah ‘menghentikan’ perdebatan tentang konsep negara . Sistem Demokrasi kemudian diterima sebagai konsep final yang kemudian didukung oleh klaim-klaim akademis sekaligus teologis. Hubungan negara dan rakyat sudah tuntas bahkan partai yang mengatas-namakan agama sekalipun tak bisa ‘berlagak’ di parlemen . Walau merebut posisi mayoritas di Parlemen, mereka tidak cakap dalam merumuskan kebijakan-kebijakan progresif tentang bagaimana negara ini dikelola. Lolosnya proyek privatisasi hingga kemunculan UU Pertambangan maupun UU Terorime menunjukkan lumpuhnya basis kesadaran struktural. Gerakan politik mungkin berhasil meraup dukungan tapi gagal dalam merumuskan kerangka nilai sekaligus kebijakan yang mampu mengatasi problem-problem mendesak. Politik dalam artian kiat meraih dukungan tak bisa dipisahkan dengan kemampuan untuk mengelola kekuasaan.

Jaring kedua adalah ‘mati dan lumpuhnya’ fungsi kaderisasi. Kader-kader yang diperoleh tidak mengalami perluasan kelas dan hanya berputar pada kelompok kelas menengah atau kalangan terpelajar. Itu karena sel-sel tidak dimanfaatkan secara maksimal dan kurang dioptimalkan untuk menjadi tempat pendidikan kader. Terjadi fragmentasi gerakan yang membuat masing-masing kelompok tidak mampu menjalin jaringan intensif. Debat antara kaum yang meproklamirkan sebagai ‘pembaharu’ dengan kalangan ‘konservatif’ toh tidak menghasilkan kualitas pemikiran raksasa atau gerakan sosial yang kritis; akan tetapi hanya menguapkan kembali kecaman-kecaman naif. Malahan ada kecenderungan bagaimana mengembangkan kegiatan yang memberi ‘suapan’ tekhnis atas beberapa perkara yang sesungguhnya berdasar atas struktur sosial. Di beberapa sekolah, yang sesungguhnya jadi tempat untuk menyuburkan kader, justru menjadi lingkungan tidak peka pada pertumbuhan dan dinamika gerakan.

Jaring ketiga yang kemudian menyusul adalah sistem pemilihan kepemimpinan yang kini jadi membusuk. Sejak masa Soeharto kita menjadi negara yang langka akan pemimpin berkualitas. Jalur militer, birokrasi, sipil hingga kumpulan para borjuis belum bisa menelurkan pemimpin alternatif. Gerakan mengalami nasib yang mengenaskan; jalur pendidikan hanya menghasilkan sejumlah orang yang pandai membujuk bukan sosok yang punya kreativitas dan imaginasi sosial. Kepemimpinan tipe seperti ini hanya bisa muncul di tengah lingkungan gerakan yang mampu dan tahu dimana mereka kini hidup. Kepemimpinan semacam ini bisa lahir jika ada prosedur pemilihan yang ketat dengan dukungan sistem seleksi yang melibatkan semua komponen rakyat. Tak berlebihan jika kegagalan gerakan rakyat di Indonesia, salah satu diantaranya adalah, kurang mampu menciptakan sistem pemilihan kepemimpinan.

Ujung dari masalah ini kemudian adalah managemen dan pengelolaan isu yang kurang berangkat dari persoalan-persoalan konkrit. Kritik muncul menyangkut bagaimana sistem pertanggung-jawaban gerakan yang masih lemah; korupsi menyajikan bagaimana buruknya sistem birokrasi. Itu yang membuat sejumlah aliran logistik yang sesungguhnya bisa didulang dari rakyat menjadi sangat terbatas. Di tubuh organisasi yang ‘tua dan raksasa’ membangun dengan cara-cara sosial ini tidak bisa tumbuh dan kalaupun muncul dikelola dengan cara ala kadarnya.

Penyakit-penyakit dalam tubuh gerakan ini yang membuat berkurangnya harapan pada ‘kemampuannya’ untuk memberantas korupsi. Kejahatan ini tidak hanya membutuhkan gerakan yang memiliki kecakapan dalam merumuskan strategi melainkan juga butuh pemimpin-pemimpin yang bernyali. Latihan untuk mengembangkan kemampuan ini perlu dirintis dengan melakukan ‘dekonstruksi’ pada gerakan muda. Pada level kaderisasi perlu dikembangkan strategi baru yang lebih berfokus pada ‘orang’ dan ‘persoalan’. Pada orang harus dikembangkan program-program yang sesuai dengan persoalan-persoalan di tingkatan lokal. Pada bidang masalah perlu dikembangkan pendekatan struktural yang lebih terencana dengan melihat kait-mengkait antar sistem yang ada. Kemudian pada bidang managemen penting untuk dikembangkan penyelesaian masalah yang memberikan dampak langsung pada perubahan. Korupsi misalnya, tak bisa hanya melakukan pendekatan hukum yang lazim, tetapi juga memerlukan propaganda yang mampu menghidupkan kembali perlawanan yang lebih radikal dan meluas. Jauh disana, gerakan hendaklah belajar dari berbagai negara yang telah berhasil menumpas banyak pelaku korupsi.

Ditulis dalam Sinisme | Leave a Comment »

Surat dari rakyat untuk para penguasa

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 23, 2006

Seseorang berkata, “Bayarlah sebuah luka dengan kebaikan’
Sang Guru berkata: “Jika kamu membalas luka dengan kebaikan, lalu dengan apa kamu membalas kebaikan? Kamu seharusnya membayar sebuah luka dengan keadilan dan kebaikan dengan kebaikan”
(Konfisius)

Jangan sekali-kali mengatakan bahwa kedaulatan itu ada di tangan kami. Kami tahu betapa suara kami hanya kalian butuhkan ketika ada pemilu. Pada masa-masa pemilu seolah-olah kalian mau berbuat apa saja demi untuk mendapatkan suara kami. Kalian berkunjung ke pasar dan bertanya ini-itu, layaknya kalian akan memperhatikan nasib kami para pedagang. Di rumah kami yang becek dan reot kalian duduk bercengkrama dan melempar canda yang hendak mencairkan batas. Sudah barang tentu ada batas diantara kalian dengan kami; busana yang rapi itu berbeda dengan baju kami yang apa adanya, wajah bersih kalian tentu beda dengan muka kami yang penuh dengan peluh keringat, bau harum dari parfum tentu beda dengan bedak kami yang memenuhi wajah. Yang pasti rezeki yang kalian terima berbeda dengan apa yang kami dapatkan. Pendapatan kalian yang berasal dari sana-sini sangat berbeda dengan sumber pendapatan kami yang kadang terancam oleh kebijakan kalian.

Belum hilang kaos bergambar dirimu kami pakai tapi nasib kami sudah kalian campakkan. Malam lebaran begitu teganya kalian gusur kami yang sedang pulang mudik. Di hari yang lain kalian begitu tega membuat aturan kalau kami penarik becak tidak boleh melewati beberapa ruas jalan tertentu. Di waktu yang lain kalian beri kami uang sekaligus kalian naikkan harga banyak barang. Hanya dengan kebijakan sepele-ini menurut kalian-menaikkan harga BBM, kami sudah sulit untuk mencari ikan.

Hanya dengan mengatakan beras boleh impor maka kami para petani seperti kena pukulan keras. Menjadi petani itu sudah berat tapi jauh lebih berat ketika beras kami kalian saingkan dengan beras luar negeri. Terus terang, kadang kami itu ingin bertanya pada kalian yang duduk di kursi kekuasaan: apa yang kalian maui dari rakyat yang mungkin bodoh seperti kami. Ketaatan sudah kami berikan pada kalian: tak pernah sekalipun kami alpa membayar pajak, tak pernah kami berpikir ingin menegakkan negeri sendiri, tak sempat kami berpikir untuk merampok rumah-rumah megah kalian.

Jika kami ingin ber-andai-andai, mungkin kalian menginginkan kami jadi rakyat yang: patuh dan percaya atas semua yang kalian omongkan. Jika kalian bilang bahwa kenaikan harga BBM itu demi untuk kesejahteraan rakyat pada jangka panjang maka kami harusnya percaya sepenuhnya. Jika kalian bilang bahwa kenaikan harga BBM itu untuk mengalihkan subsidi dari orang kaya kepada mereka yang berhak mustinya kami itu langsung yakin bahwa itu bukan pernyataan yang bohong. Kalau kalian kemudian mengatakan bahwa semua masalah bisa kita atasi kalau kita mau berkurban mustinya kami mengangguk setuju.

Apalagi kalau kalian katakan bahwa wabah penyakit yang kini sedang menjalar sedang kalian atasi mustinya kami dengan girang menyambut dengan kata-kata: setuju, baik, sipp! Saudaraku yang duduk di kursi kekuasaan, mungkin kamu berharap semua pidato, keputusan, kebijakan yang ditetapkan tidak berbuah dengan protes. Kalian mungkin punya kepintaran yang jauh diatas rata-rata kami, sehingga apa yang bagi kami merupakan ancaman mungkin buat kalian itu sesungguhnya pemecahan masalah.

Tidak heran jika kami sering dibuat kagum sekaligus heran dengan perbuatan kalian. Gerombolan anggota parlemen yang penuh kehormatan menaikkan gajinya dengan alasan yang simpel, untuk meningkatkan kualitas dan dedikasi kerja. Kalau kami bilang itu suap sekaligus bayaran karena mereka setuju dan oke dengan kenaikan BBM; bisa saja kami langsung kalian tuduh sebagai orang yang sengaja ingin menghasut dan mencemarkan nama baik. Padahal kami tahu dan juga diberitahu, kalau kalian ini rapat juga jarang yang datang dan sedikit sekali undang-undang yang membela kami kalian keluarkan. Di Partai yang isinya orang-orang yang bermuka saleh keadaanya lebih buram. Protes sana-sini tapi kemudian di ujung pentas mengatakan memberi dukungan penuh pada penguasa. Tak hanya dengan itu, seorang pemukanya berkunjung ke istana sang penguasa untuk menyatakan sikap dukungan.

Untung kami kemudian masih percaya bahwa jenis-jenis kesalehan palsu macam beginian memang lagi ‘pasaran’. Kami pun takjub dengan perkataan kalian kalau badan usaha yang jelas-jelas kalian punyai dan memenangkan beberapa proyek publik itu kemudian kalian bantah sendiri. Bantahannya berbunyi standar: saya sudah tidak urusi itu dan sudah dikelola penuh oleh saudara yang lain. Ya jelas kalian nggak urusi itu karena sekarang kalian menjadi pejabat yang urusi kami. Kadang menipu itu pekerjaan sederhana tapi jadi memalukan kalau itu dilakukan dengan cara yang naif.

Wahai para penguasa yang duduk dimana-mana. Aku itu sering bertanya ketika kalian bertemu dengan kami yang miskin dan tersudut, apa yang sesungguhnya kalian pikirkan tentang kami. Jika kalian dengan baju yang bersih kemudian melakukan ibadah dan berdoa: sungguh aku ingin tahu doa apa yang kalian panjatkan ke hadapan Tuhan. Jika kalian pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarga kalian; apa yang sempat kalian bincangkan. Kami tahu betapa bangganya anak-istri kalian dengan posisi yang kalian punyai. Sebuah posisi yang membuat mereka dapat hidup di rumah yang luas di tengah banyak rumah yang kena bencana tiap kali iklim berubah.

Hidup di tengah berbagai fasilitas negara yang menanggung semua kebutuhan istri anak kalian di tengah banyak keluarga yang untuk makan sehari-haripun mengalami kesusahan. Itu sebabnya kami kemudian maklum kalau banyak diantara kalian merayakan hari pernikahan dengan megah dan mewah. Pesta pernikahan sama halnya dengan pameran kemegahan. Itu juga yang membuat kami maklum kalau kalian kemudian selalu memborong semua anak istri ketika melakukan lawatan ke luar negeri. Mereka berhak mencicipi kekuasaan yang kalian dapatkan bahkan mempunyai hak untuk menggunakan fasilitas yang kalian pakai. Nikmat memang memiliki kekuasaan yang tak semua orang bisa meyentuh dan merasakannya.

Kadang dalam bilik kepalaku yang kecil ini muncul pertanyaan: mengapa rakyat selalu saja tidak pernah percaya dengan keputusan yang kalian ambil? Padahal pidato, perkataan, kata-kata kalian penuh dengan ucapan meyakinkan. Tak jarang tubuh kalian tiap pidato berusaha meyakinkan pada kami kalau yang kalian serukan itu sesuatu yang sangat serius. Tak jarang kalian peluk kami dan mengatakan bahwa, ‘kami tahu apa yang kamu rasakan’. Terharu kami menyaksikan adegan itu dan biasanya kamera televisi mengambil sudut gambar yang selalu tepat.

Kekuasaan memang panggung yang lebih baik dijalankan dengan seni peran ketimbang dengan tindakan-tindakan yang nyata. Karena panggung maka yang dibutuhkan kadang bukan kejujuran tapi kepintaran untuk meyakinkan pada penonton: bahwa apa yang kamu sedang pura-pura lakukan buatlah seolah-olah sebagai adegan yang sungguh-sungguh. Jika dibilang semua pelaku korupsi akan ditindak tegas dan akan dimulai dari rumah sendiri-itu sama halnya dengan bilang-korupsi itu ada dimana-dimana dan betapa susahnya diberantas karena korupsi ada di sekitar rumah kediaman kita sendiri. Jika dibilang pelaku pembunuhan atas para aktivis HAM akan diusut itu sama halnya dengan mengatakan kalau kita tidak akan mencari dalang yang sebenarnya karena yang bisa diusut adalah mereka yang sudah terlanjur diberitakan di media massa. Kita maklum karena kematian aktivis HAM sesungguhnya menguntungkan kalian terutama ketika tak ada lagi suara protes yang akan muncul tiap kebijakan keamanan kalian ambil.

Kami tahu kalau, kekuasaan memerlukan prosedur dan hukum. Prosedur telah membuat segala hal yang rumit jadi lebih rumit dan berbelit-belit. Dibilang bahwa setiap orang miskin akan mendapat BLT (Bantuan Langsung Tunai) tapi tidak semua orang susah bisa dikategorikan miskin. Prosedur itu yang kemudian membawa-bawa birokrasi yang punya wewenang untuk membuat kriteria siapa yang masuk klasifikasi orang miskin. Uang Rp 300 ribu memang bisa membawa musibah tetapi uang sebesar itu bisa pula membawa aliran dukungan. Kau kemudian lihat, seorang kepala RT bisa terbunuh, bangunan kelurahan diserbu massa, orang mati karena kacapekan antri dan yang miskin tapi tidak terdata melancarkan aksi. Rakyat kau didik menjadi pengemis dan dilatih untuk membenci kepada sesamanya.

Hidup rakyat memang berat tapi jauh lebih berat ketika kau luncurkan kebijakan yang menyusahkan. Hukum juga yang kemudian membuat kalian kesulitan mengatur kekayaan kalian sendiri. Sebagian dari kalian ada yang asal muasalnya pengusaha dan kemudian secara ajaib laba usahanya meningkat saat jabatan publik itu disandang. Mengharumkan sekali nama kalian di tengah kemakmuran dan keuntungan yang terus menggunung. Kami sadar kemampuan kami hanya menggerutu dan kesal. Sesudahnya kami tak bisa apa-apa.

Kami hanya bisa berandai-andai. Apa betul Sukarno, Hatta, Sjahrir, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Moh Natsir dan pejuang kemerdekaan yang lain dulu hidup semewah kalian. Dalam kisah sejarah kami diberitahu kalau Haji Agus Salim rumahnya sederhana bahkan mengontrak sana-sini. Hatta tokoh proklamator konon tak bisa membayar listrik karena hidupnya yang bersih dan apa adanya. Sukarno yang sangat berjasa dalam menemukan Pancasila bahkan meninggal dalam keadaan yang sederhana dan sendirian. Kami tertegun dengan para pemimpin negeri ini yang bernama Tan Malaka: hidup di tengah kaum buruh dengan meyandang penyakit TBC. Fantastis sekali moral mereka dan itu sebabnya mereka mampu dengan gagah berhadapan dengan negeri-negeri penjajah. Pikiran yang melampaui zaman telah membuat bangsa ini dulunya pasti punya martabat di pergaulan international. Andaikan saja mereka masih hidup dan memimpin negeri ini, pastilah kami percaya yang kami miliki bukan penguasa tapi pelayan rakyat.

Kami butuh pelayan rakyat yang tahu bagaimana menghormati, menghargai dan merasakan apa yang kami derita. Sungguh jika kami boleh meminta keajaiban, kami minta agar para penguasa yang duduk di kursi kekuasaan sekarang ini, bisa dibawa ke masa lampau dan menyaksikan kehidupan para perintis bangsa ini. Setidak-tidaknya mereka bisa berkaca dan mungkin merasa malu sekaligus bersalah atas apa yang kini sedang mereka kerjakan. Kami membayangkan suatu saat ketika mereka akan turun dari kursi kekuasaan, mereka diberi kesempatan untuk mengucapkan kalimat yang tak pernah sekalipun mereka katakan: rakyat maafkan kami atas kebijakan, tindakan dan sikap kami yang tak sesuai dengan harapanmu. Sekali lagi maafkan kami!

Salam
Dari Rakyat yang hidupnya kian susah

Ditulis dalam Sinisme | Leave a Comment »

Kepada yang kuhormati wahai rakyatku

Ditulis oleh dhant di/pada Mei 17, 2006

Untuk bisa bersimaharaja lela, kejahatan hanya memerlukan
Seorang yang baik, yang tidak melakukan apapun
(Edmund Burke)

Kami bikin surat ini agar engkau tidak terus-menerus curiga. Kutuliskan pesan ini agar engkau tidak tenggelam dalam harapan kosong dan tuntutan yang tidak masuk akal. Tak ingatkah kamu bahwa negara ini didirikan bukan hanya untuk memerdekakan orang miskin seperti kalian tapi juga memberi rasa aman bagi kalangan usahawan. Mereka-lah yang selama ini membikin makmur bangsa ini. Dari mereka kalian mendapat sumber mata pencarian, memperoleh pekerjaan dan mendapatkan kesempatan hidup secara berkecukupan.

Makanya rakyatku aku ingin kalian lebih realistis dalam melihat keadaan, lebih santun dalam melihat perubahan dan terus bersabar menghadapi musibah.
Rakyatku, kau pikir mudah memimpin kalian? Rakyat yang benar-benar membikin kesal. Dinaikkan harga BBM marah. Digusur pemukimannya berontak. Ditangkap beberapa orang katanya melanggar HAM. Serba salah semua tindakan kami dan kalian bisanya cuman menggerutu saja.

Senyum yang kukulum di depan kamera televisi hanya untuk menyatakan pada kalian semua, kalau kepemimpinanku tak mudah jatuh gara-gara demo jalanan kalian. Hapal sekali aku dengan ’siapa, apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakannya’ Pelajaran pertama yang diberikan oleh penguasa sebelumnya, penting aku camkan: biarkan demonstrasi berjalan karena itu cara kamu mengatakan bahwa negeri ini masih ada penduduk yang kritis, tapi penting kamu tumpas dengan hukuman, kalau aksi itu menjalar menjadi kekerasan.

Kekerasan menjadi kesukaanku dan kesenanganmu. Dulu PKI kami tumpas karena cara mereka mengatakan kesenjangan ekonomi sebagai asal-muasal masalah. Lalu agar kalian ikut serta menumpas PKI maka kita bilang: PKI kejam dan anti Tuhan. Luar biasa ternyata kalian dukung tindakan buas kami membunuhi orang PKI, bahkan kadang kalian lebih kejam dibanding dengan kami. Yang hebat lagi kebencian PKI itu betul-betul permanen hingga detik ini.

Makanya aku tertawa terbahak-bahak ketika seorang politisi yang sangat terkenal mengatakan kalau PKI yang menge-bom Bali. Imajinasi politisi ini sering lebih menakjubkan dibanding dengan daya cium aparat intlegen yang kami miliki. PKI adalah laboratrium pertama kami mengajari bagaimana kalian menindas, menganiaya dan membunuhi sesama. Hasilnya ribuan orang meninggal dan ratusan ribu orang tanpa diadili dibuang.

Dukungan pembunuhan ini sangat fantastis: seorang ilmuwan dan budayawan hingga hari ini geram dengan lapisan anak-anak muda yang melupakan sejarah PKI. Ia seorang muslim yang saleh tapi agak naif, sulit memaafkan dan merima kenyataan sosial baru. Dengan PKI mereka marah tapi dengan orang Islam yang kami siksa mereka bersikap diam. Tanjung Priok adalah naskah kekerasan yang kami tulis dengan cara berbeda. PKI kami tuduh saja anti agama, tapi orang-orang Islam yang nekad ini kami katakan sebagai penentang Pancasila dan penghasut ummat.

Kami tembaki mereka dengan antusias, kami buang mayatnya dan beberapa kami sidang dengan tanpa pengacara. Dulu jika keadaan darurat tak ada yang berani menentang dan lagipula ide Hak Asasi Manusia saat itu belum sekencang seperti sekarang. Amerika yang dulu ikut dukung pembataian atas PKI dengan gampang menyalurkan dukungan atas pembunuhan terhadap lapisan Islam fanatik ini.

Tak beberapa lama kami melanjutkan pembunuhan di samping melakukan tugas pembangunan. Pembangunan itu kulakukan dengan dua cara, mengail pendapatan dari hasil minyak yang melimpah ruah dan bantuan uang dari berbagai negara. Minyak adalah anugerah terbesar buat kekuasaan dan itu sebabnya uang yang didapat selain kusedekahkan untuk pembangunan juga kusimpan sendiri. Pertamina adalah perusahaan yang kukontrol dengan ketat sebagaimana kuawasi semua pasukan bersenjata. Kekuasaanku harus bisa bertahan kalau aku memiliki dua harta kekayaan, senjata dan uang. Kau tahu bukan, hanya serdadu yang bisa memimpin rakyat.

Kelebihan serdadu itu satu dan mereka yakin itu benar: semua kenyataan sosial itu selalu simpel, yang ada dalam dunia rakyat itu dua saja: menentang atau taat. Hanya itu saja dua jenis rakyat yang ada di bangsa ini. Itu sebabnya aparatur keamanan memang diminta untuk terus menghapal kata: WASPADA & ANCAMAN!

Makanya rakyatku, kalian harus membiasakan untuk menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Mayat masuk dalam karung kemudian dibuang ke hutan, perempuan yang ditusuk alat vitalnya, mahasiswa yang diculik tanpa kembali, aktivis yang diracun makananya ketika menaiki pesawat, mahasiswa yang dipukuli oleh aparat dengan kejam, orang yang ditebas kepalanya dan semua kekejaman yang hanya bisa kaulihat di televisi. Dan itu sebabnya stasiun televisi berlomba-lomba untuk memutar tayangan kekerasan untuk tujuan tunggal, agar kalian terbiasa melihat aliran darah.

Kekuasaan tak ada yang tegak dengan damai rakyatku, kadang harus ada beberapa kawanan yang dikorbankan untuk sebuah tahta. Kekerasan itu sesuatu yang bisa dihalalkan dan itu ketrampilan pertama dan utama yang harusnya dimiliki oleh seorang penguasa. Kalian sangat bersemangat untuk memantau, mengecam, menyudutkan, melaporkan ke komunitas international apa yang sudah kami lakukan. Aku sudah terlalu hapal siapa nama-nama yang gemar membikin laporan yang jujur tapi membahayakan kursiku itu.

Walau aku tahu, reputasiku tidak akan hancur perkara data-data yang kalian sodorkan. Kutiup kesadaran pada rakyat bahwa kalian jenis LSM yang suka menjual negara, tidak Pancasialis, tidak patriotik, tidak bela negara. Rakyatku ternyata bereaksi dengan ber-semangat akan apa yang kami lakukan: mereka ada yang turun ke jalan mendemo, ada yang dengan antusias untuk menyerang, lalu ada yang dengan riang merusak serta menginjak-injak buku.

Rakyat itu bisa seperti kanibal, yang memakan nyawa puluhan penduduk ketika mereka didorong secara bersemangat untuk memukuli sesamannya. Kebencian itu seperti sulutan api yang memakan rumput-rumput kering dan biasanya aku kemudian memperoleh titel: penguasa pelanggar HAM. Aku selalu tertawa dengan julukan itu, karena ini dampak sampingan menjadi penguasa.

Mana ada penguasa diatas bumi ini yang dikenal sebagai pejuang HAM! Menjadi penguasa bukan hanya siap untuk dikenal tapi juga siap untuk dicaci. Aku sudah biasa melihat kau injak-injak fotoku, kaubakar gambar wajahku bahkan kau bikin mukaku jadi karikatur. Pertama kali dulu menyaksikan itu aku geram hingga kuperintahkan aparat-aparat keamanan untuk menjerat kalian dengan pasal penghinaan. Untung Belanda masih banyak mewarisi pasal-pasal yang bisa menjerat rakyat yang sok berjuang seperti kalian. Kini aku biarkan saja kalian bertindak semacam itu, karena itulah yang paling tidak bisa memuaskan perasaan kesal dan marah kalian.

Bisanya melawan dengan Demonstrasi, ya silahkan Demo! Aku sudah hapal berapa lama kalian mampu bertahan untuk Demonstrasi. Keadaanya kini lain bung! Rakyat sudah pusing dengan masalahnya sendiri dan mereka sadar Demonstrasi tak berujung penyelesaian masalah. Mereka paham dan belajar kalau Demonstrasi hanya bisa meroketkan tokoh-tokoh yang kelak akan duduk dalam kursi kekuasaan. Malahan ada yang bilang, kalau Demonstrasi hanya memacetkan jalan. Pandangan-pandangan itulah yang membuat aku yakin-seyakin-yakinnya kalau kebijakan yang kejam sekalipun tidak akan mampu kau bendung.

Apalagi kini aku didukung oleh jenis-jenis ilmuwan, rohaniawan, usahawan, wartawan yang memberi dalih rasional atas kebijakanku. Ilmuwan itu tanpa malu menyebut kenaikan BBM sebagai kebijakan yang tak bisa ditunda lagi dan tanpa aku suruh mereka mengungkapkan pendapatnya di iklan full satu lembar koran. Kadang aku bilang pada diriku sendiri, ini ilmuwan yang keyakinanya melebihi diriku sendiri! Lantas rohaniawan yang selalu bersorban mau juga membuat iklan kalau kenaikan BBM harus ditanggapi dengan sikap sabar. Walau iklan itu kemudian ia cabut-mungkin karena sadar atau ditekan-tapi yang terang aku paham bahwa ulama sekali-pun bisa jadi ‘pembantu setia’ kekuasaan.

Bahkan ada komplotan ulama yang antusias memburu terorisme dengan meneliti buku-buku keras, ini prilaku yang terpuji untuk sebuah tahta yang butuh keamanan. Komplotan macam usahawan jangan tanya: karena mereka memang akan bersikap pragmatis, siapa yang berkuasa pada merekalah loyalitas ditaruhkan. Sebagian besar mereka kuberi jabatan karena dulu mereka berjasa dalam menyetor uang untuk meraih kursi kekuasaan. Media kini juga hanya sedikit yang garang, bahkan aku lihat berita mereka semua hampir sama.

Jadi aku berharap kalian rakyatku tidak usah banyak berharap akan perubahan. Hiduplah dengan apa yang kau miliki. Kata ulamamu, kau harus sabar. Pendapat yang aku dukung sepenuhnya. Hiduplah dengan apa yang kamu bisa lakukan dan terimalah resikonya dengan lapang dada. Boleh saja kau ikut gerakan membela apapun, kalau itu membuat hatimu tentram dan pintu menuju perubahan.

Demokrasi itu konsep yang cocok buatku tapi tidak tepat mungkin bagimu. Sebab disini Demokrasi itu memang dari rakyat tapi bukan untuk Rakyat. Makanya surat ini aku buat agar kau bisa lebih mengerti apa sebenarnya arti penguasa. Kekuasaan dalam buku-buku teks dilukiskan dengan memukau: kekuasaan untuk rakyat, suara rakyat suara Tuhan, rakyat pasti menang dan lain-lain.

Boleh saja kau percaya dengan itu semua, tapi yang jelas, percayalah terhadap apa yang kau terima sekarang ini. Nasehat terbaikku mungkin itu, percayalah pada apa yang kau rasakan sekarang ini. Menjadi rakyat apalagi miskin memang sangat susah, tapi jangan kuatir, siapa tahu kau akan mendapat pemimpin yang bisa mengerti kesusahanmu. Walau aku yakin, sejak Nabi utusan Tuhan tiada, akan sulit kau menemukan jenis pemimpin seperti itu. Apalagi di negeri yang benar-benar ajaib seperti disini.

Salam dariku,
Penguasa yang jahanam

Ditulis dalam Sinisme | Leave a Comment »