Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 8, 2006
Tahukah kau,
Dirimu adalah hadiah terindah dalam hidupku
Tawamu memberiku ketenangan
Tak pernah kudapatkan hal itu sebelumnya
Lama sudah ingin kudengar lagi suara itu,
Saat kau rebahkan dan sandarkan tubuhmu dalam bayanganku
Saat kau percayakan diriku menjagamu dalam keheningan
Saat kau memilihku tuk merasakan rapuh dan hangatnya tubuhmu
Bukan rencana dan strategi yang membuat kita hebat, sayang
Namun kebersamaan yang membuat kita bertahan sampai dengan sekarang
Ditulis dalam Syair Hati | Leave a Comment »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 5, 2006
Gadis, aku meradang
Kadang rasaku terhunus pedang
Sering bahkan berubah beku meragu
Laras asa menyatu membelenggu
Suaraku, kau tak pernah tanggapi
Ku paham, kau tak ingin diganggu lagi
Janji ini tak lagi memiliki tepi
Penantian ini bukan lagi surgawi
Kau halangi kendaliku
Kau ludai rasa respekku
Kau nodai harmonisasiku
Kau lukai kekerabatanku
Nona, kapankah kau kembali
Sudikah kau mampir disanubari
Ingin sekali mendengar kau menyapa kembali
Aku disini tak pernah pergi, masih menanti
Walau kutahu pasti,
Semua memiliki caranya sendiri untuk terjadi
Begitulah kehidupan,
Melangkah dari anugerah busuknya kotoran
Hilangkan kecemasan, kebencian, kepedihan dan penderitaan
Ku tersenyum dan banyak memberi agar manusia lebih memiliki arti
Meski tetap saja dirimu meninggalkanku penuh dengan penyakit
Ku tetap memelihara kehadiranmu dalam hati, selalu
Sadarkanlah
Gugah kepedulian batinku
Diriku bukanlah kumpulan raja dan dewa-dewi
Kekuatanku terbatas
Kupaham dan sadar, kau membelenggu kebebasanku dengan ilusimu
Sebuah konsekuensi yang harus kuterima dan jalani
Ditulis dalam Syair Hati | 1 Komentar »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 5, 2006
Sejenak ku termenung,
Kuingin rasakan tamparan alam dibatas dunia
Hm, senyum simpulku menahan gundah kelana
Memecah kebisuan yang lama tercenung
Ku dengungkan bait yang tak kunjung merenung
Melanglang meratap tak bergerak
Oh, kaum setan…
Kau ajak diriku kembali menari diatas permukaan air
Percuma, tidak kali ini, aku menolakmu
Aku tak mau terjebak diantara dua dunia
Ruang dimensi bangsamu bukanlah bagian diriku
Sudah waktunya kita berpisah
Biarlah kita berdiri didunia kita masing-masing
Biarkan kunikmati keindahan ini tanpa kau ganggu
Sekali ini saja, ku ingin duduk lama didermaga!
Ditulis dalam Syair Hati | Leave a Comment »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 4, 2006
Angin, terbangkan jiwaku
Buai aku dalam dekap lembutmu
Bawa aku menuju penantian hatiku
Andai ia mendengar hasratku
Angin, tiupkan tubuhku
Bantu aku hadir berdiri dihadapannya
Beritahu aku ia masih menginginkanku ada
Andai ia berharap memintaku
Angin, diriku memaksamu
Satukan hidupku kembali bersama alam
Biarkan semilir hembusanmu menggodaku
Sertakan diriku melewati lembah yang curam
Bawakan keindahanmu yang kupuja selalu
Angin, turunkan aku kali ini
Akan kupijakkan dunia dari tanah pertiwi
Akan kubuktikan, berharap hanya menyakiti diri
Akan kupastikan mereka tunduk mengakui
Angin, kupersalahkan dirinya
Mengapa membalas rayuanku
Angin, kupersalahkan diriku
Mengapa membalas sayangnya
Angin, hidupkan ruang waktumu
Tikam mati indah kesucian ini
Andai dirinya masih menungguku
Kan kujaga api abadi ini sepenuh hati
Angin, singkirkan ia dari tubuhku
Buang angan dan mimpi dari otakku
Singkirkan perasaan dari lubukku
Hempaskan pikiranku tentangnya, ia hanya benalu!
Dari diriku yang masih cemas, apakah keberpihakan angin cukup pantas……
Sungguh ironi, rokok sudah lama kutinggal mati, tinggal kopi, TV dan PC……
Ditulis dalam Syair Hati | Leave a Comment »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 3, 2006
Ayah,
Maafkanku telah melawanmu
Ampuni diriku sudah memakimu
Salahkah pernah beradu denganmu
Sumbar mauku mengalahkanmu
Pemberotakan semasa puber berlanjut beranjak dewasa
Perlawanan menunjukkan supremasi sudah berpindah
Hambamu yang kau cinta sudah ingin berkuasa tanpa kau pengaruhi
Harapanmu yang kau sayangi ingin menentukan masa depannya sendiri
Ayah,
Maafkan diriku begitu naïf
Ampuni anakmu begitu kejam tak berbudi
Baru menyadari lama sekali bisa bijak dan arif
Sungguhpun tak bisa kukatakan hanya dalam doa kuberani
Ditulis dalam Syair Hati | 2 Komentar »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 3, 2006
Anakku,
Kan ku penuhi semua keinginanmu
Kan ku sediakan apa saja yang kau tuntuti
Kan ku persiapkan segala keperluanmu
Kan ku berikan apapun yang kau pintai
Sayangku,
Kan ku saksikan sgala ketulusanmu
Kan ku nikmati sgala kejujuranmu
Kan ku hirupkan harum kehidupanku
Kan ku hembuskan kepahlawananku
Dalih cinta kasih akan kupersembahkan pada para bidadari
Bersiaplah kau menunggu turun kebumi di awan-awan surgawi
Ketulusanku menaungi kemenangan pampasan perang tubuh perempuanku!
Nantikanlah bila diriku siap tuk bercinta dengan calon ibumu!
Ditulis dalam Syair Hati | Leave a Comment »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 3, 2006
Wahai, koloni negeriku
Katakan sejujurnya padaku
Apakah diriku sesungguhnya harimau itu?
Apakah kenaifanku bagian angkara barbar itu?
Seharusnya, kami mengutuk diri sendiri
Lalu,
Mengapa kau bersedia menunggu tubuhku?
Mengapa kau bersedia menjadi pemuas nafsuku?
Mengapa kau sukarela melayaniku?
Mengapa kau sukarela menjadi wadah sampahku?
Tlah kau utarakan,
Kau memintaku memiliki tubuhmu
Meski kau tahu tidak jiwa, hati dan pikiranku
Kau suguhi aku keperawananmu
Meski kau tahu dirimulah yang akan menanggung malu
Oh, akulah sahabat setan
Kugunakan otakku dengan nafsu birahiku
Kulihat kejauhan dari dekatnya liangmu
Ku tafsirkan cintamu berupa penundukkan
Ku arungi tubuh lain untuk ku korbankan
Ditulis dalam Syair Hati | Leave a Comment »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 3, 2006
Ku tahu kau kuat dan penuh keceriaan
Yang selalu kau perlihatkan dan banggakan
Namun,
Ku pun tahu bahwasanya kau jua sangatlah lemah
Yang selalu kau simpan dalam ranah entah berantah
Bukankah kita semua begitu…
Memperlihatkan kebohongan itu pada dunia
Memenjarakan perasaanmu diatas ranjang bersanding bantal
Oh, bidadariku…
Ataukah dirimu memang begitu…
Mudahnya menggobral perasaanmu pada beribu mangsa
Membuang gairahmu saat kami sudah terjebak
Oh, iblisku…
Gejolak hewani ini menggeliat resah
Riang ketika tawa itu kembali datang menantang
Perih saat kesedihan berubah dikala petang menjelang
Sesalkan kuhujam belati ini berganti arah
Kata ini tak lagi dihargai
Tiada berguna lagi…
Kuhibur diriku,
Kau tak pantas bersanding denganku
Kau hanya menjadi duri dihatiku
Hatiku sungguh tak pantas tuk kau miliki
Hariku hanya menjadi sia-sia saja kau sakiti
Pergilah… pergi!!!
Setan duniawi!!!
Ditulis dalam Syair Hati | Leave a Comment »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 3, 2006
Sudah kuduga,
Tiba-tiba kau datang menjelang
Bersimpuh memelas tuk mengasihimu, gadis
Kesedihan kau tumpahkan dalam tangis
Rasa sayangmu, membuatku tetap tak bergeming
Yang mulia
Mengapa kau tega
Tak juga kau berbicara
Menyambut cintanya
Kumanfaatkan kau demi kepuasan birahiku
Kurenggut kegadisanmu yang kau suguhkan
Kuperalat tubuhmu untuk kepuasan hidupku
Kurasakan kenikmatan kehormatan melayaniku
Akulah binatang itu…
Dia hanya masa lalu
Korban petualangan pecinta sejati
Dia hanyalah salah satu
Korban kekerasan sang maskulin ragawi
Rona pasrahnya kutanggapi datar
Sadar, dirinya bagiku sudah lama mati
Gamang pikirannya kau peralat hancur
Kasar diriku dicintainya sepenuh hati
Ditulis dalam Syair Hati | Leave a Comment »
Ditulis oleh dhant di/pada Agustus 3, 2006
Beringas cadarmu siksa jiwaku memohon ampun
Buas angkuhmu ubah cinta ini menjadi racun
Teganya kau melepas raga dari kehidupanku
Tiadakah kau sadar tlah memaku aku, sayangku
Kami bukanlah pangeran dari kodok yang nista
Yang harus kau cium satu persatu agar berubah
Kami juga bukanlah pangeran berkuda
Yang harus menyelamatkan dengan pedang terasah
Kau pergi disaat ku mulai belajar mencintaimu
Kau tinggalkanku manakala dirimu mulai hidup didalam jiwaku
Kau nodai ketulusan hatiku
Kau campakkan rasa muliaku
Kau biarkanku lari dari kehidupanku
Kau acuhkan tubuhku dalam keterasingan
Kau pelihara lalat-lalat pezinah mengagungkanmu
Kau banggakan tubuhmu tuk digagahi lawan
Diriku memujamu melebihi penciptamu
Diriku menyayangimu mengalahkan orang tuamu
Tidakkah kau pernah mau mengerti diriku!
Tidakkah kau sadar akan hal itu!
Kau menghilang tanpa kabar
Tinggalkan rasa yang sakit
Pergilah, ku kan hibur diriku sendiri
Kau tak pantas bersanding denganku
Kau tak pantas mendapatkan hatiku
Kan ku hirup kafein kopi ini sekali saja, lepaskan ragawi melayang semu…. Oh, dinda kau racun kehidupanku!
Ditulis dalam Syair Hati | 1 Komentar »