aridhant harprys w.

“..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..”

Arsip untuk ‘Terorisme’ Kategori

Terorisme Amerika

Ditulis oleh dhant di/pada Juni 3, 2006

Tak ada yang lebih membikin kita rikuh dalam pergaulan hidup biasa, selain patriotisme orang Amerika yang gampang terusik
(Alexis de Tocqueville, Democracy in America)

Perang itu memang seperti panggung yang penuh dengan bau anyir darah. Berita yang tersebar luas perang ini telah menenggelamkan semua kisah buram yang menimpa republik ini. Kasus korupsi mulai terhapus demikian pula sejumlah agresi militer di daerah konflik yang dilakukan dengan cara yang sadis. Invasi Amerika ke Irak memang menuai cercaan yang besar ketimbang invasinya ke Afganistan. Meskipun dua-duanya telah mengorbitkan kembali kenyataan buram bahwa dunia bukan lagi panggung tetapi juga drama berdarah. Stasiun televisi saling berlomba untuk menyiarkan berita terakhir langsung dari medan. Irak yang terkenal dengan negeri 1001 malam luluh lantak dibom-bardir oleh bom yang diluncurkan oleh pasukan Amerika beserta sekutunya. Wajah anak dan kaum perempuan yang menjadi korban peperangan telah membuat paras dunia seperti kain lusuh.

Perbincangan tentang hak asasi manusia maupun masyarakat sipil hanya jadi cemooh karena Amerika menjadi negeri yang mengkhianatinnya. Kecaman maupun aksi demonstrasi tidak melunturkan ambisi gila Amerika untuk menjatuhkan Saddam Hussein. Sebagaimana keinginanya untuk memburu semua pelaku teroris yang tinggal di semua penjuru dunia. Amerika bahkan sama sekali tidak peduli dengan eksistensi PBB, dimana lembaga ini, sebenarnya didirikan atas usulan Amerika juga. Bersama dengan Inggris nampaknya Amerika berambisi untuk membuat peta dunia sebagaimana yang dikehendakinya. Meskipun mulai ketahuan kalau alasan Amerika dan Inggris dalam menyerang Irak, karena menyimpan senjata, ternyata hanya bohong. Upayanya untuk melakukan reformasi yang menyeluruh kembali dilakukan dalam konteks kawasan Timur Tengah, sebagaimana usahanya untuk menjadi pendukung loyal, eksistensi Israel. Kepentingan utamanya bukan tegaknya demokrasi maupun pemuliaan hak asasi manusia akan tetapi yang jauh lebih mendesak adalah motif ekonomi. Amerika punya keinginan yang tak dapat ditunda yakni penguasaan minyak yang selama ini berpusat di Timur Tengah.

Ambisi Amerika didasarkan atas keinginan untuk melakukan kontrol atas minyak, terutama untuk kepentingan perusahaan AS dan perusahaan otomotifnya. Apa yang telah dilakukan Presiden Amerika Haary Truman kiranya ingin diraih kembali oleh penguasa sekarang terutama setelah ambruknya Rusia. Irak yang memiliki cadangan minyak 220 milyar dollar barrel berada pada posisi nomer dua setelah Arab Saudi. Dengan melihat sumber daya minyak Irak maka penguasaan terhadap kawasan ini akan menyelamatkan Amerika dari kekurangan pasokan minyak selama satu abad. Motif minyak ini hampir mendominasi seluruh konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, apalagi keguncangan harga minyak akan menaikkan suhu politik di berbagai tempat. Amerika tentu masih punya ingatan yang kuat, bagaimana boikot terhadap Amerika Serikat dan sekutunya dilakukan oleh negara-negara Arab menyusul perang Arab-Israel pada tahun 1973. Intinya memang AS, sangat kuatir kalau kontrol minyak jatuh pada negara-negara yang anti-Barat. Menjadi mengkuatirkan mengingat ketergantungan negara-negara industri, khususnya AS, pada minyak impor.

Motif minyak ini makin menyolok ketika ada sejumlah perusahaan yang diantaranya Bush-sang pencetus perang-bekerja di dalamnya ikut berperan dalam penguasaan. Dengan memperbesar anggaran pertahananya, Amerika Serikat kini menjadi satu-satunya negara yang berambisi untuk memimpin dunia dengan menerapkan standar seragam kebijakan ekonomi . Skenario yang dibentangkan selalu saja sama, mengintip pengalaman Serbia setelah ‘pergantian rezim’ atau pengalaman Afganistan, nantinya akan ada sejumlah bantuan keuangan yang dikawal oleh Bank Dunia. Hampir semua berujung pada nasib yang sama, bantuan keuangan itu akan menjerat si peminjam dalam upayanya untuk mengembalikan. Lama-kelamaan rezim pasar bebas akan mencengkram satu kawasan hingga semua bentuk program pembenahan sosial akan mengikuti skenario yang ditulis oleh Bank Dunia.

Perang yang memiliki motif ekonomi ini adalah perang kaum kapitalis yang hendak menumpas kekuasaan rakyat yang ingin menentukan pola perekonomianya sendiri. Bayangkanlah Irak, negeri yang berpenduduk 24 juta yang tak punya industri kuat, negeri yang pernah kalah perang, negeri yang tak bisa menolak rombongan PBB yang menggeladahnya dan negeri yang selama 13 tahun harus menghadapi embargo. Situasi yang juga pernah dialami oleh Afganistan, yang pernah mengalami hukuman embargo, yang digempur habis-habisan oleh pasukan Amerika dengan motif yang sama, perebutan kilang minyak. Amerika yang menghabiskan lebih dari US$ 60 milyar (Rp 500 triliun) untuk menyerang Irak tahu kalau Irak punya kandungan emas hitam-julukan untuk minyak bumi-yang jumlahnya sekitar 112 miliar barel dan cadangan yang ‘tak terduga’ mencapai 100 milliar barel. Motif perebutan minyak ini yang membikin Amerika menempatkan tokoh-tokoh bonenakanya dalam bisnis minyak. Motif ini kadang ditutup-tutupi dengan semangat memberantas terorisme atau menggulingkan pemerintahan otoriter atau menghapus persediaan senjata nuklir . Kedua negara ini dipimpin oleh penguasa-yang menurut penilaian Amerika-otoriter dan tidak demokratis. Tapi sesungguhnya mereka adalah penguasa yang tidak mau diajak untuk kolaborasi dengan Amerika dalam menjalankan sistem politik dan ekonomi liberal.

Pemerintahan Afganistan di bawah kepemimpinan Mullah Mohammad Ommar maupun Saddam Husein telah menggabungkan semangat agama, nasionalisme Arab dan sosialisme. Tiga pilar keyakinan yang menentang sistem keyakinan Amerika jelas amat membahayakan, apalagi keduanya, dengan mahir mendorong sentimen anti imperialisme dan kolonialisme Barat. Cita-cita Arab bersatu yang diikat oleh ajaran Islam ini menantang kekuatan kapitalisme yang selama ini dengan enteng memasuki wilayah Asia. Dengan cara penyebar-luasan gagasan ekonomi pasar bebas kemudian mendorong privatisasi sejumlah sektor-sektor penting sebenarnya Amerika beserta sekutunya hendak menegakkan bangunan ekonomi yang eksploitatif. Apalagi setelah Rusia dengan rezim komunismenya berantakan maka wilayah Asia Tengah yang kaya akan minyak menjadi ladang bisnis baru bagi semua sekutu kapitalisme. Bahkan jauh dari prakiraan Karl Marx sendiri, kapitalisme kini menggunakan senjata mesiu dan media, untuk mempropagandakan keyakinannya. Keyakinan itu tunggal yakni bagaimana rezim perdagangan International diakui oleh semua negara sekaligus diterapkan secara seragam di berbagai belahan dunia. Pengangung-agungan pasar bebas ini diawali dari sejarah panjang, dimana melalui pergulatan teoritis sekaligus peperangan panjang, ideologi ini muncul dengan segala kecacatannya. Menjadi mustahil menentang semua bentuk ketidak-adilan dunia tanpa memahami bagaimana beroperasinya mesin kapitalisme ini. Sebuah mesin yang meletakkan nilai manusia setara dengan sebuah peti kemas.

Ditulis dalam Terorisme | 1 Komentar »