aridhant harprys w.

\”..mencoba bukan lagi bagian persoalan melainkan penyelesaian..\”

Bencana Peradaban

Posted by dhant pada Mei 27, 2006

Sekali lagi bencana merenggut korban

Setelah Tsunami, Banjir, Longsor serta semua letusan

Perih hati melihat manusia bergelimpangan

Peristiwa memilukan, derita yang tak kunjung terbalaskan

 

Tuhan,

Apakah benar bencana adalah azab dari kenistaan kami serta cobaan tanpa henti

Apakah benar bangsa ini memang sudah lama berpaling darimu dan penuh dengki

Mengapa selalu korban terbanyak adalah kami yang tak berpunya dan merana

Mengapa selalu saja pihak yang disalahkan yakni rakyat yang tak bersalah maupun tak berdosa

 

Pemimpin,

Setelah kau ku pilih tak pernah lagi dirimu merealisasikan janji

Saat ku membutuhkanmu,kau tak pernah mau peduli

Ketika kami hanya berharap padamu, dirimu laksana besi jeruji

Kesangsian salah memilihmu hilang saat 5 tahun lagi kembali kau berlagak suci

 

Dewan,

Kalian berlagak sebagai penyelamat namun ternyata hewan

Kami kau wakili berlagak teman,ternyata untuk kolusi menikmati korupsi

Meski kami selalu kau selingkuhi dan sakiti,tak pernah sedikit pun berani kami melawan

Memaafkan diri kami sendiri salah mempercayai dianggap sebagai langkah terpuji

 

Peradilan,

Rasa cemas melihat berbagai kasus kau masukkan peti kemas

Tanpa sekalipun diriku melihat keadilan telah ditegakkan

Ragam kepalsuan kau pelihara tuk ditampilkan agar tampak sesuai arus

Tapi racun dari busuknya tubuh dan hatimu sangatlah mematikan

 

Preman,

Sudah kau tunjukkan bahwa kau memang berani dan memiliki nyali

Mewakili ikatan primordialis, agamis, seksis, rasis, dan memang fasis

Siapa saja yang memiliki nurani kau habisi dengan dalil illahi

Melindungi yang membeli, menjadi milisi maupun antek militerisi berlagak polisi

 

Pengamanan,

Diriku selalu ingin bertanya pada dirimu yang tegap dan bersenjata lengkap

Kegiatan bisnis, berpolitik, membuat konflik serta melanggar HAM, apakah dianggap sebagai peran?

Darimu,aku menduga banyak darah tumpah dalam sejarah yang tak terungkap

Kendati kerap saja kalian menganggap berasal dari rakyat dan menghabisi dengan interpretasi dari manifestasi Tuhan yang akhirnya menjadi nama jalan!

 

Agamawan,

Kalian hamba Tuhan yang disegani juga hormati, ucapanmu kami patuhi tapi dalam tindakan, kami ludahi lagi itu pasti

Kau kumpulan kaum merpati yang suka berceramah memakai kitab suci, tak jarang justru menakuti, landasan peduli pada kami

Tentunya merasa ikut memecahkan masalah dengan tampil di tivi lalu menikmati materi layaknya selebriti

Tetapi suka mendekatkan diri dengan penguasa serta jadi alat pelegitimasi

 

Pemodal Global, bukan berarti tanpa akhiran -an,

Tiada pernah ku duga badanmu begitu menggurita

Tak juga menyangka tentakelmu mampu menghisap inti relung jiwa manusia

Seluruh budaya dan nafas alam ini telah kau rasuki gayamu melalui setumpuk rekayasa nilai-nilai

Semua kehidupan sudah kau kuasai hingga kami pun seakan tak ada pilihan selain mempercayai

 

Teman,

Apakah memang hidup ini tidak adil sekali dan penuh kreasi basi?

Apakah keserakahan dan nafsu amarah menjadi prioritas tertinggi?

Mengapa penghisapan, penindasan dan eksploitasi dianggap ekspresi manusiawi?

Mengapa akhirnya kami hanya menjadi kuli di negeri sendiri?

 

Kawan,

Bangsa ini katanya sabar walau menderita penyakit sektarian yang parah dan kronis

Nusantara ini sumber dayanya kau biarkan dirampas tanpa kompensasi dan sudah mulai habis

Keberagaman kami ditelan sadis budaya dari kapitalis dan telah terkikis

Kebersamaan maupun toleransi, wujud solidaritas sesama manusia tak lagi digubris oleh ciri individualistis, kami pun akhirnya hanya menjadi pengemis

 

Dari kami:

Hewan laksana setan yang tak berperasaan lagi

Nurani bahkan hasrat birahi tak lagi dimiliki

Beribu kekurangan maupun keterbatasan berupa kesalahan bukanlah penyesalan, itulah kami

Mendobrak belenggu tuk berpikir dan bertindak bebas, logis, kritis selama masih berpijak di bumi

 

Bukan berarti:

Satu-satunya jalan karena alunan kalimat berirama ini pun semata-mata hanyalah salah satu pilihan!

Meski tak mampu berdamai dengan sejarah, selama bisa diperbaiki tak kenal menyerah adalah beradab

Hanya memperkaya perspektif tuk dunia yang lebih baik nan indah bagi anak cucu serta masa depan

Saat negara mencoba melupakan hitamnya kelam dengan menghindari tanggung jawab, itulah biadab!

 

 

Surabaya, 25 mei 2006

 

Aridhant Harprys W.

Posted in Puisi Negeri | 11 Comments »

 
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.